AL-THARIQ

Surat ini menjadi surat yang ke 86 dari keseluruhan surat al-Quran yang berjumlah 114.  Jumlah ayatnya hany terdiri atas 17 saja dan merupakan surat yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad saw berhijrahnke Madinah, sehingga dinamakan dengan Makkiyyah. Penamaan surat ini sendiri diambil dari ayat pertama, yang berrarti yang datang di malam hari.  Secara umum surat ini  memuat  hal hal penting terkait dengan manusia, mulai  dengan proses kejadiannya, dan lebih lebih  mengenai  penjaga atau pengawas yang selalu akan mencatat seluruh aktifitasnya.  Demikian juga tentang kekuasaan Allah untuk mengembalikan manusia tersebut, dan berisi pula mengenai penegasa tentang kebenaran al-Qran.

Permulaan surat ini memang menegaskan bahwa  setiap manusia itu sudah pasti ada penjaganya.  Pwernyataan Tuhan mengenai hal tersebut dinyatakan dengan sumpah atas makhluk-Nya, yakni langit dan juga yang datang  pada malam hari, yakni bintang  yang cahayanya menembus.  Sumpah tersebut semata mata untuk memberikan penekanan kepada siapapun yang membaca dan mendengarnya bahwa manusia itu memang benar benar tidak lepas dan bebas tanpa ada  yang menjaga dan mencatat peruatannya.  Jadi dengan pernyataan tersebut seharusnya manusia menjadi sadara dan selalu akan berusaha  melakukan sesuatu yang bermanfaat, dan bukan sebaliknya sesuatu yang merugikan pihak lain.

Selanjutnya surat ini mengingatkan kepada seluruh manusia tentang asal kejadiannya sendiri, apapun kedudukan dan  status manusia saat ini, harus ingat bahwa dia itu berasal dari sperma yang memancar dan bahkan  biasanya dianggap hina oleh banyak orang.  Lalu berproses sebagaimana ditentukan oleh Tuhan hingga menjadi manusia yang berbentuk dan kemudian lahir ke dunia dengan segala kelemahan yang dimiliki.  Artinya setelah manusia lahir ke dunia, ia tidak akan mampu melakukan apapun tanpa bantuan orang lain.

Untuk sekedar makan dan minum saja, dia harus menunggu bantuan orang lain, apalagi harus berjalan atau  menginginkan sesuatu.  Baru lambat laun dengan bertambahnya usia, manusia tersebut pada ahirnya  menjadi dewasa dan melakukan berbagai aktifitas serta memikirkan  sesuatu.  Nah, kalau proses kejadiannya tersebut selalu diingat, diharapkan  manusia tidak akan berbuat sombong dan melupakan statusnya yang selalu tergantung kepada pihak lain.

Namun pada kenyataannya, banyak manusia yang  sama sekali lupa terhadap persoalan kejadiannya tersebut, sehingga kemudian seolah dia hidup dengan sendirinya, dan  tega melakukan hal hal yang merugkan pihak lain, bahkan mengeksploitasi mausia lain untuk kepentingan dirnya sendiri.  Manusia yang kemudian diberikan banyak harta oleh Tuhan,  biasanya lupa terhadap  asal usulnya sendiri dan karena itu kemudian dia  mampu dan tega melakukan hal hal buruk dan membahayakan pihak lain.  Semua itu dilakukan  atas ddasar kekuasaan yang seolah menjadi miliknya sendiri. Padahal Tuhanlah yang memberikan dan menitipkan sebagian kekuasaan tersebut.

Karena itulah Allah swt kemudian menyatakan bahwa  atas kekuasaan Tuhan menciptakan manusia dari tanah dan dari air mani tersebut, tentu Tuhan juga berkuasa pula untuk mengemalikan manusia  setelah mereka mati.  Artinya Tuhan memberikan peringatan kepada seluruh manusia bahwa pada saatnya nanti seluruh manusia yang sudah mati semenjak awal hingga terjadinya kiamat nanti, akan dibangkitkan kembali dalam rangka mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan yang dlakukannya di dunia.

Jadi tidak ada seorang manusia pun yang dapat lolos dari persoalan ini.  Artinya tidak ada seorang manusia yang tidak dibangkitkan dari kematiannya, yakni pada hari dimana  akan disampaikan seluruh rahasia, karena hal tersebut  merupakan keputusan Tuhan.  Dikatakan seluruh rahasia ditampakkan, karena memang tidak ada sesuatu apapun yang dapat disembunyikan oleh manusia, terutama perbuatan jahatnya. Peringatan tersebut seharusnya juga  menjadikan manusia menyadari bahwa  semua perbuatan yang dikerjalannya pasti akan menuai balasan, dan karena itu mereka akan berusaha melakukan perbuatan yang baik, bukan yang buruk dan merugikan pihak lain.

Pada saat manusia dibangkitkan kembali dan dibuka seluruh  lembaran hidupnya, maka tidak ada seorang pun yang mampu menutupi kejahatan dirinya dan sekaligus tidak ada  pihak manapun yang akan mampu menolong dari kemungkinan  adzab yang akan diterimanya sebagai balasan.  Intinya saat itu seluruh manusia barulah mengakui kekuasaan Allah yang demikian hebat yang saat di dunia  selalu didustaka oleh manusia.

Surat ini juga sekaligus  menegaskan bahwa al-Quran yang diturunkan oleh Allah  kepada nabi Muhammad saw melalui Jibril itu benar benar  sebuah kita yang seluruh isinya  adalah kebenaran dan membedakan antara yang benar dan yang batil.  Cara penyampaian tersebut juiga dilakukan dengan sumpah atas makhluk-Nya, yakni dengan menyebut langit yang mengandung hujan dan bumi yang mempunyai tumbuh tumbuhan, baru kemudian Tuhan menegaskan bahwa al-Quran itu memang  merupakan pembeda.

Bahkan kalau kita jeli maka sumpah Tuhan tersebut sesungguhnya juga mengandung makna yang sangat luas, yakni saat Tuhan menyebut langit yang mengandung hujan.  Secara ilmiah diketahui bahwa hujan itu  berasal dari air di bumi yang kemudian menjadi uap yang naik ke atas, dan lalu pada saatnya turun lagi menjadi hujan dan begitu seterusnya, sehingga  bukan dari langitlah hujan tersebut, dan karena itu Tuhan menyebut langit yang mengandung hjan, karena memang  secara lahir hujan tersebut turun dari langit, meskipun asalnya dari bumi juga.

Demikian juga dengan bumi yang mempunai tumbuh tumbuhan yang  pada saatnya juga akan memberikan manfaat bagi umat manusia, seperti seluruh makanan yang menjadi andalan manusia juga  dari tetumbuhan yang ada di bumi.  Ini juga engingatkan kepada manusia agar selalu mengigatnya dan kemudian diikuti oleh sebuah pengakuan atas kekuasaan Tuhan, dan pada saatnya akan terus bersyukur kepada-Nya.

Penekanan bahwa al-Quran tersebut  merupakan kebenaran dan sekali kali bukanlah sebuah mainan dan senda gurau, disampaikan disebabkan   pada awal diturnkannya saja sudah ada pihak yang mendustakanya, padahal kebenarannya sangat jelas.  Kaum kafir yang memang sudah antipati dengan nabi Muhammad saw  tentulah  tidak menggunakan hati nurani dan akal pikiran yang jernih, melainkan hanya didasarkan atas ketidak sukaan saja, karena mereka meganggap lebih ungul dan mulia.  Jadi keengganan mereka untuk mengakui kebenaran yang dibawa oleh  nabi Muhammad saw bukan didasarkan atas  pertimbangan bahwa ajaran Nabi tersebut tidak rasonal dan tidak benar, tetapi semata mata  didasarkan atas kesombongan belaka.

Ditegaskan oleh Tuhan bahwa meeskipun para kaum kafir tersebut selalu membuat rekayasa dan tipu daya yang sangat jelas, tetapi Tuhan juga melakukan hal yang sama, sehingga tipu daya kaum kafir tesebut sama sekali tidak ada artinya bagi nabi Muhammad saw dan kaum mukmin.  Artinya  bukan berarti Tuhan  berbuat jahat dengan membuat tipu daya, tetapi hanya untuk memberikan  peringatan saja kepada mereka yang inkar bahwa tipu daya mereka itu sama sekali tidak ada pengaruhnya bagi Tuhan.

Bahkan pada akhirnya Tuhan juga  meyampaikan dengan nada mengancam, yakni  mereka disuruh menunggu saja pada saat yang pasti akan datang.  Artinya kalau memang para kaum kafir tersebut merasa hebat an tidka mau menerima al-Quran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw, maka  cukuplah katakan tunggulah pada saatnya nanti, pasti mereka akan membuktikannya.

Sebagaimana biasanya  surat surat yang diturunkan  sebelum berhijrah,  lebih banyak berkaitan dengan persoalan keimanan dan  peringatan Tuhan  akan balasan di akhirat yang manusia tidak akan mampu mengelak.  Harapannya mereka  mampu berpikir dan kemudian melakukan usaha kebajikan sehingga mereka tidak akan rugi saat di akhirat nanti.  Beruntunglah manusia yang  saat ini  mempercayai kebenaran tersebut dan berusaha melakukan  kebajikan serta majauh dari kemaksiatan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.