MENDIDIK ANAK BANGSA

Persoalan pendidikan memang akan selalju menarik untuk diperbincangkan, karena di sana banyak sekali persoalan yang muncul dan sangat sulit untuk diatasi. Dahulu pada awal kemerdekaan atau bahkan sebelum kemerdekaan, persoalan yang terkait dengan finansial barangkali tidak terlalu menjadi masalah, karena semua guru sangat ikhlas dalam memberikan dahma baktinya untuk mencerdaskan anak anak bangsa, sehingga mereka memang sama sekali tidak menerima honor. Bahkan untuk keperluan sehari hari proses belajar mengajar pun justru merekalah yang mengusahakannya, sehingga kita dapat mengetahui bahwa para guru pada saat itu justru nombok dan membiayai sendiri pembelajaran kepada para siswanya. Namun seiring dengan waktu yang terus berjalan, maka kondisinya menjadi berubah, yakni sikap realistis bahwa mereka itu juga manusia yang mempunyai tanggung jawab kepada keluarga sehingga berapapun mereka harus diberikan honor. Hanya saja honr yang diberikan kepada mereka ialah ala kadarnya sebagai hal yang wajar meskipun jumlahnya menjadi tidak wajar jika dibandingkan dengan tingkat npengabdian mereka. Lalu datanglah masa dimana kompetisi hidup semakin tinggi, dan tuntutan semua orang juga meningkat drastis, dan karena itu para guru kemudian tidak cukup kalau hanya diberikan honor sekedarnya, dan mulailah mereka menginginkan gaji yang cukup dan bahkan kemudian banyak lagi tuntutan yang disampaikan. Lalu dengan gaji yang cukup besar tersebut, apakah kemudian justru akan semakin menambah keseriusan mereka dalam mendidik anak bangsa? Jawabannya tentu beragam dan memang dalam kenyataannya beragam pula yang dapat kita saksikan. Sebagian diantara mereka memang semakin membaik dalam cara mendidik, namun tidak sedikit pula yang justru sebaliknya, yakni bukannya semakin membaik, melainkan justru semakin jauh dari sikap mendidik. Bagi mereka yang memang mempunyai jiwa pendidik, maka dengan meningkatnya pendapatn, mereka akan semakin membaik pula dalam mendidik, namun tidak sedikit mereka yang berstatus sebagai pendidik, tetapi jiwa mereka sesungguhnya bkanlah seorang pendidik. Dengan demikian mereka akan semakin jauh dari dunia pendidikan, setelah gajinya meningkat. Artinya justru mereka itu malah mencari dunia lain selain pendidikan,. Sangat menyedihkan memang, karena perhatian pemerintah untuk meningkatkan kualitras pendidikan, justru disalah gunakan oleh mereka yang justru berada di dalam lingkup pendidikan itu sendiri. Rupanya memang masa lalu kita penuh dengan ketidak beresan, sehingga saat ini masih menyisakan opersoalan yang sulit untuk diatasi. Bagaimana mungkin dunia pendidikan kemudian dimasuki oleh mereka yang tidak mempunyai jiwa sebagai pendidik. Bahkan ada sebagian guru yang sama sekali tidak pernah bersekolah secara formal sebagaimana tuntutan sebagai guru. Kita tidak tahu mengapa pada saat itu banyak sekali manipulasi yang dilakukan, termasuk oleh aparat penerima guru, khususnya PNS, karena ternyata ada orang yang kemudian menjelma sebagai sosok lain, utamanya terkait dengan nama yang disandang. Indikasinya ialah bahwa mereka itu menggantikan nama orang lain yang justru memenuhi persyaratan formal sebagai guru. Ada oknum tertentu yang memperjual belikan posisi sebagai PNS dan siapapun yang mampu membelinya, kemudian akan diberikan SK tersebut, dan kemudian yang bersangkutan cukup mengubah namanya sesuai dengan nama orang yang sudah diterima sebagai PNS tersebut, termasuk ijazahnya. Bahkan terdapat orang yang sebelumnya diketahui belum pernah sekalipun bersekolah. Ini lebih mengerikan ketimbang persoalan lainnya. Saat ini kita sudah berada dalam kondisi yang memungkinkan dpat menjalankan dan mendidik anak anak kita dengan lebih baik, karena anggaran negara sudah cukup; rasional untuk pendidikan kita. Meskipun demikian yang diperlukan saat ini ialah bagaimana kita dapat memanfaatkan anggaran pendidikan yang cukup banyak tersebut sesuai dengan peruntukannya, sehingga tujuan peningkatan kualitas pendidikan tersebut memang benar benar dapat dicapai. Kita tentu akan menyetujui untuk meningkatkan anggran, jika anggaran pendidikan yang 20% dari APBN tersebut memang benar benar kurang, namun jika hanya realisasinya saja yang kurang tepat, tentu kita akan berpikir ulang jika ada penambahan anggaran hanya untuk sesuatu yang tidak menambah kualitas. Kalau program sertifikasi terhadap pendidik yang selama ini sudah dilaksanakan ternyata kurang memenuhi harapan, sebaiknya memang harus ada upaya lain yang memungkinkan tujuan awalnya dapat dipenuhi. Atau mungkin mencari format lain, yakni dengan melakukan perubahan kebijakan secara frontal dengan tujuan jangka panjang yang lebih baik. Artinya ada upaya maksimal untuk mendapatkan pendidik yang benar benar mempunyai jiwa pendidik dan benar benar profesional, bukan dalam arti sebutannya saja, melainkan secara nyata memang profesional dan semua aspek yang dibutuhkan. Tentu untuk mendapatkan hal tersebut harus ada perubahan mendasar dan mulai sejak awal. Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama, namun harapannya sangat jelas dan masa depan pendidikan terhadap anak anak bangsa kita akan lebih menjanjikan. Disamping itu dengan kebjakan tersebut kita akan lebih eluasa untuk membentuk sesuatu yang benar benar ideeal yang kita inginkan,karena semuanya akan dimuali dari nol, dan tidak hanyan sekedar meneruskan sesuatu yang sudah dibangun sebelumnya. Namun untuk enempuh kebijakanbaru tersebut memang dibutuhkan kekuatan dan ketagasan, karena sudah barang pasti akan mendapatkan rintangan yang cukup kuat dengan berbagai alasan klasik, yang jika jika tidak kuat dalam membendungnya, pasti akan dapat meggagalkan rencana tersebut. Keputusan untuk hal tersebut sama dengan melakukan revolusi mendasar dalampendidikan kita, yakni dimulai dengan menciptakan pendidik yang handal, kemudian menyediakan sarana prasarana, termasuk leboratorium dan lainnya dan jugaa kurikulum serta sistem pembelajarannya. Namun jika hal tersebut tidak dimungkinkan untuk dilaksanakan, maka setidaknya harus ada upaya yang nyata untuk memperbaiki beberapa kelemahan mendasar yang saat ini dirasakan, sehingga akan sedikit ada harapan untuk perbaikan. Perbaikan yang dimaksudkan tersbeut ialah bagaimana semua pihak mendukung pendidikan ita, termasuk orang tua. Dukungan tersebut harus diwujudkan dalam hal kepercayaan penuh orang tua kepada pihak pendidik,. Dengan demikian ketika ada laporan anak didik kepada rang tuanya yang mengadukan hal yang dialaminya di sekolah misalnya, maka orang tua harus tabayyun terlebih dahul sebelum mempercayai cerita anaknya tersebut. Sebab boleh jadi anak tersebut memang manja dan tidak mau diperlakukan sama dengan anak lainnya. Kita dan semua orang harus tahu dan memahami bahwa sebuah pendidikan itu memerlukan proses yang didalamnya terdapat pemberian sanksi kepada mereka yang tidak disiplin. Nah, pemahaman tersebut menjadi sangat urgen untuk mendukung kesuksesan pendidkian itu sendiri. Para pendidik harus mendapatkan perlindungan yang kuat dalam menjalankan profesinya dan tidak terancam oleh kondisi apapun, apalagi oleh orang tua siswa yang tidak memahami kondisi tersebut. Ini sangat penting untuk segera dilakukan sosialisasi kepada semua masyarakat, agar mereka menyadari bahwa proses pendidikan itu menjadi sangat urgen dan harus didukung oleh semua pihak. Deengan begitu kita akan mempunya harapan bahwa anak anak Indonesia nantinya benar benar akan menjadi manusia terdidik, berintegritas, berakhlakul karimah dan peduli terhadap lingkungan dan sesama. Semoga semua itu dapat kita wujudkan, meskipun tidak harus melakukan revolusi yang mendasar dan memerlukan waktu yang sangat panjang.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.