REUNI

Kesibukan yang menyita hamper seluruh waktu terkadang  menjadikan kita sangat rindu bertemu dengan kawan lama, terutama pada saat sekolah maupun kuliah.  Kerinduan tersebut semakin terasa jika  kita sedang merasa sepi dan  tidak ada sesuatu yang dapat menarik untuk dikerjakan, apalagi  ditambah dengan keingin tahuan kita untuk bertemu secara langsung dengan beberapa kawan lama yang mempunyai kebiasaan khusus.

Tuntutan untuk  bersatu kembali dalam sebuah pertemuan, merupakan sebuah keniscayaan dan normal, karena bagaimanapun terkadang ingatan  masa lalu  akan muncul dan sulit untuk dibatasi.  Jadilah kemudian dilakukan  temu kangen yang didesain dengan reuni  atau penyatuan kembalai, meskipun hanya sebentar, namun biasanya akan memberikan kesan mendalam yang sulit dilupakan.

Terkadang  diantara kita   masih selalu berhubungan, terutama melalui social media, tetapi terkadang ada kawan kita yang tidak  tahu kabar beritanya dan tidak  pernah pula berhubungan melalui  media social dan lainnya.  Bahkan terkadang salah seorang kawan kita ada yang sudah mendahului kita menghadap kepada Tuhan  dan lainnya.  Mungkin juga ada diantara kawan kita yang  enggan untuk bertemu dengan kita, disebabkan kehidupannya yang  tidak mapan.

Nah, kalau kemudian disatukan dalam sebuah  pertemuan khusus, seperti itu biasanya  orang akan  mudah menyempatkan diri untuk datang.  Bahkan yang biasanya tidak mau bertemu dengan kawannya  karena mungkin malu, atas keberadaannya yang  miskin misalnya, pada saat seperti itu akan menyempatkan datang, meskipun tetap saja dengan rasa was was.  Namun  ketika sudah bertemu dengan kawan lamanya, ternyata semuanya  mau menyapa, dan tidak mempermasalahkan keberadaan dan kedudukannya.

Sesungguhnya kesempatan seperti itu akan sangat menguntungkan   semua pihak.  Bagui mereka yang kehidupannya  tidak  atau kurang mapan, mungkin akan mendapatkan informasi penting untuk meningkatkan taraf hidupnya, atau setidaknya dapat  memberikan harapan kepada anak anaknya untuk  menjadi lebih  mempunyai masa depan yang lebih bagus.  Banyak ragam kemanfaatan yang dapat diperoleh dalam pertemuan seperti itu, meskipun kita  tidak mengelak, ada sebagian diantara  orang yang  sulit untuk berkomunikasi.

Ataua bahkan  sulit untuk  bergaul dengan mereka yang tidak sukses atau mereka  merasa tidak selevel.  Namun  tipe orang yang seperti itu, apalagi kalau  dengan kawan lamanyaa sendiri, pastinya tidak banyak.  Kalaupun ada  maka orang tersebut  dapat dipastikan tidak akan mendapatkan simpati dari sleuruh kawan kawannya.

Reuni memang merupakan kata yang  sudah banyak digunakan dan dipraktekkan oleh banyak orang, karena  keuntungannya yang sangat jelas dapat diperoleh, terutama  rasa kangen  bertemu dengan banyak kawan lama, yang mungkin akan pangling jika hanya bertemu di jalan.  Nah, dengan   mendatangi  acara reuni tersebut, orang akan dapat mengenang kembali kenakalan dan kelucuan kawan  lamanya.  Bahkan  mungkin kelucuannya tersebut masih akan terus dibawanya hingga tua.

Biasanya reuni tersebut  diagendakan dengan dibersamakan dengan kegiatan semacam seminar atau sejenisnya.  Harapannya  agar tidak hanya sekedar bertemu dan kemudian makan makan, lalu pulang, namun  diharapkan agar ada kenangan  dan ilmu yang dapat diserap oleh para  anggota alumni yang datang.  Biasanya topiknya ialah tentang ekonomi atau tentang pekerjaan  dan lainnya, bukan tentang keilmuan murni.

Lain lagi manakala reuini tersebut dilaksanakan oleh para santri dari sebuah pesantren atau dari madrasah di lingkungan pesantren, maka biasanya yang dilakukan ialah tahlilan dan kemudian ada ceramah keagamaan.  Mungkin sebelumnya juga akan didahului oleh kangen kangenan, saling bersalaman dan bercerita tentang keluarga, dan jarang sekali bercerita   tentang kekayaan atau pekerjaan, malahan biasanya  cerita tentang pesantren yang telah dibukanya.

Biasanya pula  dalam reuni pesantren tersebut, anggotanya  banyak yang datang, meskipun bertempat tinggal sangat jauh, karena ada unsur takdhim kepada guru, apalagi kalau reuni tersebut dilaksanakan di sekolah asal mereka atau di pesantren mereka.  Demikian juga  hal yang menarik untuk didatangi ialah karena tidak ada keraguan sedikitpun untuk malu karena merasa  miskin, karena rata rata anggotanya ialah  relative sama dalam hal perekonomiannya.

Kalaupun ada sebagian santri yang kemudian menjelma menjadi jutawan, namun  kesederhaan akan terus diperlihatkan oleh santri tersebut, sehingga hubungannya dengan santri atau alumni lainnya yang relative ekonominya  lebih lemah, tidak menjadi penghalang hubungan mereka.  Barangkali itulah salah satu kelebihan santri dibandingkan dengan selain santri atau alumni madrasah.

Saat ini saya juga merasakan betapa  berkumpul bersama para  santri yang sudah menjadi kiai atau ustad sangat mendesak.  Pada saat ada group WA dan  banyak  santri yang dapat berkomunikasi lewat WA, ternyata  semakin menyulut minat untuk dapat bertemu secara langsung.  Berbagai pernyataan atau  tausiah yang disampaikan lewat WA rupanya  masih dirasakan kurang jika belum dapat bertemu secara langsung dengan orangnya.

Memang kita dapat ikut merasakan betapa rindunya orang orang tua yang sudah sekian lama tidak dapat berjumpa dengan rakan rekannya  yang dahulu selalu bergurau bersama,  berdiskusi bersama dan makan pun juga bersama.  Dorongan untuk segera  dilaksanakannya reuni tersebut memang tidak dpat dibendung lagi, sehingga kemudian diusulkan agar pemangku pesantren dan madrasah dimana  dahulu  para santri  belajar di sana didaulat untuk segera mewujudkan reuni tersebut.

Kita pun akhirnya yakin bahwa dengan reuni tersebut yang hakekatnya ialah bersilaturrahmi, akan  mendatangkan banyak manfaat bagi para anggota yang datang.  Tausiyah kiai pun tentu akan sangat ditunggu, terutama yang terkait dengan berbagai solusio atas  banyaknya persoalan  di masyarakat.  Demikian juga tentang maraknya kelompok yang  mengaku paling benar dan sekaligus juga menyalahkan dan menganggap sesat pihak lain dan  lainnya.

Reuni yang dilaksanakan oleh para santri  tersebut tentu akan berbeda dengan reuni yang dilakukan oleh mereka yang menjadi alukni sebuah  SMA misalnya.  Sebab para umumnya mereka itu justru lebih mementingkan kenangan  masa muda  dan cerita tentang keberhasilan merka, terutama dalam hal kehidupan duinia, ketimbang  menceritakan tentang bagaimana kehidupan mereka terkait dengan  banyaknya  orang miskin dan  anak anak yatim yang tidak terurus dan lainnya.

Reuni yang diselenggarakan oleh  para alumni sekolah umum, biasanya  tidak ada kesan mendalam terkait dengan tindak lanjut terhadap sebuah  rencana, melainkan hanya sekedar bertemu, kangen kangenan, makan makan dan kemudian pulang dengan kenangan masing masing.  Bahkan terkadang  pertemuan  reuni tersebut malah akan menyisakan masalah, karena  ada yang tersinggung dengan sikap dan pernyataan kawannya yang kebetulan  saat ini menjadi kaya dan sukses dalam karir.

Sebaliknya jika yang berreuni itu  para santri, sudha barang tentu akan lebih asyik, karena makanannya juga akan disesuaikan dengan selera santri, sejak zaman dahulu.  Bahkan mungkin bagi santri yang sudah menjadi orang kaya misalnya, akan merindukan maklanan khas santapan santri sepertio sambal terong, atau kangkung dan  sejenisnya yang dimasak khas ala santri.  Hal yang lebih ngangeni ialah tausiyah kiai yang dengan Bahasa Jawa nglotok, tentu akan menambah semaraknya reuni tersebut.

Mudah mudahan  jeritan para santri yang diumabr dalam media social dan lebih ditujukan kepada kiai untuk mengumpulkan para santri yang sudah sepuh tersebut akan segera tersalurkan dan  apa yang menjadi keinginan sebagaian besar mereka akan benar benar tersalurkan dengan baik. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.