NIKMATNYA BERBAGI

Kita semua tahu bahwa agama kita selalu menganjurkan kepada kita sebagai umatnya untuk melakukan hal terbaik, yang salah satunya ialah mau berbagi rizki kepada sesama atau dengan kata lain bersedekah, karena  banyak sekali hikmah dari sedekah tersebut.  Mungkin  terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu mengenai hikmah sedekah tersebut, namun setidaknya kita dapat merasakan betapa  tenangnya hati dan pikiran kita jika kita terbiasa  melakukannya.

Besedekah itu tidak  harus menunggu jika mempunyai cukup harta, melainkan  dengan harta keseharian yang kita miliki, kita sudah dapat melakukanya, karena yang terpenting ialah bagaimana  sika kita untuk melakukannya secara ikhlas.  Bersededekah dengan  sedikit harta yang kita punya akan jauh lebih bagus  dibandingkan jika kita harus menunggunya sekian lama, meskipun mungkin nilai sedekanya lebi banyak.

Memang bagi kebanyakan manusia hal tersebut akan sangat berat, karena watak manusia yang cenderung kikir dan ingin menumpuk harta.  Namun sesungguhnya  untuk menyiasati agar sedekah tersebut tidak terlalu berat dan terasa sangat ringan, bahkan mungkin tidak akan  terasa sama sekali, jika kita  mampu menyiasatinya dengan baik.  Artinya ada cara kita melakukannya dengan tanpa “merugikan” keuangan kita.

Meskipun sesungguhnya  dengan sedekah tersebut kita tidak akan merugi, melainkan malah justru beruntung.  Kita semua tahu bahwa Allah swt sudah berjanji dalam kitab suci bahwa barang siapa yang datang dengan membawa kebaikan, maka dia akan dil]balas dengan sepuluh kali lipat, dan bahkan  dalam ayat lainnya jika  derma tersebut dijalankan  untuk kebaikan dan karena agama Allah, maka dia akan dibalas hingga 700 kali lipat dan bahkan bisa lebih banyak.

Lalu kenapa masih banyak diantara umat manusia yang tidak tertarik?.  Mungkin persoalannya bukan pada keyakinan, melainkan karena  balasan tersebut belum dapat dinikmati di  dunia sehingga mereka tidak tertarik. Namun  bagi mereka yang sangat yakin  dan penuh keikhlasan, Tuhan akan memberikan keberuntungan juga di  dunia.  Sudah banyak terjadi mereka yang menolong sesamanya dengan ketulusan, lalu di dunia ini Tuhan  memberikan balasan yang sangat banyak, meskipun tentu melalui wasilah tertentu, dan bukan sekoyong koyong datang pemberian Tuhan.

Kembali kepada bagaimana kita menyikapi sedekah tersebut  agar tidak terasa mengganggu keuangan kita, sesungguhnya bayak cara yang dapat dilakukan.  Salah satu yang dapat dilakukan dengan sangat mudah ialah  ketika kita melakukan transaksi dengan siapapun, teruyama kepada para pedagang kecil, semacam tukang sayur dan sejenisnya, kita upayakan mendapatkan harga yang sesuai dengan  tawaran mereka.  Kalau harga seluruh belanjaan kita ternyata  berada dalam hitungan genap uang kita, semecam  5,10,20, 50 dan seterusnya, maka usahakan agar kita menambah belanjaan sehingga menjadi tidak  pas.

Artinya  tambahan belanja tersebut  dengan melihat harga kebiasaan, semisal menambah tempe atau tahu atau sayur lainnya, sehingga menjadi tidaka genap.  Misalnya belanjaan kita y6ang asalnya  hanya 20.000, kemudian menjadi 22.500, atau  dari 40.000 menjadi 45.000 atau 47.000, dan lalu kita bayar dengan uang  lima puluia ribu tanpa harus meminta  kembalian.  Jika  tukang sayur akan mengembalikan uang, cukup katakan tidak usah itu buat ibu atau bapak, itu saja.

Jika kita membeli bensin di pompa bensin, misalnya  akan membeli dengan uang seratus ribu, maka cukup katakan  bahwa kita akan membeli 95.000,  dan ketika petugas akan memberikan kembalian, maka kita juga cukup mengatakan tidak usah, untuk sampeyan saja, dan seterusnya. Mungkin sedekah yang sedikit tersebut tidak akan membuat penerimanya  akan menjadi kaya dan juga idak akan menjadikan kita miskin, namun di sana pasti ada sedikit senyum atau rasa bahagia, dan itulah nikmat yang dapat kita rasakan karena berbagi  dengan sesama.

Bagi yang terbiaya  melakukan perjalanan dan menggunakan jasa taksi, juga sebaiknya tidak memberikan uang pas, melainkan dilebihi sehingga kita dapat berbagai dengan mereka.  Kalaupun mereka tidak mengucapkan terima kasih pun, dan ini sangat jarang, karena yang  terjadi ialah  sang sopir takn=si pasti akan mengucapkan terima kasihnya, kita  tetap akan  merasa senang karena telah dapat memberikan sesuatu untuk  tukang taksi.

Kenikmatan lainnya dengan bersedekah ialah Allah swt akan memberkan kesehatan kepada kita dan menghindarkan darisegala macam  kesusahan.  Memang ada sebagian orang yang suka bersedekah lalu diberikan sakit oleh Tuhan, namun  kita  harus meyakini bahwa seandainya dia tidak  rajin bersedekah, maka   sakutnya akan  sangat menyusahkan dan sulit didapatkan obatnya.  Bersedekah memang akan mampu  menghindarkan  dari  balak atau  sesuatu yang tidak menyenangkan.

Bahkan jika kita melakukan sedekah tersebut secara kontinyu dan konsisten setiap saat atau setiap harui, meskipun hanya sedikit,  niscaya Allah swt akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi kita.  Salah satunya ialah kepuasan batin yang  dapat dirasakan sedemikian nikmatnya. Bahkan kita yakin bahwa dengan bersedekah secara rutin tersebut, akan mampu menjadikan diri kita kaya dalam arti yang sesungguhnya.

Kita mungkin tidak mengira bahwa kekayaan itu bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi ada dalam hati dan kepuasan kita  menikmati harta yang diberikan oleh Tuhan, sehingga kita tidak lagi membutuhkan harta yang bukan hak kita.  Dengan kata lain kekayaan itu  ada pada hati, sehingga tidak akan  terterik untuk merebut hak pihak lain atau akan melakukan sesuatu yang merugikan pihak lain, dan yang pasti tidak tamak terhadap harta.

Dengan demikian  ketika kita senantiasa rajin bersedekah harta kita akan emnjadi cukup dan tidak akan jatuh menjadi miskin, melainkan justru akan merasakan betapa kayanya kita terhadap harta yang Tuhan berikan.  Namun sekali lagi belum banyak umat manusia yang dapat merasakan hal ini dan bahkan untuk menerima dan meyakininya saja  belum dapat.  Karena itu kehidupannya di dunia akan senantiasa diwarnai oleh ketamakan dan keinginan yang bukan bukan, termasuk ingin merebut milik orang lain atau ingin mendapatkan harta dengan menyakiti pihak lain.

Nah, kita  justru berharap bahwa umat akan  memberikan  apresiasi kepada  siapapun yang hidupnya tampak tenang dan selalu  bersedekah.  Bukankah  hidup di dunia ini hanya sementara dan  paa akhirnya akan kembali ke alam baka menghadap Tuhan dan mempertanggung jawabkan semua peri laku kita?. Lantas apa yang kita andalkan jika kita suda benar benar menghadapnya nanti?  Coba bayangkan hal ini dan kemudian apa yang sudah kita dapatkan di dunia?

Bukankah kita ingin di dunia  selalu bahagia dan nanti di akhirat juga bahagia?. Lantas dimanakah letaknya kebahagiaan itu?.  Kita sangat yakin jika kita  benar benar ingin menggapai kebag=hagiaan, jalannya cukup mudah dan simpel, yakni mau menjalankan ibaah kepada Allah swt dengan tulus dan sekaligus juga mau berbagi harta kepada sesama. Kalau kedua hal tersebut belum dapat membahagiakan kita, coba kita introspeksi diri, apakah kita sudah tulus dalam berbuat dan berbagi tersebut, dan apakah perilaku kita juga sudah  baik dihadapan orang banyak?

Jika jawabannya  ialah sudah, maka  insyaallah pasi kita akan merasakan kebahagiaan sejati yang kita cari.  Meskuipun untuk kebahagiaan  di dunia, kita belum menganggapnya sebagai kebahagiaan sejati, tetapi setidaknya secara substansial kita sudah merasakan kebahagiaan tersebut.  Kita tidak usah meragukan hal ini dan tidak usah menunda untuk berbagi, karena hal tersebut anya akan menyakiti diri sendiri.

Mari mulai hidup kita dengan menjalankan kebajikan, terutama  dengan memberi atau bersedwka kepada sesama, seberapapn yang kita punya dan mampu. Muda mudahan Allah swt membukakan pntu hati dan pikiran kita sehingga kita  mudah menerima  sesuatu yang baik dan sekaloigus  dijalankan, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.