BERTAWAKKAL PENUH KEPADA TUHAN

Tidak seluruh keinginan manusia akan dipenuhi oleh Allah swt, tetapi ada kalanya justru manusia itu diuji dengan digagalkan sementara keingiannya tersebut, meskipun secara logika manusia mengira akan dengan mudah mendapatkan dan mewujudkan keinginannya tersebut.  Kenapa Tuhan berbuat seperti itu, semuanya  hanya Tuhan yang mengetahuinya dan amnusia hanya dapat menebak saja.  Tebakan manudia tersebut terkadang benar dan terkadang salah.  Nah, dalam ksus sepertyi itu tebakan kebanyakan manusia yang mau menganalisis ialah bahwa Tuhan ingin memberikan ujian kepada manusia mengenai sejauh mana manusia tersebut dapat menyadari keterbatasannya atau tidak.

Barangkali tebakan seperti itu ada benarnya, kaena memang Tuhan sering memberikan pelajaran m kepada umat manusia, dengan tujuan agar  manusia mampu menyadari keberadaannya dan sekaligus mengakui akan Kemaha Kekuasaan Tuhan.  Keputusan tersebut sesungguhnya merupakan bentuk kasih dan sayang Tuhan kepada manusia, yakni manusia tidak dibiarkan terus dalam kesalahan yang diperbuatnya. Hanya saja terkadang manusia salah penilaian dan mengangap kalau sedang diberika ujian oleh Tuhan berarti Tuhan tidak sayang kepadanya.

Manusia memang sering lupa dan  tidak mampu mencerna  keputusan yang diberikan oleh Tuhan.  Untuk itu para ulama sudah memberikan  semacam resep bahwa  dalam kondisi apapun, seharusnya manusia banyak mengungkapkan kesyukuran kepada Tuhan, karena sesungguhnya apapun yang manusia alami di dunia ini adalah sebuah anugrah yang sengaja diberikan oleh Tuhan untuk kebaikan manusia, termasuk misalnya sedang diberi musibah dan sejenisnya.

Memang  bagi kebanyakan manusia akan sangat sulit menerima kenyataan bahwa musibah dan kesuitan itu harus dianggap sebagai sebuah nikmat, dan hanya mereka yang sudah berada dalam posisi khusus sajalah yang mampu melakukannya.  Namun sesunguhnya kita  dapat memulainya dengan mencari hikmah ada setiap kejadian yang kita alami, termasuk saat kita mendapat ujian.  Kita harus yakin bahwa di balik ujian tersebut pasti ada himah besar yang terkandung di dalamnya, dan kalau kemudian kita renungkan dengan cermat, maka hikmah tersebut sungguh sangat berguna dan manfaat bagi kita.

Salah satu hal yang hingga saat ini masih dipercaya oleh kebanyakan umat kmanusia ialah bahgaimana Tuhan menurunkan banyak penyakit dan musibah pada  bulan Muharam seperti saat ini, meskipun hal tersebut sama sekali tidak berdasar dan bahkan akan sangat rawan bagi ketauhidan kita. Artinya dengan kepercayaan seperti itu akan meungkinkan  manusia akan menjadi was was  sertidaknya selama dalam satu bulan, dan kemudian mengakibatkan  tidak dapat berbuat apa apa.

Bahkan kekhawatiran tersebut akan membawa manusia  menjadi lebih tidak percaya dir dan bahkan juga bersuudzdzan kepada Allah swt.  Bagaimana tidak, kalau setiap harinya selama  bulan tersebut manusia terus menerus dirundung kekhawatiran akan mendapatkan musibah.  Bisa bisa justru dengan sikap seperti itu justru akan merugikan diri swendiri dan juga benar benar akan mendapatkan musibah yang dikhawatirkan tersebut.  Ahka hanya untuk pergi jauh sedikit untuk keperluan yang memang menjadi kewajibannya saja dipanuhi dengan rasa was was.

Seharusnya  menurut tuntunan agama kita, kita hanya percaya kepada Tuhan semata, karena semuanya yang mengatur dan menentukan ialah Allah swt dan bukan yang lain.  Artinya  tuntunan Islam sangat jelas bahwa setiap kita aka melangkahkan kaki untuk melakukan apapun, tentu kita harus memasrahkan diri kepada Tuhan atau ertawakal secara penuh, lalu dibarengi dengan usaha secara sungguh sungguh untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuan dan juga  berhati hati agar tidak mendapatkan kesulitan dan kecelakaan misalnya.

Demikian juga saat kita ingin mengerjakan sesuatu seharusnya tidak boleh ada rasa was was dalam diri kita, dan kita pasrahkan sepenuhnya hanya kepada Tuhan, tetapi tetap disertai dengan usaha keras untuk menyelesaikan dan mendapatkannya.  Itulah  yang kemudian kita kenal dengan istilah  usaha dan doa yang harus dibersmakan.  Usaha yang kita lakukan adalah sebagai ikhtiyar untuk mendapatkan sesuatu yang ita harapkan, sedangkan doa ialah pengkuan ita bahwa semuanya akan ditentkan oleh Tuhan, karena itu kita harus bermohon kepada Tuhan untuk mewujudkan harapan kita tersebut.

Pendeknya semua yang   kita kerjakan, termasuk pada bulan Muharram ini harus kita pasrahkan sepnuhnya kepada Tuhan dengan diiringi usaha keras untuk meraihnya dan sekaligus berhati hati agar tidak terpeleset dan mendapatkan kesulitan.  Jadi kalaupun kita melakukan hajatan di bulan ini, kita tidak perlu khawatir dengan tahayul yang menakut nakuti kita, karena kekuatan Tuhan  itu tidak ada yang mengalahkannya.

Bahkan saat kita sedang pergi dan meninggalkan rumah kita, kita juga harus percaya  bahwa Tuhan akan menjaga rumah kita, asalkan kita tetap berusaha untuk menjaganya, seperti  semua pintu dan jendela harus dikunci, dan memastikan bahwa semua  kondisi dalam keadaan  baik dan juga menitipkan  kepada tetangga terdekat untuk ikut mengawasi kondisi rumahnya dan lainnya.  Artinya meskipun kita sudah memasrahkan semuanya kepada Tuhan , bukan berarti kita tidak ada usaha sama sekali, karena Tuhan hanya akan memutuskan sesuai dengan kehendak dan  usaha manusia itu sendiri.

Seperti halnya juga bagi mereka yang sedang mengadu nasibnya untuk megikuti tes atau ujian  ertentu, semisal ujian menjadi pegawai negeri sipil atau  siswa dan mahasiswa yang sedang mengikuti ujian, tetaplah harus memasrahkan hasilnya kepada Tuhan melalui panitia, guru dan dosen yang menilainya.  Artinya  semuanya harus berusaha dengan kesungguhan dan melaksanakan ujian tersebut dengan  baik, kemudian baru memasrahkan seagala sesuatunya kepada Allah swt.  Dengan begitu apapun hasil yang didapatkannya akan  dapat disikapi dengan  ikhlas dan tidak berusaha mencari kesalahan pihak lain atau mencari kambing hitam.

Justru kalau misalnya belum dapat berhasil, akan semakin menambah gairah untuk mempersiapkan lagi dengan lebih baik.  Karena  dengan pemasrahan tersebut kita dapat belajar banyak dari  realitas kehidupan yang sedang kita jalani.  Bahkan  kalau mungkin kita kemudian  akan memperoleh kesimpulan bahwa memang Tuhan tidak menghendaki bahwa kita  menjadi PNS atau lulus  pada saat itu.  Hikmah tersebut  justru akan semakin membuat kita lebih krestif dalam membaca relitas dan kemudian menentukan dengan langkah tegap untuk meraih sesuatu yang lain yang mungkin lebih bagus.

Kita memang harus berhusnudzdazan kepada Tuhan bahwa keputusan apapun yang diberikan untuk kita, pasti ada manfaat yang dapat kita peroleh, karena kita tidak tahu  dibalik semua yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.  Boleh jadi kita meganggap bahwa keputusan Tuhan tersebut jelek bagi kita, tetapi sesungguhnya hal tersebut jsutru lebih baik dan paling pas untu kita terima.  Penilaian kita  selalu saja  hanya didasari leh kepentingan sesaat dan pertimbangan untung rugi dalam pandangan lahir, padahal di balim itu justru ada sesuatu yang jauh lebih baik.

Cara membaca kondisi yang sealinya itulah yang selalu dilakukan oleh para ulama tempo dulu.  Mereka bukannya bahagia saat pergantian tahun misalnya, karena dapat bertemu dengan tahun baru, tetapi mereka justru bersedih karena memikirkan bahwa usianya sudah berkurang dan bukannya bertamba, padahal mereka masih menganggap dirinya kurang dalam berbuat kebajikan.  Demikian uga setelah menyelesaikan puasa Ramadlan misalnya, kebanyakan manusia sagat bahagia karena telah lulus dan menyelesaikan  kewajiban,  teta[i mereka justru sangat bersedih karena kehilangan lahan untuk berinvestasi ibadah yang sangat banyak.

Hal terpenting bagi kita saat ini ialah bagaimana kita dapat melakukan tawakkal kepada Allah swt dengan kesungguhan dan benar benar tulus dalam semua hal yang kita putuskan atau lakukan.  Tawakkal tersebut sesungguhnya merupaka ukuan  ketulusan dan ketauhidan kita, apakah memang benar benar kita sudah layak disebut sebagai orang baik dan bijak ataukah sebaiknya, yakni belum seperti itu.  Wallahu a’lam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.