BAGAIMANA MASA DEPAN PENDIDIKAN KITA?

Akhir akhir ini kita.  Terutama instansi pemerintah, termasuk instansi pendidikan, disibukkan oleh adanya efisiensi anggaran.  Mungkin bagi instansi yang  basah dengan anggaran dan setiap tahunnya tersisa sangat banyak dan mungkin juga dalam pelaksanaannya masih terjadi penyimpangan dan tidak efektif, kita sangat mendukung kebijakan tersebut.  Itu disebabkan bahwa uang negara yang sebagiannya masih meminjam dari negara lain, ternyata tidak digunakan secara efektif dan masih  terasa  dihamburkan.

Namun kalau kemudian kebijakan tersebut etrnyata  diberlakukan secara rata terhadap seluruh instansi pemerintah, maka  ada akibat yang diderita  oleh sebagian instansi etrsebut, teruatama  yang  sudah  dibiayai dengan sedikit anggaran dan etiap tahunnya masih kekurangan.  Kita lihat saja misalnya di instansi pendidikan yang selama ini belum pernah mendapatkan anggaran memadahi, lalu harus dipotong, demi efisiensi tersebut, maka  sangat terasa  bahwa  dunia ini rasanya akan kiamat.

Bayangkan saja kalau kebijakan  umum pemerintah RI telah menetapkan melalui  undang undang bahwa  anggaran untuk pendidikan ialah minimal 20% dari total anggaran APBN, tentu  anggaran pendidikan akan terasa sangat baik, dan kebutuhan dasar sebuah lembaga pendidikan akan tercukupi, namun dalam kenyataannya  politik anggaran kita, teruatam  di dalam kementerian yang bukan saja  mengurusi soal pendidikan, masih sangat mengenaskan.

Pembenahan terhadap masalah tersebut sesungguhnya sudah disuarakan sejak cukup lama, dan hingga sat ini belum menuai hasil yang menggembirakan dengan alasan klasik, yakni uangnya terbatas.  Padahal secara kasat mata kita menyaksikan betapa banyak uang yang tersedia dan hanya mangkri di kementerian dan untuk kegiatan yang relative kurang bermanfaat bagi dunia pendidikan.  Lalau ketika  ada  kebijakan efisiensi, seharusnya  tidak perlu mengusik anggaran di lembaga pendidikan  yang  masih kurang tersebut.

Eh nyatanya  dua kali dalam setahun ini dunia pendidikan diributkan dengan pemotongan anggaran, sehingga jangankan berpikir prestasi, hanya sekedar berpikir  hidup saja  sudah  susah.  Seharusnya yang dipotiong itu anggaran yang dipusat yang  tidak uhntuk kepeentingan pendidikan secara langsung.  Beberapa program kegiatan yang dilaksanakan oleh kementerian dalam semua  bagiannya ternyata  kelihatan hanya  untuk menghabiskan anggaran saja.

Tentu hal tersebut akan sangat bermanfaat jika disalurkan ke lembaga pendidikan di daerah yang selama ini merengek terus karena kekuranga anggaran.  Kita tahu bahwa seharusnya  kementerian pusat hanya cukup  menyelenggarakan koordinasi dan regulasi saja, dan bukan emnjalankan kegiatan yang seharusnya menjadi  program lembaga pendidikan, seperti perguruan tinggi.  Namun  himbauan tersebut rupanya  tidak digubris, sehingga sampai saat ini masih saja cengkeraman pusat begitu kuatnya.

Hal yang lebih menyedihkan lagi ialah ternyata tugas tugas yang seharusnya ditangai oleh pusat tersebut malah berantakan, bahklan ada yang seharusnya dapat diselesaikan dalam satu minggu saja, harus  sampai bertahun belum selesai.  Inilah kenyataan dunia kita yang  tidak kunjung ada perbaikan.  Terkadang saya  merasa “putus asa” untuk menyuarakan perbaikan, karena dalam kenyataannya tidak ada satu[un pihak yang mau mendengarkan dan melakukan perbaikan.  Mungkin sudah ada semacam akar yang kuat dalam  kementerian, sehingga akan sangat susah mengubahnya, terkecuali ada pihak lain yang benar benar berpikir masa depan bangsa.

Khsusu bagi pendidikan tinggi yang didalamnya harus ada berbagai kegaiatan , seperti penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, misalnya, ternyata  sama sekali kurang mendapatkan dukungan finansial dari  kementerian, padahal kita smeua tahu bahwa a prestasi dan kualitas perguruan tinggi  akan dinilai dari keilmuannya dari hasil hasil riset yang dilakukan secara mendalam dan sungguh sungguh.

Dalam kenyataannya saat ini kita belum melihat hasil penelitian dari perguruan tinggi kita yang benar benar berbobot, dan  dapat dijadikan sebagai referensi oleh masyarakat dunia.  Salah satu sebabnya ialah karena  penganggaran untuk penelitian tersebut sangat minim.  Bagimana mungkin kalau peneliotian hanya dibiayai dengan bebrapa juta saja, tentu akan akan jalankan dengan  seadanya dan tidak mungkin   akan mengjhasilkan sebuah laoporan penelitian yang berbobot dan handal.

Jikalau para pengambil keputusan dan kebijakan di kementerian tidak memikirkan hal tersbeut, sampai kapanpun  perguruan tinggi kita  juga akan seperti ini terus tanpa ada kemajuan yang berarti, terutama dalam hal hasil karya ilmiahnya.  Saya sendiri juiga sangat prihartin dengan  arah perguruan tinggi kita, karena hingga saat ini kita belum mempunyai grand design dana rah perguruan tinggi kita, sehingga masing masing PT menetukan sendiri arahnya, dan  lebih parah lagi kalau pimpinannya sama sekali tidak mempunyai ghirah untuk itu.

Saya menyaksikan sendiri masih banyak pimpinan perguruan tinggi yang hanya menjalankan tugs rutin saja dan tidak ada greget untuk membuat kemajuan  dan terobosan  sehingga  keberadaan perguruan tinggi tersebut hanya jalan di tempat.  Bukan mati, melainkan tidak ada peruibahan  dan peningkatan dalam bidang penting dalam sebuah perguran tinggi.  Ini sunggun menyedihkan. Lalu apa yang dilakukan oleh para pengambil kebijakan di kementrian? Entahlah kita sama sekali tidak tahu jalan pikiran mereka.

Kalau kita tidak mempunyai  keingina kuat untuk maju, maka  pasti kita sama sekali tidak akan pernah maju, karena  tidak ada dorongan dan target yang dibebankan oleh kementerian kepada kita, sehingga kalau kita mau kita cukup menjalani kegiatan rutin saja sudah selesai.  Namun  karena kami merasa mendapatkan mandate dan amanah untuk memajukan  perguruan tinggi, maka apapun yang terjadi, kita akan maju terus dan melakukan ebrbagai inovasi agar  perguruan tinggi kita menjadi semakinmaju  dan berkualitas.

Kalaupun anggaran yang diberikan oleh kementerian sangat minim, maka  akan kita kelola dengan seefisien mungkin, sehingga semuanya akan menjadi baik.  Bahkan ketika anggaran yang sudah minim tersebut masih harus diefisiensi atau dipoong oleh pusat, kitapun akan mengamini saja, meskipun kita tetap bersuara untuk pemerintah tidak salah dalam mengambil kebijakan.

Sangat teras bagi kita atau sebagian dari perguruan tinggi, bahwa ada ketidak adilan dalam penganggaran  oleh kementerian, karena  standarnya tidak jelas, atau tidak dilakukan secara konsisten sesuai dengan standar yang ada.  Mungkin ada semacam pendekatan “siapa yang mendakat maka itulah yang akan emndapatkan kue banyak”.manusur saya  kondisi tersebut harus segera diakhiri, karena  kita  merupakan lembaga yang beradap dan sekaligus juga lembaga yang kridibel dalam  berbagai aspek kehidupan, dan bukan lembaga yang dapat dimainkan oleh  pihak tertentu.

Kita smeua berharap segera ada kebijakan yang berpihak kepada kemajuan lembaga pendidikan tinggi kita, sehingga semuanya akan merasa bertanggung jawab untuk mewujudkan cita cita dan kebijakan tersebut. Hal yang juga penting untuk dilakukan kebijakan ialah  kedailan dalam penganggaran, sehingga ada ketenangan dalam bekerja  dan seluruh pimpinan akan dapat mengatur  anggarannya tersebut sesuai dengan prioritas kegaiatan yang  diprogramkan.

Hanya saja seluruhnya harus mengarah kepada pencapaian  target yang ditentukan.  Karena itu harus segera pula disusun  grand design perguruan tinggi kita, dan kita semua akan bersama sama mewujudkan tunuaj dari arah dan kebijakan yang telah diambil tersebut.  Selama  hal tersebut belum dilakukan, maka  perguruan tinggi kita tidak akan kemana mana dan  pasti tidak ada presatasi yang membanggakan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.