AKANKAH GOLKAR DAPAT ISLAH

Dua kubu kepengurusan partai Golkar hingga saat ini masihbelum jelas nasibnya, dan masing masing tetap mengklaim paling benar dan sesuai dengan Ad Art partai.  Sangat jelas bahwa pemerintah dalam hal ini menteri Hukum dan hak asasi manusia  belum mengesahkan  salah satu diantaranya, dan meminta agar golkar melakukan islah atau menentukan sendiri nasibnya, sehingga kalau sudah satu baru akan disahkan oleh pemerintah.  Namun keputusan untuk tidak mengesahkan salah satunya tersebut dinilai berbeda oleh masing masing,  ada yang menilainya sebagai main api da nada yang menilainya wajar dan adil.

Tetapi  begaimanapun juga Golkar tetap membutuhkan pengesahan dari pemerintah sehingga posisinya jelas dan dapat menjalankan fungsinya sebagai partai politik yang mempunyai hak hak tertentu, seeprti mengikuti pilkada dan lainnya.  Tentu dalam hubungannya dengan masalah ini mereka akan kesulitan untuk mengajukan calon, karena KPU tentu tidak akan menerima kader Golkar yang diajukan selama partainya belum mendapatkan pengakuan dan pengesahan Dari pemerintah.

Karena itulah kata islah kemudian menjadi  penting untuk dilakukan.  Hanya saja  rasa pesimistis senantiasa menggelayuti partai beringain tersebut, karena masing masing kubu menganggap merekalah yang paling sah dan sesuai dengan aturan main yang ada.  Islah dapat disetujui kalau  pihak lain bergabung dan diakomodasi dalam pengurus.  Kubu lainnya juga  berpendapat seprti itu,  sehingga secara lahir islah tersebut tidak akan pernah terwujud.

Syarat lainnya yang diajukan oleh  masing masing kubu juga sangat berat untuk dilakukan, semisal kubu Ical tetap menginginkan Golkar ada di KMP sementara itu kubu Agung mensyaratkan untuk membubarkan KMP.  Kubu Ical juga tetap ingin berada di luar pemerintahan,  sedangkan kubu Agung ingin tetap berada dalam pemerintahan, apalagi wapresnya juga seorang kader Golkar.  Demikian juga dengan syarat lainnya seperti mendukung pemerintahan yang sah dan lainnya.

Sementara itu ada pihak lain dalam Golkar yang menamakan dirinya sebagai golongan putih yang dulunya bersikap netral, yang juga terus menyuarakan islah dengan cara dilakukan  munas  rekonsiliasi dan dimuali dari awal.  Artinya kedua kepengurusan hasil munas Bali dan Jakarta dianggap tidak ada dan kemudian dilakukan munas  lagi untuk menyatukan seluruh kekuatan Golkar yang selama ini berbeda.  Pertanyaannya ialah apakah mungkin munas seperti itu dilakukan, karena tentu  kedua kubu tentu tidak akan mau melakukannya.

Bahkan kubu Golkar putih dituduh  hanya untuk mendapatkan jabatan saja, karena tidak terakomodasi di dua kepengurusan yang ada.  Tentu dengan tuduhan tersebut mereka merasa marah dan kemudian membela diri dengan melakukan serangan balik kepada kubui yang menyerangnya terlebih dahulu.  Nah, kalau sudah seperti itu, rasanya mustakhil Golkar akan utuh dan kembali  menyatukan langkahnya  dala menyongsong masa depan yang lebih baik.

Hal mengejutkan bagi  Golkar ialah  hasil survey yang menyatakan bahwa kepercayaan kepada partai Golkar hanya tinggal sekitar 8 % saja, sehingga kalau pemilu dilaksanakan saat ini maka Golkar hanya  akan menjadi partai gurem.  Namun hasil survey tersebut juga dituduh sebagai hasil pesanan, sehingga mereka pada umumnya menganggap remeh hasil penelitian tersebut, dan tetap optimistis bahwa Golkar tetap akan  dipercaya oleh masyarakat.

Sebagai orang luar yang melihat kiprah partai ini semnjak zaman orde baru, kita menjadi sangat berharap bahwa partai ini  akan dapat menyelesaikan  persoalan dirinya sendiri dalam waktu yang tidak tertalu lama, karean semakin lama persoalan ini bergulir, maka semakin  hilang kepercayaan masyarakat kep[adanya.  Pada akhirnya partai ini nantinya  hanya  meratapi nasibnya yang bunting.  Padahal banyak kader potensial ada di dalamnya yang kelau diberdayakan secara baik, akan memberikan kontribusi besar bagi terbangunnya bangsa dan Negara kita ini.

Tetapi terkadang kita juga menjadi jengkel dengan kelakuan sebagian politisinya yang terus menerus membuat ulah  dan tidak memikirkan masyarakat secara umum.  Artinya ada sebagian kadernya yang selalu ingin membuat sensasi melalui menuver yang selalu dicari, sehingga mengundang pertanyaan dan  ras ingin tahu  masyarakat.  Ternyata sensasi tersebut hanya murahan dan sama sekali tidak terkait dengan perjuangan untuk nasib rakyat, melaionkan hanya  ingin dilihat sebagai sebuah hal yang mendapatkan perhatian banyak orang semata.

Apalagi kalau sudah terkait dengan persoalan korupsi, pada kader yang ada biasanya  selalu berklit dengan dalih yang dicari cari.  Namun dengan  kepintaran KPK merka semua pada akhirnya tidak dapat berkutik dan berkelit lagi.  Lebih disayangkan lagi ialah ketika mereka sudah selesai menjalani hukuman, seolah mereka sama sekali tidak berdosa dan tetap menganggap diri mereka sebagai orang terhormat dan meminta hak haknya sebagai warga Negara  yang baik.

Partai Golkar sesungguhnya  sudah mendapatkan momentumnya pada saat reformasi bergulir, yakni  sebagai partai yang meskiopun digugat oleh banyak aktivis, tetapi masih ettap disukai oleh masyarakat.  Upaya mereka yang  memisahkan diri dari keterkaitannya dengan orde Baru  lambat laun mendapatkan kepercayaan masyarakt, meskipun belum seluruhnya.  Tetapi ketika  sebagian kadernya melakukan hal hal sebagaimana telah pernah dilakukan ole horde baru, maka pendangan masyarakat menjadi kembali lagi seperti semula.

Walaupun demikian sesungguhnya Golkar masih memiliki segmen masayrakat tersendiri.  Hal tersebut dibuktikan dengan kepercayaan sebagian masyarakat yang tetap memilih golkar sebagai pilihan mereka.  Hanya saja kelau kemudian kepercayaan tersebut kemudian disobek sobek oleh para elitnya, tentu kesabaran masyarakat akan habis dan  mereka kemudian akan mengalihkan pilihannya kepada partai lain atau bahkan mungkin akan golput.  Kalau hal tersebut menjadi kenyataan, maka yang akan merasakan kerugian tentu golkar sendiri dan bangsa secara  umumnya.

Kita mengakui bahwa partai golkar meskipun tidak memenangi pemilu legislative, tetapi tetaplah menjadi partai besar dan selalu diperhitungkan oleh partai lainnya.  Kalau para elitnya cerdas dalam memanfaatkan peluang yang ada, sesungguhnya tidak terlalu sulit untuk emndapatkan  bagian dari kekuasaan yang ada.   Toh semua orang tahu bahwa partai politik itu identic dengan pencarian kekuasaan.  Namun rupanya  saat pemilu kemarin para elinya terlalu berkeras untuk menjaga egonya sendiri, sehingga menyeret golkar pada posisi yang sulit seeprti saat ini.

Meskipun demikian  sesungguhnya masih dapat diselamatkan dengan catatan para elitnya harus menyadari betapa pentingnya kebersamaan.  Tetapi kalau semua masih memikirkan ego masing masing, sudah barang pasti mereka akan tetap pecah dan suliot untuk membangun kembali kejayaan mereka seperti masa yang lalu.  Artinya  para pimpinan kedua kubu harus rela untuk melepaskan jabatan masing masing guna kejayaan partai secara umum.  Biarkan  kad lain yang akan maju dan memimpin partai ini, asalkan parta dapat disatukan dan  dibesarkan secara bersma sama.

Jalan satu satunya untuk utuh dan tidak terbelah ialagh islah dan bukan diselesaikan melalui pengadilan.  Kita tahu bahwa kalau diselesaikan melalui pengadilan, memang secara formal akan selesai, tetapi tetap aka nada luka dalam yang terus menggelayuti partai berlambang beringin tersebut.  Akan ettapi memang islah tersebut memerlukan pengorbanan, terutama dari  dua ketua umum hasil munas yang berbeda, sebab tanpa itu mustakhil islah akan didapatkan. Renungkan itu.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.