KISRUH KISRUH DAN KISRUH

Kemelut yang terjadi di partai persatuan pembangunan seolah tidak kunjung selesai, padahal sudah dimulai sejak  waktu sebelum pelaksanaan pilpres, bahkan sangat mungkin  virusnya sudah ada semenjak jauh sebelumnya.  Penyebab utamanya  ialah kepentingan yang berbeda beda diantara para kader dan pengurus, dan setiap saat mereka saling mencari simpati dan pengaruh serta peluang untuk saling menjatuhkan lawannya.  Tentu hal tersebut tidak menampak ke permukaan, karena  secara tegas mereka  selalu memproklamirkan diri sebagai partai Islam dan merupakan rumah besar bagi umat Islam.

Kita juga tidak tahu penyebab sesungguhnya terhadap perpecahan yang terjadi, boleh jadi memang perebutan pengaruh dan keinginan  beberapa pihak untuk segera menduduki jabatan strategis, baik di partai maupun di Senayan.  Nah, momentumnya kemudian terjadi dan dianggap sangat tepat saat ketua umumnya Surya Dharma Ali secara sepihak tanpa melalui mekanisme partai kemudian  ikut dalam kampanye Gerindra saat pileg yang lalu.  Bahkan tidak hanya hadir dalam kampanye partai lain, tetapi juga sekaligus ikuit berpidato serta memuji Prabowo Subiyanto yang akan mencalonkan diri sebagai calon presiden.

Saat itulah kemudian eberapa petinggi partai berlambang ka’bah tersebut pecah dan berusaha untuk memakzulkan ketua umumnya dengan alasan telah keluar dari garis partai.  Namun  atas desakan dan saran ketua majlis syariah KH Maemun Zubair, mereka dapat didamaikan, meskipun banyak pihak yang meragukan islah tersebut.  Hanya semata meghormati kepada sesepuh partailah, kemudian di permukaan seolah memang terjadi islah, padahal masih saja terjadi friksi di dalamnya.  Sampai akhirnya ketua umum yang uga  menteri agama tersebut ditetapkan sebagai tersangka persoalan haji oleh KPK.

Meskipun tidak seketika, tetapi perkahan tetapi pasti para pihak yang belum benar benar islah tersebut kemudian  bersepakat untuk mendepat ketua umumnya dan menggantikannya dengan plt Imron Pangkapi.  Tidak mau kalah pengaruh dengan  kelompok tersebut SDA juga kemudian memecat sejumlah petinggi partai dan mengangkat pengurus baru serta melakukan konsolidasi ke daerah daerah.  Bahkan  sekeretaris jenderal yang dipecat oleh SDA Romahurmuzi kemudian melaporkan SDA ke polisi dengan tuduhan perusakan kantor.

Pihak pengurus Imron Poangkapi kemudian bergerak cepat dengan mendaftarkan kepengurusan baru tersebut ke kementerian hukum dan HAM, tetapi tidak serta merta mendapatkan pengesahan, karena pihak SDA juga  sama sama mengajukan kepengurusan baru hasil pembentukan baru.  Dan sambil menunggu verivikasi oleh keenkumham tersebut masing masing  pihak berusaha melakukan penguatan.  SDA bersfari ke daerah daerah untuk konsolidasi, mewskipun tetap mendapatkan gangguan dari pihak pengurus Imron Pangkapi.

Memang sejenak  mereka berdua   dapat bersama sama saat menghadapi  sidang paripurna DPR untuk mengesahkan RUU Pilkada, karena mereka sama sama  mempunyai kepentingan yang kebetulan sama, tetapi  setelah itu mereka tampak bersitegang kembali.  Hal tersebut terlihat dengan dibubarkannya acara yang digagas oleh kelompok SDA di Makasar oleh kader yang pro Imron Pangkapi.  Kita tidak tahu apa jadinya nanti partai Islam tersebut, karena  hampir keseluruhan  hari harinya selalu dipenuhi dengan konflik internal.

Sebagai bagian dari  rakyat Indonesia yang memang suka damai, kita terus berharap bahwa partai politik di Indonesia akan semakin dewasa dalam menjalani  kehidupan berbangsa dan bernegara, dan bukan malahan memberikan contoh yang tidak bagus bagi rakyat, yakni dengan mempertontonkan permusuhan yang  sesungguhnya sangat dujauhi oleh Islam.  Partai Islam yang mengaku bahwa dirinya adalah rumah besar umat Islam seharusnya tidak terjebak dalam konflik yang terus menerus seperti saat ini.

Bahkan lebih jauh kita berharap kepeda semua partai politik yang memenuhi ambang batas di parlemen, untuk tetap bersatu dalam tujuan, yakni membangun bangsa  dan berusaha  dengan sungguh sungguh kesejahteraan masyarakat.  Artinya yang kalah dalam sebuah pemilihan, termasuk pemilihan presiden, seharusnya  melupakan kekalahan dan  bersatu untuk membangun negara dan bangsa  agar kedepannya menjadi lebih baik.  Jangan sampai ada yang belum dapat menrima kekalahan dan terus berusaha untuk mengganggu  yang menang dengan berbagai cara.

Seharusnya semua politisi bersikap  sebagai negarawan dan  lebih mementingkan  rakyat dan negara  ketimbang mementingkan diri dan golongan serta selalu memelihara dendam atas kekalahan.  Karena itu akan membuat negara kita  akan semakin terpuruk dan rakyat semakin berat dalam menjalani hidup.  Ingatlah bahwa  posisi dalam partai politik tidak akan selalu langgeng, bahkan setiap lima tahun akan berganti dan sudah banyak pengalaman yang sangat menyakitkan bahwa setelah lengser dari pimpinan, kemudian malah sama sekali tidak dianggap atau bahkan tidak dihormati oleh kadernya sendiri.

Semua itu  adalah buah dari sikap dan perilaku saat berkuasa.  Main pecat terhadap kader dan berusaha untuk merebut kekuasaan atau ingin melanggengkan kekuasaan dengan cara cara yang tidak lazim, juga merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan seseorang mendapatkan hukuman dan karma dalam karir politiknya.  Kalau kita  mengaku sebagai seorang demokrat sejati, apapun partainya, seharusnya dapat menrima perbedaan, karena  perbedaan tersebut adalah sesuatu yang niscaya.

Nah, kalau kemudian saat berkuasa tidak mau ada seorangpun yang berbeda pendapat dengannya, maka sesugguhnya hal tersebut merupakan sebuah kemunduran dalam berdemokrasi.  Memang banyak dikaakan bahwa demokrasi bukanlah tujuan, melainkan hanya alat untuk mencapai tujuan. Tetapi kita harus ingat bahwa terkadang  alat itu lebih penting ketimbang tujuannya itu sendiri, karena dengan alat yang benar dan lurus akan dapat diraih cita cita yang ditetapkan atau yang diinginkan.

Bahkan tujuan terkadang akan semakin jauh dari jangkauan kalau jalannya atau alatnya tidak bagus.  Kita sesunguhnya sudah sepakat untuk berdemokrasi secara penuh dan menjadikan rakat sebagai pemegang keuasaan penuh.  Namun kalau kemudian disepakati untuk diubah tentu tidak ada persoalan, tetapi sayangnya  perubahan yang dilakukan tersebut tidak  disepakati oleh rakyat sebagai pemegang kedaulatan, sehingga pasti  terjadi kesenjangan dan persoalan yang  pasti akan mengganggu jalan mencapai tujuan utama, yakni mensejahterakan rakyat.

Kondisi seperti itulah saat ini yang terjadi di tubuh beberapa partai politik, meskipun ada yang  dapat menyimpannya seolah tidak ada kobaran api di dalamnya, tetapi ada juga yang tidak bisa ditutup sehingga  api tersebut tampak sangat jelas terus berkobar. Artinya banyak “permusuhan” antara kader dan pimpinan partai politik.  Akibatnya mereka yang mempuntay pandangan yang berbeda dengan pimpinan dianca dan bahkan sudah dijatuhi hukuman, yakni dipecat dengan tidak hormat.  Namun sayangnya kalau yang berbeda pandangan tersebut  adalah orang kuat dan mempunyai pengaruh besar, pimpinan partai tidak berani memecatnya dan  diam saja seolah tidak ada apa apa.

Kesimpulannya ialah bahwa keberadaan partai politik di negeri ini sesunggunya masih rapuh dan belum dibangun atas dasar azas yang benar benar kuat, sehingga kalaupun ada perbedaan hanya diinternal semata dan  banguna partai masih sangat kokoh.  Kaena itu kirta  melihat betapa mudahnya  politisi yang berubah haluan hanya  semata mata kepentingan kelompok dan bukan kepentingan rakyat, bahkan seringkali justru mengorbarkan kepentingan rakyat itu sendiri.

Partai politik di negri ini saat ini selalu diributkan dengan kekisruhan yang tidak dapat diredam di tingkat internal dan  seolah sengaja dipamerkan kepada rakyat.  Inilah kiranya yang harus segera diperbaiki agar  pengelolaan negara  dan bangsa akan dapat lebih bagus dan mendapatkan kesuksesan yang dapat dirasakan oleh rakyat secara langsung. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.