TENTANG HAJI AKBAR

Masyarakat muslim banyak yang meyakini bahwa haji akbar itu ialah haji yang wukufnya jatuh pada hari Jumat, sebagaimana dahulu dilaksanakan oleh nabi Muhammad saw, dan juga akan dilakukan oleh umat muslim pada tahun ini.  Pengetahuan dan keyakinan yang demikian  telah membuat niat dan semangat umat dalam menjalani ibadah haji tersebut menjadi semakin besar dan kuat.  Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang kemudian rela untuk membayar cukup mahal kepada biro trevel yang menyediakan  kursi untuk haji plus tahun ini.

Memang tidak salah kalau umat muslim meyakini bahwa  haji akbar itu  pahalanya jauh lebih besar dibandingkan dengan haji yang wukufnya tidak pada hari Jumat, karena banyak ulama yang menyebutkan hal tersebut.  Namun sesungguhnya ada pemehaman yang lain yang menyatakan bahwa haji akbar itu ialah haji yang ada wukufnya, sementara yang disebut haji kecil itu ya sama dengan umrah.  Karena itu semua haji disebut dengan haji akbar dan tidak khusus hanya haji yang wukufnya  pada hari Jumat.

Namun demikian keyakinan umat  memang sulit untuk dihapuskan dan diganti dengan keyakinan lainnya, meskipun keyakinan tersebut bukan termasuk hal yang mutlak, seperti kebaradaan Allah swt dan kerasulan Muhammad saw.  Meskipun tidak sama persis ada juga keyakinan yang sudah dibentuk oleh umat, karena memang disampaikan oleh ulama dari masa ke masa, yakni bahwa haji itu identic dengan Arafah, yakni wukuf pada tanggal 9 Dzul Hijjah di padang Arafah.  Hal tersebut  mengacu kepada sebuah hadis Nabi Muhammad saw  bahwa hajji itu ya Arafah.

Karena itu kalau kemudian muncul pemahaman lainnya tentang  waktu hajji tersebut, yakni bahwa haji itu sesungguhnya tidak hanya  satu hari saja, yakni  tanggal 9 Dzul hijjah, melainkan  terbentang pada beberapa bulan, sebagaimana  yang disampaikan oleh Allah swt dalam al-Quran bahwa haji itu beberapa bulan yang sudah dikenal, yakni bulan Syawwal, Dzul Qaidah dan Dzul Hijjah, maka pemahaman yang demikian akan sangat sulit diterima oleh umat dan juga para ulama yang ada.

Memang seharusnya pemikiran dan pemahaman terhadap teks al-Quran maupun hadis dapat disempurnakan dengan  lebih mencermatinya kermbali melalui berbagai macam metode yang ada maupun yang terus diusahakan dimunculkan.  Artinya kalau  kita angkat kasus pelaksanaan ibadah haji tersebut, ialah bahwa al-Quran menginformasikan tentang pelaksanaan haji yang untuk beberapa bulan yang sudah dikenal, namun kenapa harus dimaknai hanya pada tanggal 9 Dzul Hijjah saja?  Tentu ini perlu mendapatkan pem,bahasan oleh umat Islam, tidak dengan serta merta menolak dengan tanpa mau mengerti pikiran lainnya.

Kembali pada persoalan haji Akbar tersebut,  sampai saat ini memang mayoritas umat meyakininya demikian dan akan sangat sulit untuk dilakukan sebuah perubahan terhadap pemahaman dan pemikiran tersebut, meskipun penjelasan tentang persoalan tersebut sudah banyak disampaikan oleh para ahli.  Sesungguhnya ada pertanyaan mendasar yang  perlu diketengahkan dalam persoalan ini, yakni  dari mana  pemikiran dan pemahaman tentang haji Akbar tersebut didapatkan, apakah pernah ditemukan bahwa nabi Muhammad saw pernah melakukan haji yang wukufnya tidak pada hari Jumat atau hanya didasarkan kepada  pernyataan al-Quran ayat awal pada surat al-Baraah tentang adanya haji Akbar, atau yang lainnya.

Padahal kita semua tahu dan meyakini bahwa  nabi Muhammad saw hanya sekali melaksanakan haji dan kebetulan wukufnya memang pada hari Jumat, karena itu tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa  haji yang wukufnya  selain hari Jumat sebagai haji kecil.  Kita memang dapat menrima bahwa hari Jumat itu merupakan hari baik, tetapi bukan berarti kelau selain hari Jumat itu tidak baik, sehingga kalau  wukuf pada hari Jumat dikatakan sebagai haji Akbar  dan kalau bukan hari Jumat maka hajinya dikatakan sebagai haji kecil.

Secara rasional pendapat dan pendangan yang menyatakan bahwa seluruh haji yang  dilaksanakan dan sebagaimana kita kenal saat ini yakni haji yang ada wukufnya itu merupakan haji Akbar, dapat diterima, karena  didasarkan atas banyak  argumentasi.  Kenapa dianggap sebagai haji akbar,  disebabkan ada bentuk ibadah yang mirip dengan amalan haji tersebut, minus wukuf di Arafat, mabit, dan  lempar jamarat, yakni yang bernama ibadah  Umrah.  Nah, ibadah itulah yang kemudian  dianggap sebagai haji kecil karena tidak  harus dilaksanakan pada waktu tertentu dan juga tidak harus berwukuf di Arafah.

Sementara itu bagi yang menganggap bahwa  haji akbar tersebut  hanya  haji yang wukufnya  jatuh pada hari Jumat dan selainnya  dinamakan haji kecil, tentu tidak imbang.  Artinya kenapa disebut haji kecil padahal kegiatan dan amaliyahnya sama, dan hanya harinya saja yang berbeda kemudian  dianggap berbeda.  Tentu  ini dapat menimbulkan banyak pertanyaan berikutnya, karena kewajiban melaksanakan haji itu hanya sekali dalam seumur manusia.  Nah pertanyaan yang akan muncul kalau kebetulan haji yang dilaksanakan oleh seseorang itu  bukan haji  dengan wukuf  di hari Jumat, maka apakah seseorang masih  harus nambeli lagi dengan haji lainnya.

Tentu hal tersebut akan menimbulkan persoalan.  Memang kalau yang disebut haji kecil tersebut ialah ibadah umrah, tentu sangat wajar dan rasional bahwa beberapa kali ibadah umrah itu dapat dihitung seperti ibadah haji, dan tentu tidak dapat diterima akal kalau beberapa haji yang wukufnya tidak Jumat kemudian disamakan dengan haji sekali yang wukufnya tepat hari Jumat.  Namun demikian ini hanyalah pendapat yang terkait dengan sebuah kepercayaan dan pemahaman, karena  itu tidak perlu dimuculkan secara lebih demonstrative, yang hanya akan membuat bingung masyarakat.

Hal terpenting bagi Jemaah haji ialah bagaimana mereka dapat secara maksimal melaksanakan  amalan yang menjadi rukun, wajib dan juga Sunnah Sunnah haji.  Dengan keikhlasan yang maksimal dalam menjalankan ibadah tersebut, diharapkan akan mampu menjdikan seseorang tersebut menjadi mabrur dan  hijrah dari hal hal yang kurang maksimal menjadi  maksimal.  Dengan demikian pada saat mereka pulang ke kampong halaman masing masing akan menjadi teladan bagi umatnya  dalam arti yang luas, yakni   mereka akan semakin baik,  dermawan, peduli dan memberikanmanfaat bagi masyarakat dan lingkungannya.

Tentu kita tidak berharap bahwa  mereka yang haji, terutama mereka yang  menganggap mendapatkan haji Akbar, justru malah tidak menjadi mabrur.  Karena kalau hal tersebut yang terjadi, maka haji akbar yang diklaim tersebut sama sekali tidak memberikan manfaat baginya, dan bahkan mungkin justru akan semakin membuat seseorang tersebut terlarut dalam kesombongan yang dibangun dengan  haji akbar tersebut.

Jadi kesimpulannya ialah jangan sampai kita terlalu membicarakan peroalan hajki tersebut dari sisi akbar dan tidaknya, merlainkan bagaimana  ibadah haji tersebut dapat dijalankan secara  tertib dan sempurna sehingga pada saatnya akan mampu mengantar para pelaksananya menjadi mabrur dan memberikan manfaat besar bagi masyarkat dan lingkungannya.  Kita doakan agar mereka yang sedang menjalankan haji mendapatkan kemudahan, kesehatan dan kesempurnaan dalam melaksanakan  manasiknya dan pada akhirnya mereka akan mendapatkan haji yang mabrur. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.