JANJI

Kita tahu bahwa janji itu bagaikan hutang yang harus dibayar atau dipenuhi oleh mereka yang berjanji, namun pada kenyataannya biasanya mereka yang mengobral janji justru tidak akan memnuhinya.  Ironisnya masyarakat yang dibohongi  juga tidak terlalu peduli, mungkin hanya perorangan sajalah yang kemudian merasa diingkari janji lalu sakit hati dan mungkin juga akan melakukan sesuatu sebagai pelampiasan kejengkelannya.

Kita juga tahu bahwa pihak yang suka mengumbar janji ialah mereka yang tidak yakin dengan dirnya sendiri, baik ketika seseorang sedang berkompetisi dalam pemilihan kepala darah, pilpres, dan juga pileg.   Namun biasanya bagi mereka yang percaya diri, akan berhati hati dalam menjajikan sesuatu, karena pada saatnya nanti akan ditagih, walaupun sekali lagi kalaupun janji tidak dipenuhi, masyarakat seolah biasa saja.

Namun demikian mereka yang sudah percaya diri sekalipun, ketika dihadapkan kepada kandidat atau kompetitor lainnya yang dengan mudanya berjanji untuk memberikan  sesuatu, kemudahan, ataupun bentuk lainnya, biasanya juga kemudian tidak tahan dan akhirnya juga harus menyebar janji pula.  Toh  pada saat nani  sudah terpilih pun masih banyak alasan untuk mengindar dari pemenuhan janji tersebut.

Dengan begitu sesungguhnya janji yang disampaikan oleh kandidat pemimpin dan  calon wakil rakyat sama sekali tidak ada efeknya bagi masyarakat yang sudah terbiasa dibohongi oleh para kandidat tersebut.  Bahkan sangat  mungkin jika seorang kandidat tidak banyak megumbar janji, tetapi akan bersikap realistis, justru akan mendapatkan simpati dai amsyarakat, tetapi sekali lagi rupanya  dengan berlaku realistis tersebut mereka tidak akan percaya diri.

Ada kalanya memang masyarakat terkadang juga mengingatkan  nkepada merka yang kemudian terpilih menjadi pemimpin agar memenuhi janjinya, bahkan mereka mengancam akan melakukan demo besar besaran jika janji yang pernah diucapkan tidak  dipenuhi dalam  jangka waktu yang telah tetapkan.  Nah, kalau kemudian terjadi hal demikian, biasanya  pemimpin tersebut lalu melakukan sesuatu yang dapat menjadi pelampiasan kekecewaan masyarakat tersebut, dan anehnya masyarakat kita cepat teralihkan perhatiannya kepada sesuatu tersebut, hingga lupa menagih janji.

Jadi saat ini idak ada satu pihakpun dari sekian banyak kandidat yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah ataupun sebagai wakil rakyat yang tidak mengumbar janji manis.  Sementara masyarakat sendiri sudah jenuh dengan janji semacam itu, sehingga apapun yang ditawarkan oleh calon tersebut akan diabaikan saja, bahkan mereka yang mengikat kan diri  dengan menandatangai sebuah perjanjian untuk berkomitmen melakukan sesuatu pun juga  ditanggapi oleh mayoritas masyarakat sebagai hal yang sia sia.

Survey yang dilakukan oleh pihak yang independen pun juga menunjukkan bahwa janji  para kandidat tidak  diperhatikan dan bahkan dianggap angin lalu oleh masyarakat.  Dengan kondisi seeprti itu para kandidat semakin menggila dalam memberikan janji muluk muluk, karena tidak mempunyai beban untuk memenuhinya.  Itulah kondisi yang sangat memperihatinkan kita semua karena kebohongan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang disengaja untuk kepentingan diri sendri dan merugikan masyarakat luas.

Itu semua  kaitannya dengan janji umum yang  dilakukan oleh para kandidat untuk memperoleh simpati masyarakat dan sekaligus mendapatkan suara dari mereka untuk memenangkan dirinya.  Meskipun kemudian hasilnya tidak seperti yang diinginkan. Karena itu semua pihak harus segera  menyadari kondisi yang demikian dan sekaligus memberikan pencerahan kepada msyarakat secara umum agar  mereka menjadi fokus dan bersikap rasional.

Artinya jika ada calon yang megumbar janji sebaiknya  dicatat saja bahwa dia itu  berada dalam kondisi yang tidak percaya diri, sehingga tidak perlu dipilih, terkecuali kalau dipandang sebagai jujur dan  realistis dengan kondisi.  Dengan demikian jika  pada waktunya ternyata seluruh kandidat  megumbar janji, kita  dan  masyaqrakat harus  mencermai programnya sehingga akan dapat membedakan yang baik dan yang  hanya janji semata.

Lain halnya jika janji tersebut diucapkan oleh seseorang untuk orang lain secara personal, maka biasanya orang tersebut akan berpkir  dua kali karena pastinya janji tersebut akan ditagih secara serius.  Apalagi kalau kemudian  yang berjanji dan yang dijanjikan tersebut  masih tetap dalam  kondisnya masing masing, yakni tidak berpisah dan berada dalam  jarak yang sangat jauh secara personal. Kondisi tersebut biasanya terjadi pada seorang yang ingin mendapatkan simpati  dari pihak lainnya, semacam unginmendapatkan cintanya.

Nah, jika seseorang yang berjanji tersebut ternyata mengingkari dan  dia tidak jujur dalam kondisi yang sebenarnya, maka  akan dapat mengecewakan pihak lainnya.  Contohnya ialah pada saat berkenalan hingga menjalin hubungan yang mnegrah kepada serius, salah satunya berbohong dengan mangaku sebagai orang yang berstatus soaial tinggi, semacam sebagai anaknya orang kaya atau telah bekerja di sebuah  perusahaan ternama atau lainnya, yang ternyata itu smeua hanya bohong belaka, tentu hubungan tersbeut akan menjadi retak dan tidak harmonis lagi.

Demikian juga jika ternyata janji yang dilontarkan ternyata dingkari setelah semuanya terjadi dan  ibarat nasi sudah menjadi bubur, maka yang tersisa ialah penderitaan  dan penyesalan yang tidak berakhir.  Jika seorang perempan dengan rayuan mautnya dan janji untuk menikahi pada saatnya, namun kemudiaan setelaha mereka  melakukan hubungan terlarang, ternyata  jani diingkari, maka muncullan masalah  yang terkadang  dapat membawa kepada keputus asaan yang membawa maut.

Atas dasar  itu, seharusnya semua pihak, terutama pihak yang lemah harus lebih waspada untuk tidak mudah mempercayai janji seseorang, dan lebih  waspada lgi jika  slaahs atu pihak meminta sesuatu yang  dilarang oleh agama.  Kalaupun kemudian janjinya untu menikahi dipenuhi pun sesunggunya perbuatan yang dlarang agama tersebut tetap akan mengahantii hidupnya  dan  kehidupannya tidak akan tenang dan bahkan tidak akan berkah dan memperoleh kemudahan.

Untuk itu kita  sangat berhaqrap kepada semua orang, terutaa para orang tua untuk mewaspadai anak anaknya agar tidak tercebur  dalam kemaksiatan yang pasti akan merugikan.  Cara terbaik untuk itu ialah dengan pendidikan yang benar dan baik, yang ditanamkan sejak dini.  Jika orang tua sangat peduli dengan keselamatan dan masa dsepan anak anaknya, tentu mereka akan mendidik anaknya tersebut dengan akhlak yang baik sejak dini, dan ketika menyerahkan kepada pihak lain seprti sekolah pun juga akan memilih sekolah yang diangga baik dalam mendidik.

Dengan akhlak  yang baik dan ketulusan serta kesungguhan dalam emngabdikan diri kepada Tuhan,  tentu akan mudah untuk diingatkan agar tidak mudah menerima dan empercayai janji  seseorang yang akan memberikan  sesuatu yang menyenangkan.  Sebaiknya mereka akan berlaku rasional dan lebih  mempercayai mereka yang berlaku realistis, yakni akan berushaa  dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu yang halal dan diridloi oleh Tuhan.

Dengan demikian siapapun yang berjanji, apakah itu para kandidat kepala daerah, paea calon wakil rakyat maupun orang yang mengharapkan  simpati, akan disikapi secara  wajar dan tidak mudah menerima janji tersebut, melaqinkan akan  tetap waspada dan tidak terseret untuk melakukan hal hal yang menyimpang dan tidak rasional.  Mudah mudahan kita akan mampu bersikap bijak dan juga mendidik anak dan keluarga kita tidak mudah dikibuli dengan janji palsu. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.