MEMBODOHI RAKYAT

Seringkali para tokoh mengemandangkan agar  rakyat dicerahkan dengan berbagai informasi nyang mendidik, sehingga mereka lambat laun akan mampu bangkit dari keterprukan dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi dan persoalan azasi yang seharusnya mereka miliki.  Tetapi  masyarakat kita rupanya sudah kadung terlalu banyak dibodohi atau dibohongi, sehingga  seolah anjuran tersebut hanyalah sebuah angin lalu saja.  Artinya dari sisi masyarakat sudah tidak terlalu banyak berharap kepada para pemimpin dan tokoh yang ada untuk membuat perubahan yang berarti bagi mereka.

Banyak jani yang diumbar dan juga nasehat yang disampaikan, sama sekali tidak berpengaruh bagi masyarakat. Artinta masyarakat sudah tidak lagi mengharapkan sesuatu yang para pemimpin dan tokoh sampaikan atau janjikan, sebabnya kalau pun masyarakat mengharapkannya, sudah pasti aan menemukan kekecewaan.  Karena itu sejak awal mereka sama sekali tidak menggubris janji dan apapun yang disampaikan oleh para tokoh dan pemimpin tersebut.

Dengan kondisi seperti itu ita kemudian menjadi bingung untuk menyimpulkan bahwa siapakah sesungguhnya yang  bodoh atau siapapkah sesungguhnya yang pntar diantara para pemimpin dan masyarakat?.  Jawaban sederhana yang dapat muncul, pasti akan mengatakan bahwa para tokoh dan pemimpin tersebutlah yang lebih pintar dan dengan kepintaran mereka itu kemudian mereka membodohi masyarakat.  Tetapi  melihat dari perilaku  masing masing pada saat ini, justru kita akan dapaat berkesimpulan bahwa masyarakat sesungguhnya lebih pntar ketimbang para tokoh dan pemimpin tersebut, tentu bukan keseluruhan.

Banyak contoh yang dapat diketengahkan, seperti ketika para elit politik menggugat hasil pemilu presiden beberapa waktu yang lalu, dimana mereka  tampak sangat bodoh, karena mencari cari alasan yang tidak masuk akal, bahkan sampai sampai mereka harus menjadikan fitnah sebagai salah satu hal yang diangkat, termasuk untuk memenangkan calon yang diusung.  Semenara masyarakat  sudah  selesai menggunakan hak mereka dan mereka  tampak sangat cerdas yakni dengan menunggu apapun yang menjadi keputusan rakyat Indonesia.

Contoh lainnya ialah begitu  kalah dalam pilpres, para elit yang tidak mau kalah kemudian berusaha untuk melakukan sesuatu  yang akan memungkinkan mereka tetap berkuasa dalam beberapa segmen, seeprti kemudian merombak UU tentang MD3 yang tidak lagi memberikan pimpinan Dewan kepada partai pemenang pemilu seperti pada  era sebelumnya.  Mereka sangat percaya diri bahwa dengan kong kalikong yang akan dilakukan untuk menentukan pimpinan dewan, mereka akan menguasainya, dan partai emenang pemilu akan gigit jari, bahkan untuk sekedar wakil pimpinan pun mereka tidak akan mendapatkannya.

Masyarakat melihat ini  merupakan sebuah persekongkolan yang sangat jelas, karena latar belakangnya juga sangat jeas, tetapi para politisi yang bersekongkol tersebu tetap saja membuat argumentasi untuk meyakinkan masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan ialah untuk kebaikan dan demi demokrasi.  Ini sungguh menggelikan, karena rakyat sesungguhnya sudah sangat poaham dengan manuver yang dilakukan tersebut dan tetap masih dianggap sebagai pihak yang mudah dibodohi,padahal mereka sendirilah yang sesungguhnya bodoh, karena tidak mampu melihat kenyataan d masyarakat.

Contoh yang lebih gres ialah ketika  pengesahan RUU pilkada yang akhirnya  diputuskan lewat voting.  Mereka yang tergabung dalam koalisi merah putih selalu berangapan bahwa  pilkada lewat DPRD akan mengurangi tingkat korupsi dan itu yang lebih sesuai dengan dasar kia Pancasila.  Tetapi lagi lagi mereka seolah ingi membodohi masyarakat dengan persoalan demokrasi dan tentang dasar negara, padahal masyarakat  sangtat cerdas dan  tidak bisa dibodohi oleh mereka.

Alasan mereka mngubah pilkada  dari langsung kepada lewat DPRD lagi lagi diasari ole kenyataan bahwa koalisi merah putih dengan bagi bagi kekuasaan melalui kong kalikong akan dapar menyabet seluruh gubernur, bupati dan wali kota se Indonesia, terkecuali hanya di Bali dan Kalimantan Barat.  Munculnya keinginan untuk mengubah pilkada langsung menjadi lewat DPRD juga sangat jelas setelah mereka kalah dalam pilpres dan bukan  ada rencana jangka panjang yang mengevaluasi secara jenih kondisi pilkada langsung.

Namun sekali lagi mereka berusaha membodohi masyarakat dengan menyusun argumentasi yang sesungguhnya juga sangat mudah dibaca dan sanat dipaksakan.  Persoalannya bukan pada   sah atau tidaknya hal hal yang mereka putuskan, karena  saat ini  parlement memang dikuasai oleh mereka, sedangkan persoalan persoalan tersebut memang harus dibahas dan disahkan oelh dewan, sehingga apapun yang dihasilkan tersebut secara prosedural memang sah, meskipun bertentangan dengan  keinginan mayoritas masyarakat, dan walaupun merea semua sebagai wakil masyarakat.

Sementara  itu partai Demokrat sebagai partai pemanang pemilu 2009 dan saat masih menduduki mayoritas di dewan juga melakuka pembodohan kepada masyarakat, karena  mereka merasa seolah pitar dan menganggap masyarakat adalah bodoh.  Hal tersebut sangat tampak dari alasan yang digunakan untuk membenarkan tindakan walkout para sidanag pasripurna  beberapa hari yang lalu.  Mereka karena didesak oleh masyarakat untuk mendukung pilkada secara langsung kemudian  mengatakan bahwa mereka meilih pilkada langsung tetapi dengan 10 syarat yang harus dipenuhi.

Artinya kalau 10 syarat tersebut tdak dipenuhi maka mereka tidak akan mau, karena syarat tersebut adalah untu perbaikan.  Nampaknya  alasan tersebut bagus, tetapi karena  rakyat sangat cerdas, maka mereka akan mampu membaca bahwa sesungguhnya PD yang memang  sejak lama bersama dengan koalisi merah putih sudah setuju dengan pilkada lewaqt DPRD, etap dalam posisi seperti itu, hanya kemudian untuk mendapatkan simpati pubik yang menginginkan pilkada langsung, maka seolah mereka  mendukung pilada langsung.

Hanya saja semua orang juga tahu bahwa kalau PD bergabung dengan mereka yang menginginkan pilkada langsung, maka akan memenangkan pertarungan, dan sebaliknya kalau tanpa PD pasti pilkada langsung akan gagal.  Untuk itulah kemudian disusun strategi untuk tetap memenangkan pilkada tidak langsung, tetapi seolah mendukung pilkada langwsung dengaqn menyampaikan 10 syarat yang menjadi harga mati tersebut. Nah, kalau kemudian  mereka melalukan walkout, maka sudah diperkirakan bahwa  pilkada tidak langsung akan memanangkan voting, dan PD kemudian  menghindar yakni dengan melakukan walkout.

Mereka berangapan bahwa masyarakat akan memahami tindakan mereka dan membenarkannya, karena syarat yang mereka tawarkan tidak diterima.  Ternyata dengan erpkiraan tersebut mereka sesungguhnya bodoh, karena masyarakat tidak mungkin dapat diyakinkan bahwa tindakan walkout tersebut bagus dan netral.  Itu hanya  tindakan manuver untuk tetap mendukung pilkada tidak langsung, tetapi seolah tetap mendukung pilkada langsung.  Masyarakat tidak bodoh dan karena itu tidak mudah untuk dibodohi.

Itu semua  dalam konteks politik praktis, dan  saat ini  secara umum dapat dikatakan bahwa kesimpulan yang  ada menunjukkan bahwa  masyarakat ternyata lebih pintar ketimbang para pemimpin dan tokoh atau politisi kita.  Nah, pada aspek selain politik praktis, ternyata juga  sama, yakni banyak diantara para tokoh yang justru menganggap dan membodohi umat yang dianggap memang masih bodoh, padahal justru para tokoh tersebutlah yang sesungguhnya tampak bodohnya.

Sangat banyak contoh yang dapat dikemukakan, termasuk didalamnya ialah dalam bidang agama.  Ini sungguh sangat memprihatinkan, karena  seharusnya para tokoh memberikan keteladanan dalam hal kebaikan, bukan menyembunyikan kebaikan ntuk keuntungan pribadi.  Semoga  semua itu akan segera berakhir karena masyarakat sudah sangat bosan dengan semua hal yang disampaikan kepada mereka dengan mengangap mereka bodoh.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.