KEMBALI KE MADRASAH

Saat ini sebagiamana kita tahu bahwa hampir tidak ada perbedaannya antara  sekolah menengah atas atau yang biasa disebutr dengan SMU dengan madrasah aliyah atau MA, karena sebutannya pun juga hampir mirip, yakni bagi MA disebut sebagai sekolah umum yang berciri khas agama, sementara mengenai kurikulum dan berbagai mata pelajarannya  relatif sama.  Yang membedakan ialah bahwa di Aliayah ada mata pelajaran agama Islam yang  sedikit lebih banyak dibandingkan dengan di SMU.

Karena itu ketika mereka lulus pun para alumninya kebanyakan bebas menentukan arah lanjutan studinya, bahkan untuk saat ini mereka akan lebih memilih  di beberapa universitas  umum yang dianggap lebih menjanjikan. Atau paling tidak mereka lebih memilih universitas Islam negeri ketimbang  ke  IAIN  dan sesamanya.  Itu merupakan sebuah kenyataan yang tidak dapat ditolak, karena kecenderungan  lulusan SLTA kita orientasinya ialah bagaimana dapat melanjutkan kuliah di universitas ternama.

Tentu akan lain halnya dengan MANPK atau madrasah aliyah negeri program jhusus yang de=idesain untuk mencwetak para  kader ulama yang handal, sehingga lulusannya  akan diarahkan untuk melanjutkan studi di beberapa universitas Islam, baik di dalam meupun di luar negeri.  MAN PK tersebut saat ini sudah dihilangkan dan  baru diusulkan agar dihidupkan kembali, karena memang dalam realisasinya  lulusannya dapat diandalkan dalam kajian keisalaman secara umum.

Pada sat ini kita yang mengelola perhguruan tinggi Islam sangat perihatin dengan kondisi lulusan MA, baik  negeri maupun swasta, yang dapat dikatakan sebagai lulusan yang tengah tengah, yakni matang dalam  keilmuan agamanya tidak dalam hal pengetahuan umumnya jua tidak.  Bagaimana mungkin kita dapat menyaksikan  para alumni madrasah aloiyah yang belum dapat membaca  al-Quran dengan fasih.  Lalu apa yang dipelajari mereka di sekolah selama 3 tahun  atau bahkan sejak di madrasah Tsanawiyah juga 3 tahun?

Sungguh sebuah kenyataan yang tidak dapat diterima oleh akal sehat kita. Namun  nyata dan tidak dapat kita tolak.  Kita  mendapatkan banyak kenyataan yang diluar nalar kita, yakni banyaknya  mahasiswa baru yang lulusan madrasah aliyah, tetapi sangat minuim dalam pemahamannya  terhadap agama, bahkan  sama dengan mereka yang lulusan SMA.  Apakah  di madrasah tidak ada pembelajaran mengenai  baca tulis al-Quran? Atau pelaharan mengenai hal hal prinsip tentang agama kita?

Barangkali kita harus menyarankan kepada kementerian agama untuk lebih cermat dalam mengawasi  madrasah, karena kalau kondisi tersebut terus duibiarkan, tentu akan sangat merugikan kita dan Madrasah secara umum.  Artinya  direktur madrasah harus lebih serius dalam mennangani madrasah tersebut, termasuk bagaimana caranya agar lulusan madrasah setidaknya suda dapat membaca kitab suci dengan fasih dan dapat menjalankan shalat dengan benar.

Proses pembelajaran di amdrasah harus lebih diintensufkan lagi mengenai kajian terhadap al-Quran sebagai kitab suci umat muslim.  Jangan sapa mereka yang sudah lulus MA ternyata tidak mampu membaca dan menuls huruf al-Quran.  Bahkan  kalau mungkin dan harus bisa  bahwa setiap lulusan madrasah tsanawiyah harus sudha bisa  baca tulid al-Quran, sehingga  di MKA tinggal melanjutkannya dengan kajian pemahaman terhadap ayat ayat tertentu, semisal ayat hukum, sehingga mereka mempunyai kemampuan yang cukup untuk  bekal hidupnya.

Para pendidik juga harus terus dipacu untuk lebih peduli terhadap anak didim mereka sehingga mereka benar benar mendidik, bukan seedar mengajar saja. Tunjangan  serifkasi guru yang sudah diberikan kepada  sebagian besar guru yang ada, harus dapat dibuktikan dalamkenyataan, yan=kni meningkatnya kualitas pembelajaran  di seklah dan di madrasah.  Kita santgat yakin bahwa jika madrasah dibenahi sedemikian rupa sehingga  wujudnya lulusannya dapat diandalkan dan mempunyai standar tertentu, maka minat untuk memasuki madrasah akan semakin bertambah.

Saat ini banyak keluhan dari madrasah  tentang minimnya peminat untuk masuk ke madrasah.  Tentu itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri melainkan terkait dengan pengelolaannya.  Artinya selama ini ternyata madrasah telah memberikan kesan kecewa kepada masyarakat karena lulusannya tidak dapat diandalkan dan tidak standar.  Nah,  saatnyalah  sekarang untuk membenahinya  secara lebih serius dan berkesinambungan.

Kita harus  dapat menerima kritikan dari masyarakat bahwa madrasah kita saat ini memenag nberada dalam titik nadir dan sangat mengkhawatirkan, sehingga  keseriusan dalam meningkatkannya  menjadi sebuah keniscayaan.  Harus  ada  penekanan, terutama dalam hal bagaimana mereka  dapat membaca dan menulis  al-Quran dan  pada tingkatan MA harus dapat  memahami beberapa  ayat terkait dengan peribadatan,dan lainnya.

Kita tidak boleh ternina bobokkan oleh tuntutan lainnya, seperti  pemahaman terhadap pengetahuan umum dan melalaikan kepentingan pemehaman pengetahuan agama.  Pengetahuan umum memang tidak bisa kita abaikan, namun pengetahuan agama sebagai ciri khas  madrasah harus tetap emndapatkan prioritas utama. Jadi barangkali harus ada  pendekatan dan perubahan kulirikulum  yang lebih memungkinkan tercapainya  target sebagiamana diutarakan di atas, yakni setidaknya seluruh lulusan Madrasah harus dapat membaca dan menulis al-Quran.

Menurut saya ketika mereka lebih memilih madrasah sebagai tempat mencari ilmu, seharusnya sudah tersirat dalam benak mereka bahwa tujuan utamanya ialah mereka harus dapat membaca kitab suci dan memahaminya, walaupun belum selurunya./  Itu yang harus mereka lakukan dan  secara bertanggung jawab mereka juga harus dapat memertanggung jawabkannya pada saat mereka lulus.  Tentu bukan sekedar lulus dengan nilai tertentu, melainkan juga dalam hal prakteknya.

Pada saat ini  rupanya ada semacam gerakan bahwa nilai raport seluruhnya menjadi snagat bagus, namun dalam  kenyatannya mereka sama sekali tidak  menunjukkan kemampuan sebagaimana  nilai yang mereka dapat raih.  Ini semakin  mendatangkan kecurigaan, jangan jangan proses pebelajaran di  amdrasah sudah bergeser sedemikian rupa hanya untuk mengejar nilai dan untuk dapat masuk di eprguruan tinggitertentu, dan bukan mementingan pemahaman dan  pengamalan teori yang dipelajari, khsususnya  terkait dengan  pengetahuan keislaman.

Sekali lagi kita harus dapat sesegra mungkin mengembalikan fingsi madrasah yang untuk memperdalam pengetahuan tentang keislaman dna juga pengetahuan umum.  Fungsi inilah yang saat ini rupanya sudah sedikit tergeser oleh kepentingan yang lain, sehingga  target  untuk sekedar memahamkan lulusnanya  untuk dapat membaca kitab suci dengan fasih saja tidak tercapai, apalagi target untuk memahami kandungannya.

Kalau kenyataannya demikian bagaimana mungkin kita akan  dapat melalkukan  garakan kepada umat untuk kembali ke madrasah, pastinya mereka akan tidka emnghiraukannya, karena takuit anaknya tidak akan mendapatkan ilmu, baik tentang keagamaan maupun tentang pengetahuan umumnya.  Padahal kita sudah  berkomitmen untuk mengembalikan masyarakat kepada madrasah sehingga  anak anak mereka akan emmpunyai modal yang cukup untuk memasuki universitas islam atau pergruaun tinggi Islam lainnya.

Namun kita harus yakin bahwa  untuk mengembalikan madrasah tersebt  dapat dilakukan dengan cepat jika semua pihak yang terkait berkomitmen untuk melakukannya.  Dan itu jika dimulai dari madrasah negeri dibawah kendali kemeterian secara langsung.  Dengan ebgitu insyaallah kita akan  secepatnya menyerkan kepada masyarakat untuk kembali ke madrasah dengan kebanggan dan kepercayaan.  Semoga  hal tersebut dapat  kita wujudkan dalam waktu yang tidak lama, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.