REESIK RESIK LINGKUNGAN

Kebiasaan baik yang selama ini selalu dipelihara oleh masyarakat, salah satunya ialah  kerja bakti atau lebih dikenal dengan gotong royong untuk melakukan berbagaqi hal, terutama yang terkait dengan kebersihan dan keasrian lingkungan.  Biasanya hal tersebut dilakukan pada hari Minggu  dengan harapan sleuruh  warga  sedang libu rdan dapat berpartisipasi  dalam kerja bakti tersebut.  Meskipun dmeikian terkadang kita juga menjumpai  salah seorang  atau beberapa warga yang justru sedang melakukann perjalanan luar kota.

Nah,  kalau sekiranya ada  sebagian anggota yang memang sedang bepergian, kita tentu dapat memakluminya, namun yang menjengkelkan ialah jika ada sebagian diantara  warga yang  sengaja tidak  berpartisipasi dalam kerja bakti tersebuit, padahal dia berada di rumah dan hanya menonton televisi atau hanya sekedar  leha leha.  Sudah barang tentu warga yang demikian merupakan warga yang tidak mau kebersamaan dan sekaligus juga  tidak menghargai  kawannya se lingkungan.

Sesunggunya warga masyarakat kita sangat tolerans kepada sesamanya,  semisal jika  ada orang yang karena kesibukannya, sehingga tidak dapat mengikuti kerja bakti bersama, tentu tidak menjadi persoalan, lebih leboih jika   dia  mengerti dan memberikan partisipasi berupa nyamikan atau sekedar rokok  untuk diberikan kepada mereka yang kerja bakti.  Nah, kalau demikian pastinya masyarakat tidak akan  memberikan penilaian yang buruk kepadanya.

Akan tetapi jika sebaliknya, yakni tidak mengikuti kerja bakti, padahal hanya nongkrong di rumah dan  juga tidka berpartisipasi dalam memberikan sedikit  nyamikan, maka warga pasti akan “ngrasani” dan memandang kurang terpuji kelakuaannya tersebut.  Mungkin pada vsaat tersebut dia belum dan tidak merasakan betapa kebersamaan tersebut sangat indah, namun pada saanya, semisal jika dia sedang mempunyai hajat dan para warga tidak mendekat dan membantunya, maka dia akan sangat terpukul merasakan akibat tindakannya sendiri.

Kesadaran untuk melakukan  sesuatu secara bersama dalam hal apapun, tentu  sangat bagus, lebih lebih jika kita sedang menghadapi even besar seperti memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia, tentu semuanya akan sibuk mempercantik lingkungannya.  Demikian pula jika menhdapi hari raya Idul fithri,  bahkan semuanya akan menjadi sangat ringan untuk melakukan sesuatu secara bersama, tentui terkecuali mereka yang  memang “ndablek” dan sama sekali tidak mau kerja bersama dengan masyarakat.

Resik resik lingkungan tersebut  akan jauh lebih bagus jika dilakukan secara rutin, semisal satu bulan sekali, sehingga tidak akan terasa berat, namun jika  kemudian hanya dilakukan setiap tiga bulan sekali juga tidak mengapa, karena yang terpenting disamping  lingkungan menjadi asri dan bersih,  kebersamaan diantara  warga lingkungan juga akan terbina dengan baik, dan silaturrahmi akan tetap beralangsung,. Meskipun melalui  kerja bakti.

Akan jauh lebih bagus jika masing masing warga juga menyadari  kebersiahan di lingkungan rumah masing masing, sehingga sleuruh kampung akan  tertata dan terlihat bersih swerta nyaman untuk dipandang.  Bahkan jika  kita masing maisng  mengerahkan anak dan sleuruh keluarga untuk  bersih bersih di lingkungan kita masing masing, akan jauh lebih bagus dan menjadi salah satu hal yang  terpuji, karena  nabi Muhammad saw sendiri telah menyatakan bahwa kebersihan itu termasuk sebagian dari iman.

Sudah selayaknya  setiap muslim akan selalu mencintai kebersihan, baik di lingkungan rumahnya, maupun lingkungan warganya, sebab jika seorang muslim sudah tidak peduli lagi dengan kebersihan, maka itu artinya dia tidak sepurna imannya.  Lihatlah mereka yang sukses dalam menjalani hidupnya, tentu mereka akan selalu rajin dalam berbagai hal, termasuk dalam hal kebersihan.

Sesunggunya sikap mencintai kebersihan tersebut harus ditanamkan kepada anak sejak dini, karena mencintai kebersihan itu merupakan sebuah kebiasaan yang  menyatu dalam hidupnya,  sehingga jika  orang seperti melihat  kondisi jkotor, dia tidak akan  kerasan, dan  dengan otomatis dia akan segera melakukan sesuatu untuk membersihkan keaadaan tersebut.  Dengan kata lain  orang tersebut tidak akan dapat hidup dalamlingkungan yang jorok dan kotor.

Namun jika kebiasaan bersih tersebut tidak dibiasakan sejak kecil,  tentu akan sangat sulit untuk mempraktekkannya pada saat saudah dewasa.  Artinya jika anak aak dibiasakan hidup dalam lingkungan  yang kumuh dan kotor, maka  kondisi kotor tersebut akan menjadi  lingkungan kebiasaannya dan dia akan tetap nyaman di dalamnya, sehingga kalau dihimbau untuk bersih bersih sekalipun, maka  akan sulit.

Bahkan ketika selesai makan pun biasanya  piring dan alat makan lainnya begitu saja dionggokkan di dapaur sehingga menumpuk dan terlihat sangat jorok.  Namun jika  sejak anak anak suda dibiasakan untuk membersihkan sendiri piring yang sudah digunakan untuk makan, maka kebiasaan tersebut aan dibawa  sampai saat mereka  dewasa.  Bahkan mereka akan tidak nyaman jika ada  piring kotor berserakan di rumah mereka.

Sesungguhnya openampilan lahir seseroang juga  merupakan cerminan tampilan batinnya.  Artinya jika seseorang  kerasan dalam kondisi jorok, maka itu sekaligus juga menunjukkan batinnya yang  suka  dengan kejorokan atau setidaknya tidak merasa risih dengan kondisi jorok tersebut.  Sebaliknya jika seseorang secara lahir selalu tampak bersih, maka itu juga merupakan cerminan batinnya yang selalu cenderung kebrsihan.

Kita menjadi yakin bahwa   kondisi bersih dan asri akan dapat dinikmati oleh smeua orang, dan sebalinya kondisi jorok mungkin hanya akan dapat dinikmati oleh mereka yang  memang suka kejorokan.  Karena itu sebagai  seorang beriman kita  seharusnya menyadari  dan melakukan tindakan nyata untuk membersihkan  kerangan rumah ddan juga lingkungan kita.  Artinya kepedulian kita terhadap kebesihan lingkungan harus dibiasakan dan bahkan diwajibakan untuk diri dan keluarga kita.

Dengan demikian kita  akan menjadi tidak suka jika ada orang lain yang membuang sampah di tempat sembarangan, atau membiarkan ada sampah yang berserakan.  Sikap mencintai kebersihan tersebut akan selalu dibawanya, meskipun dia sedang berada di lingkungan yang baru dan asing sekalipun. Orang  demikian pastinya akan emmpnyai banyak kawan, karena pada dasarnya mansuai itu menyenangi kebersihan, walaupun dirinya sam sekali kurang peduli terhadap kebersihan tersebut.

Memang terkadang  terkihat aneh, yakni adanya manusia yang suka  menyaksikan  dan menikmati keindahan dan kebersihan, namun  dia sama sekalitidak mau melakukan  penciptaan dan pemeliharaan terhadap kenyamanan dan kebersihan tersebut.  Inilah manusia aneh  yang hanya ingin  senangnya saja.  Hanya saja  jenis manusia ini masih lebih baik dan mungkin mudah untuk diajak untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan tersebut, ketimbang mereka yang memang  dapat menikmati kejorokan.

Hal terpenting bagi kita ialah bagaimana kita terus beruasaha mengajak smeua orang, uamanya kepada anggota keluarga kita untuk menjaga kebersihan dengan melakukan berbagai hal yang mendukung  terciptanya kebersihan tersebut, mislanya harus membuang sampah pada tempatnya, harus perduli  untuk  menruh sampah ditempanya, jika kita menemukan sampah yang dibuang oleh orang yang tidak kitanketahui.

Demikian juga  biasakan untuk menegur dengan cara yang baik kepada semua orang,  tua maupun muda  yang kedapatan membuang sampah di sembarang tempat.  Denga usaha  demikian dan konsisten, insayaallah kita akan dapat mewujudkan kondisi lingkungan kita yang benar enar bersih dan asri, serta menyenangkan.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.