AL-GHASYIYAH

Surat ini merupakan surat yang ke 88 dan hanya terdiri atas 26 ayat saja.  Surat ini termasuk golongan surat Makkiyyah, dan menurut riwayat yang shahih, surat ini selalu dibaca oleh nabi Muhammad saw dalam rakaat kedua  dalam shalat Idul fithri dan Idul Adlha dan juga shalat Jumat.  Nama surat ini diambil dari ayat pertamanya yakni al-Ghasyiyah yang berarti sesuatu yang sangat dahsyat, dan di sini kemudian dimaknai dengan hari kiamat dan pembalasan.  Secara umum sebagaimana surat Makkiyyah, surat ini juga membicarakan persoalan akhirat dan ancaman adzab bagi mereka yang kafir.

Pada awalnya surat ini  menjelaskan kondisi di akhirat, dimana ada orang yang tampak sangat menderita, kelelahan yang amat, dan terlalu kerja keras serta lunglai.  Mereka harus memasuki  kobaran api yang sangat menyala luar biasa dengan segala kehinaan.  Di sana mereka  juga tidak mendapatkan minuman, terkecuali hanya minuman yang mendidih, dan tidak pula mendapatkan makanan, kecuali makanan  dari pohon berduri dan tidak dapat mengenyangkan.  Artinya kondisi mereka sungguh sangat berat dan sengsara, dan terus dipenuhi dengan siksaan.

Surat ini juga memberikan informasi kondisi yang sebaliknya, yakni kondisi umat beriman yang sangat  riang serta menikmati segala hal yang tersedia.  Mereka  menempati tempat yang sangat bagus dengan segala macam peralatan, seperti gelas m,inuman yang sangat cantik.  Mereka  sangat puas dengan minuman yang tersedia dan juga makanan yang sangat lezat.  Segala macam peralatan, baik  untuk makan dan minum maupun untuk alas tidur sungguh sangat menakjubkan.

Bahkan di dalam surge tersebut sama sekali tidak terdengan suara yang  tidak enak atau hal hal yang sama sekali tidak berguna.  Semua yang ada di dalamnya  sangat indah dan memuaskan siapapun yang  menikmatinya.  Itulah gambaran mereka yang nanti  pada  saat hari pembalasan akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan amalannya  di dunia.  Artinya bagi merka yang kafir dan menetang  ajaran nabi Muihammad saw dan juga ajaran para utusan Tuhan lainnya, pasti akan  mendapatkan kondisi sebagaimana orang pertama tersebut, yakni sangat menderita dan masuk ke dalam api yang menyala nyala.

Sebaliknya bagi mereka yang beriman dan  tetap dalam keimanan mereka meskipun ada godaan  yang selalu mengajak mereka berbuat maksiat, serta mereka terus konsisten dalam menjalankan syariat serta tulus menjalaninya, tentu akan mendapatkan balasan sebagaiman orang kedua yang digambarkan tersebut, yakni menempati tempat yang sangat indah dan menyenangkan.  Di dalam tempat tersebut mereka mendapatkan  kenikmatan yang tidka pernah putus.  Tempat tersebut disebut dengan surge atau Jannah.

Surat ini juga  berisi ajakan  kepada seluruh umat untuk memikirkan betapa hebat  ciptaan Tuhan yang telah diwujudkan dalam  seluruh ciptaan-Nya.  Bahkan  semua alam semesta beserta isinya kita diharapkan mampu  memikirkannya, karena dengan memikirkan hal tersebut kita akan mendapatkan hikmah yang sangat banyak, dan salah satunya ialah kesadaran penuh akan kemaha kuasaan Tuhan dan kelemahan kita umat manusia.  Artinya dengan memikirkan ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa, kita akan semakin yakin bahwa  Allah lah Tuhan yang  benar dan harus ditempatkan sebagai Tuhan dan bukan yang lainnya.

Tuhan menganjurkan kepada manusia untuk memikirkan bagaimana hewan, khususnya unta diciptakan, bagaimana langit  ditinggikan, bagaimana gunung ditancapkan dan bagaimana pula bumi dihamparkan.  Nah, beberapa contoh yang disebutkan dalam surat ini, yakni  hewan unta, langit, gunung dan bumi tersebut memberikan  sebuah penekanan tersendiri kepada kita agar benar benar dipikirkan.

Unta misalnya bagaimana dia diciptakan dengan segala keunikannya, dan demikian juga dengan hewan yang lain yang masing masing tentu mempunyai hikmah tersendiri.  Langit juga demikian, bagaimana langit yang di atas tersebut tanpa tiang, tetapi dapat kokoh dan tidak runtuh sehingga membahayakan manusia dan seluruh isi bumi.  Demikian juga dengan gunung yang tertanap dengan kokohnya sebagai pasak bumi dan sekaligus  sebagai tanda  kebesaran Tuhan.  Kita tentu tahu bahwa sebagian diantara gunung gunung, ada yang berapi da nada yang tidak, dan semuanya mempunyai keunikan sendiri sendiri.

Kita juga diingatkan oleh Tuhan untuk memikirkan bagaimana bumi dibentangkan sebagai hamparan yang demikian luas.  Semuanya diperuntukkan bagi umat manusia, karena dari bumi tersebut akan  dapat tumbuh tanaman yang  dapat dijadikan makanan oleh manusia dan sebagainya.  Karena itu seharusnya manusia dapat mengolah semua ciptaan Tuhan tersebut sebagai sesuatu yang memberikan manfaat bagi manusia, dan bukan sebalinya dirusak atau dibiarkan sehingga justru akan memberikan bahaya bagi manusia.

Semua ciptaan Tuhan yang kita diminta memikirkannya tersebut sesungguhnya merupakan ciptaan yang memungkinkan  untuk kita kelola menjadi  bagus dan bermanfaat bagi kita, tetapi juga dapat menjadi sesuatu yang membahayakan.  Semua tergantung sikap kita dan cara kita berhubungan dengan ciptaan Tuhan tersebut.  Artinya kalau kita tidak mampu berkomunikasi dan memperlakukan ciptaan Tuhan tersebut dengan baik, sudah barang pasti ciptaan Tuhan tersebut akan berbalik membahayakan dan bahkan dapat menyengsarakan kita, tetapi kalau kita mampu mengelolanya dengan baik, maka justru akan memberikan keuntungan yang besar bagi kita.

Nah, surat ini sekali lagi memberikan penegasan   bahwa nabi Muhammad saw bukanlah sebagai orang yang berkuasa atas  beriman atau tidaknya seseorang, tetapi beliau hanyalah sebagai pemberi  peringatan semata.  Sebagai pemberi peringatan tentu beliau tidak bertanggung jawab atas keimanan seseorang, melainkan hanya semata memberikan petunjuk tentang kebaikan dan kejahatan, dan kebenaran dan kebatilan.  Beliau akan memberitahukan kepada umat manusia bahwa siapapun yang melakukan hal hal  baik, nantinya akan mendapatkan balasan surge di akhirat, dan bagi yang melakukan kejahatan, pasti akan  mendapatkan neraka.

Kalaupun nabi Muhammad saw sangat berharap bahwa  seseorang akan  masuk surge dengan melakukan amalan baik, tetapi kalau memang  orang tersebut tidak mau, maka nabi sama sekali tidak  dapat memaksanya.  Nabi pun juga tidak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan, karena tugas Nabi memang hanya menyampaikan peringatan semata.  Yang terpenting ialah bahwa  Nabi telah menyampaikan risalahnya kepada seluruh umat manusia, sedngkan persoalan mereka  kemudian mau mengikutinya atau tidak itu bukan menjadi tuigas Nabi lagi.

Sehingga dengan demikian semua persoalan termasuk masalah beriman atu ingkar, berada di luar tugas nabi Muhammad saw.  Tentu nabi bukan saja  sekedar menyampaikan, melainkan Nabi juga selalu berusah agar dakwahnya disahuti dengan positif oleh  para pendengarnya.  Tentu Nabi juga sangat ingin bahwa semua manusia akan mau mengikuti jalan kebenaran yang sangat terang benderang tersebut.  Namun sebagaimana diketahui bahwa  diantara umat manusia ada saja yang  berwatak menentang terhadap semua hal yang baru, meskipun sesuatu tersebut  jells kebenarannya.

Nah, agar nabi Muhammad saw  tidak terlalu  bersedih karena  ada sebagian manusia yang tidak mau  beriman dan bahkan mementangnya, maka, penegasan Tuhan bahwa tugas Nabi hanyalah sebagai penyampai peringatan dan tidak mempunyai kuasa untuk memberikan  hidayah kepada seseorang.  Dengan pernyataan tegas tersebut, Nabi kemudian dapat merasa lega, meskipun dalam hatinya tentu tetap berharap akan banyak manusia yang  mendaptkan hidayah atau mau mengikuti ajaran yang disampaikannya.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.