JANGAN BOROS

Sudah banyak ajakan yang disampaikan oleh banyak pihak agar kita tidak boros, karena  perbuatan boros tersebut bukan saja akan merugikan dirinya sendiri, melainkan juga akan merugikan pihak lain.  Bahkan ajakan untuk tidak boros tersebut menjadi perhatian ajaran agama kita, dan  mentamsilkan bahwa boros itu merupakan perbuatan setan.  Namun rupanya ajakan untuk berhemat tersebut belum sepenuhnya diindahkan oleh kebanyakan masyarakat.   Buktinya ialah banyaknya pemborosan yang mereka lakukan, baik dalam rumah tangga mereka maupun di luar rumah.

Kita tentu akan dapat melihat betapa banyaknya lampu yang menggunakan listrik di jalan jalan yang begitu semarak, bahkan terkadang sampai siang hari tidak mati.  Padahal kita tahu bahwa listrik tersebut disubsidi oleh negara.  Bahkan lebih tragis lagi lampu yang ada dijalanan tersebut tidak menggunakan meteran, alias los strum, sehingga dalam hal tersebut negara haarus menanggung seluruh biayanya.  Pantas saja kalau kemudian PLN selalu mengeluh rugi dalam operasionalnya.

Demikian juga  ketika tidak hemat dalam penggunaaan listri di rumah tangga, semua lampu menyala, AC juga terus dinyalakan, televisi dan alat elektronik lainnya juga tidak pernah mati.  Nah, meskipun  pembiayaannya ditanggung oleh pemiliknya, tetapi kita harus ingat bahwa listrik tersebut masih disubsidi oleh negara, sehingga pemerintah  atau negara juga masih tetap menanggungnya.

Demikian juga halnya dengan penghematan  air yang terkadang kita masih menyaksikan betapa borosnya  orang dalam menggunakan air.  Memang seolah air tu datang sendiri dan tidak usah mengusahakannya, dan kalaupun  air tersebut harus membeli dari PDAM atau lainnya, tetapi dengan berlaku boros tersebut, pada saatnya  akan terjadilah kekurangan air dan yang merasakan akibatnya adalah seluruh masyarakat.  Seharusnya dalam masa kemarau seperti saat ini  dapat menjadi pelajaran yang sangat bagus bagi masyarakat untuk berhemat dalam menggunakan air.

Kita tentu melihat dan tahu bahwa sebagian diantara saudara kita disebagian daerah sudah sangat kesulitan mendapatkan air, baik untuk keperluan sehari hari maupun sekedar untuk memberikan minum kepada ternak mereka.  Bahkan kita juga menyaksikan betapa  seorang yang akan mendapatkan sir saja harus berjalan di jalan terjal berkilo kilo meter jauhnya.  Untuk itu bagi kita yang kebetulan  diberikan  nikmat berupa air bersih yang mudah, sudah seharusnya kita berhemat dalam pemakaian, sehingga hal tersebut  sekaligus sebagai  bentuk kesyukuran kita kepada Tuhan.

Bahkan saat ini pemerintah sedang  kesulitan dalam hal membatasi subsidi bahan bakar minyak jenis premium.  Arinya  ada sebuah dilema yang berat untuk dipilih, karena kalau harga BBM dinaikkan atau subsidi dikurangi, maka sudah pasti masyarakat akan  merasakan akibatnya.  Tetapi kalau dibiarkan saja, tentu tidak akan mencukupi untuk sampai akhir tahun nanti, karena  subsidi sudah sangat menipis.  Nah, untuk sedikit mengurasi beban subsidi tersebut sudah seharusnya bagi kita masyarakat, terutama yang mampu, untuk beralih menggunakan  BBm non subsidi atau setidaknya dapat menghemat penggunaan BBM bersubsidi.

Mungkin banyak yang tidak dapat memahami  apa yang saya maksudkan, tetapi yang terpenting dalam persoalan ini ialah bagaimana kita dapat hidup hemat dan tidak boros dalam hal apapun, terutama  terhadap hal hal yang masih disubsidi oleh negara. Kalau hanya untuk pergi ke tempat yang dekat, usahakanlah jangan membawa mobil,  dan cukuplah dengan mengendarai motor, sehingga bahan bakarnya yang dignakan tidak banyak.   Bahkan kalau misalnya cukup ditempuh dengan berjalan kaki, maka berjalan kaki tentu akan lebih bagus, disamping sekaligus berfungsi oleh raga.

Dalam kehidpan rumah tangga, ketika menggunakanl,istrik misalnya, maka ketika sudah malam dan  tidur, maka sebaiknya lampu yang dinyalakan cukuplah sedikit saja, dan seluruh alat elektronik, seperti televisi, dispenser, dan lainnya dimatikan.  Demikian juga saat menggunakan air selayaknya dapat dihemat, yakni  setiap meninggalkan kamar mandi, seharusnya dengan mematikan kran, sehingga tidak ada air yang terbuang percuma.

Mungkin apa yang saya sampaikan ini sedikit  detail, tetapi  menurut saya menmang harus dijelaskan secara detail sehingga tidak ada seorang pun yang tidak memahami pentingnya berhemat dalam semua hal.  Bahkan termasuk saat kita memasak, sebaiknya diukur dengan kemungkinan habis  dan tidaknya, sehingga  tidak ada sis makanan yang mubadzir. Barangkali bagi kita yang berada sisa nasi atau sekedar lauk, tidak menjadi persoalan, tetapi coba kita tengok ke beberapa sudut kota, di sama akan kita temukan masih banyak manusia yang kesulitan makan.

Itulah  mengapa sikap dan berlaku  boros tersebut  tidak layak dilakukan oleh seorang yang beriman, dan hanya layak dilakukan oleh mereka yang memang berperangai buruk dan diumpamakan sepewrti perbuaan setan.  Hal tersebut disebabkan bahwa peri laku boros tersebut akan menimbulkkan kerugian bagi pihak lain, dan sama sekali  tidak peka terhadap kondisi  yang menimpa  orang orang yang dalam kesulitan.

Demikian juga boros yang ditunjukkan oleh sebagian orang kaya yang ketika makan direstoran dengan memesan banyak makanan dan minuman, yang akhirnya hanya dijamah sedikit saja dan selesbihnya menjadi sampah, padahal masih banyak orang miskin yang sangat membutuhkan makanan.  Sikap tidak peduli dan hanya mementingkan diri sendiri itulah yang menyebabkan agama dan ajaran syariat mencelanya.

Bahkan secara lebih tegas, Tuhan  telah memberikan cap bagi mereka yang tidak peduli terhadap nasib orang orang yang lemah, seperti anak yatim, dan fakir miskin, dianggap sebagai pendusta agama.  Ini tentu  teguran yang sangat keras bagi siapapun yang berlaku dan mempraktekkan sifat boros dan sama sekali tidak mau mengingat nasib  sesama yang  sangat membutuhkan uluran tangan.  Tentu akan  sangat terpuji, jikalau uang yang  dipunyai digunakan untuk membatu mereka yang lemah, ketimbang dihamburkan untuk membeli sesuaru yang sia sia, seperti makanan yang tidak dimakan dan lainnya.

Karena itu sikap hemat dan peduli terhadap keperluan pihak lain menjadi sebuah keniscayaan yang bterus  harus kita jaga dan laksanakan.  Lebih lebih  kalau perilaku tersebut kita terapkan di tempat kita bekerja.  Artinya kalau tidak sangat diperlukan menggunakan sesuatu, sebaiknya memang tidak menggunakan sesuatu tersebut.  Misalnya kalau komuter tidak digunakan, memang sebaiknya tidak dinyalakan.  Lampu,  AC dan peralatan lainnya yang menggunakan listrik, saat  tidak sedang digunakan, seharusnya dimatikan, agar beban kantor tidak menjadi berat.

Berhemat memang dituntut, bukan saja untuk kepentingan diri sendiri tetapi juga sekaligus dalam upaya untuk memberikan kesempatan  pihak lain dapat menikmati apa yang seharusnya mereka nikmati. Kita harus terus ingat bahwa kita hidup di dunia ini bersama sama dengan banyak orang dan tidak hanya sendirian, karena itu toleransi selalu dibutuhkan.  Bukankah kita akan sedih ketika  hak yang seharusnya kita dapatkan, ternyata di embat oleh pihak lain?. Nah, demikian juga  dengan berlaku boros seseungguhnya kita sudah mengembat hak pihak lain.

Semoga renungan ini akan mampu memberikan penyadaran bagi kita, sehingga kita akan terus diingatkan untuk berbuat hemat dan  menghindarkan diri dari sifat boros tersebut.  Semoga Tuhan akan senantiasa  memberikan kekuatan kepada kita untuk terus berbuat kebajikan dan memberikan kesempatan bagi pihak lain untuk menikmati karunia Tuhan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.