AL-A’LA

Surat ini merupakan surat yang ke 87 dan merupakan  salah satu surat Makkiyyah.  Jumlah ayatnya juga hanya 19, namun demikian mengandung makna yang cukup dalam dan luas.  Nama surat ini diambil dari ayat pertama yakni al-A’la yang berarti yang paling tinggi.  Hal ini untuk memberikan sifat kepada Allah swt yang memang Maha Tinggi.  Surat ini menurut riwayat dari beberapa imam hadis terkemuka, biasa dibaca oleh Nabi Muhammad saw pada saat  shalat Id, baik idul fithri maupun Idul Adlha dan juga pada   shalat Jumat, yaitu pada rakaat yang pertama.

Secara umum surat ini berisikan perintah kepada umat manusia untuk selalu bertasbih dengan menyebut nama Tuhan. Kemudian juga  menjelaskan tentang nabi Muhammad saw yang tidak akan lpa terhadap al-Quran yang telah dibacakan kepadanya.  Demikian juga surat ini menjelaskan tentang penciptaan manusia dan menyempurnakannya, serta menetukan kadar kadarnya serta juga memberikan petunjuk dan melengkapi dengan keerluannya sehingga manusia akan dapat mencapai tujuannya.   Hal yang penting dalam surat ini ialah bagaimana Tuhan manusia  sebagai makhluk yang diberikan jalan untuk meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Surat ini diawali dengan pernyataan mengenai kemaha sucian Allah yang  Juga Maha paling Tinggi dan sekaligus Maha  Mencipta segala sesuatu, termasuk manusia, langit dan bumi serta seluruh isinya.  Lalu tidak cukup anya menciptakan segala sesuatu saja, melainkan juga menyempurnakannya  sedemikian rupa sehingga menjadi bentuk yang sangat bagus.  Manusia, misalnya meskipun  diciptakan dari air mani yang memancar, tertapi kemudian dijadikannya sebagai bentuk yang paling sempurna.  Demikian juga dengan makhluk Tuhan yang lain.

Tuhan juga  sekaligus memberikan kadar kadarnya terhadap semua ciptaan-Nya tersebut.  Artinya ada  kadar yang diberikan sehingga  bentuk serta jenis ciptaan tersebut menjadi sangat abgus.  Disamping itu Tuhan juga memberikan ketentuan ketentuan terhadap ciptaan tersebut, seprti umurnya,  nasibnya dan beberapa ketentua lainnya.

Hanya saja dalam menyipaki persoalan ketentuan atau takdir tersebut, manusia berbeda menjelaskannya, karena ada sebagian manusia yang memaknai secara harfiayh, sehingga justru aan membuat manusia lemah dan bahkan terkadang malahan menyerah sebelum melakukan sesuatu.  Tentu sikap tersebut tidak dapat dibenarkan.  Namun ada yang menyikapinya dengan bijak, yakni tetap meyakini atas ketentuan tersebut, Cuma  caranya berbeda, yakni manusa akan benar benar meyakini ketentuan tersebut, apabila sudah terjadi.

Hal tersebut sekaligus akan menjadikan manusia  dapat menerima apapun keputusan Tuhan dengan ikhlas dan sekaligus juga tidak menyerah sebelum terjadi.  Artinya manusia harus terus berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai pihak yang mendapatkan segala sesuatu yang berupa karunia dari Allah swt, dengan cara terus berusaha mendapatkannya melalui jalan yang tidak dilarang.  Namun  apabila usahanya tersebut belum berhasil, dia tidak akan pernah berputus asa.  Inilah sikap yang seharusnya dikembangkan dalam menghadapi  persoalan takdir tersebut.

Surat ini juga menegaskan bahwa al-Quran yang disampaikan dan dibaakan kepada Nabi Muhammad saw tidak akan dilupakan oleh Nabi, erkecuali memang dikeendaki oleh Tuhan.  Namun Tuhan tidak menghendaki nabi lupa  terhadap al-Quran untuk selalu dibaca dan diajarkan kepada umat manusia.  Bhkan Tuhan  akan senentiasa menjaganya hinga akhir masa nanti.  Karena itu kita  sangat yakin bahwa al-Quran yang kita  dapati saat ini memag benar benar murni dan tidak ada satu ayatpun yang dilupakan atau terlupakan.

Tentu Tuhan banyak cara untuk tetap menjaga kemurnian al-Quran tersebut, misalnya melalui para hamba-Nya yang hafal a-Quran, dan melalui para ulama yang selalu mengkaji  dan memperhatikannya.  Tuhan  Maha  Mengetahui segala sesuatu, baik yang sangat jelas maupun yang tersembunyi.  Kita sangat yakinbahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lepas dari pengetahuan Tuhan, karena semuanya sudah tercatat di Lauh al-Mahfudh.

Pernyataan bahwa Allah itu mengetahui segala sesuai, termasuk yang tersembunyibagi manusia tersebut ialah  dalam upaya agar manusia menyadari bahwa  tidak ada jalan keluar untuk enyembunyikan diri dari Tuhan.  Jadi jangan mencoba untuk melakukan kemaksiatan, karena pasti Tuhan akan mengetahui dan mencatat serta nantinya akan memberikan balasan yang setimpal.

Surat ini juga menjelaskan mengenai pemberian taufiq dan jalan yang jelas  bagi umat manusia  untuk mendapatkan kebahagiaannya di dunia dan juga di akhirat.  Siapapun manusia yang mau mengikuti jalan tersebut niscaya akan mendapatkan kemudahan dan mendapatkan kebahagiaan, tetap sebaliknya siapapun yang tidak mau mengikuti jala tersebut,  bahkan malah mencari jalan sendiri, maka mereka tidak akan menemukan jalan mudah tersebut dan sekaligus nantinya akan menemukan kesulitan dalam hidupnya.

Jalan tersebut ialah  syariat yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, baik dalam  mencari dunia maupun mencari akhirat.  Artinya kalau kita ingin mendapatkan kemudahan dalam meraih kebahagiaan, maka kita harus mengikuti cara yang ditunjukkan oleh Nabi, dan bukan menentangnya.  Ada banyak umat manusia yang salah persepsi dalam persoalan ini, misalnya dengan mengatakan bahwa Nabi itu hanya  memberikan petunjuk persoalan akhirat semata, sedagkan untuk dunia tidak perlu mengikutinya.

Padahal kita semua tahu bahwa kalau kita berniaga dengan mengikuti cara yang diajarkan oleh Tuhan melelui Nabi, tentu akan sangat menguntungkan dan mudah.  Hanya saja biasanya manusia  terkesia dengan apa yang dilihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan,  padahal sesungguhnya hal tersebut justru sebaliknya.  Manusia  menjadi kikir saat mempunyai sedikit harta dan sama sekali tidak mau berbagi dengan yang lain.  Itulah ketidak taatan manusia kepada ajaran yang dibawa oleh Nabi.

Karena itu surat ini kemudisna menegaskan kepada Nabi Muhammad saw agar memberikan peringatan kepada manusia  terhadap persoala tersebut.  Tuhan juga mengingatkan kepada nabi bahwa tugas utama Nabi memang hanya menyampaikan dan memberikan peringatan saja dan tidak menentukan sesuatu.  Tetapi hanya orang orang yang beriman dan tulus sajalah yang akan mampu menyerap peringatan tesebut.  Selebihnya bagi mereka yang ingkar dan durhaka, tentu akan selalu menentang da tidak akan mampu mendapatkan peringatan tersebut.

Artinya bagi mereka yang ingkar dan durhaka tersebut  tidak akan mendapatkan petunjuk dan mereka akan berada di dalam neraka yang penuh dengan  nyala api yang sangat besar.  Mereka ters disiksa di sana dan mereka tidak akan mati dan juga tidak hidup.  Itulah gambaran siksaan di dalam neraka, seolah tidak mati dan jga tidak hidup,karena merasakan bnetapa pedihnya siksaan tersebut.

Tentu bagi mereka yang menyucikan dirinya dengan beriman kepada Tuhan dan menjalankan kebajikan akan mendapatkan  kebahagiaan dan  keberuntungan.  Mereka  itu selalu menjalankan shalat dengan benar dan menjaganya sedemikian rupa, sehingga tidak pernah megabaikannya.  Mereka sangat menyadari bahwa shalat itu merupakan amalan yang akan dapat mempengaruhi amalan lainnya.  Artinya kalau shalat mereka bagus secara otomatis  amalan lainnya uga akan menjadi bagus.

Sayangnya  para umat kafir tersebut lebih mementingkan persoala dunia, padahal akhirat itu lebih abus dan lebih kekal.  Informasi seperti itu sesunguhnya sudah dijelaskan pada kiab kitab sebelum al-Quran, seperti pada suhuf Ibrahim dan suhuf Musa.  Hanya saja  mereka  tidak mau memperhatikan dan mempedulikannya, sehingga merka tersesat dan  nantinya akan mendapatkan keculitan di akhirat.  Semoga kita yang hidup saat ini dapat meyimpulkan  dan mengambil pelajaran  dari persoalan ini, sehingga ita  akan mempersiapkan diri untuk kebahagiaan di dua tempat yakni di dunia dan sekaligus di akhirat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.