UNTUK MAHASISWA YANG MEMULAI KKN

Kemarin, Selasa tanggal 27 September, saya melepas mahasiswa yang  ber KKN di kabupaten Boyolali, sebanyak 500 mh lebih. Sebagaimana biasanya mereka akan menjalankan program programnya selama  satu setengah bulan, dan setelah itu mereka akan kembali lagi ke kampus untuk meneruskan kuliah dan mempersiapkan diri menjelang ujioan akhir dan  skripsi.  Nah, dalam  kesempatan itu saya hanya berpesan pendek kepada mereka, yakni agar menjaga diri, menjaga almamater dan juga  menjaga masyarakat.

Thema pesan saya tersebut memang  menjaga, sebab kita tahu  bahwa saat ini di daerah kita sedang musim penghujan, meskipun kalau dilihat dari kebiasaannya, bulan ini masih bulan kemarau, tetapi dalam kenyataannya  saat ini setiap hari turun hujan, sehingga di lokasi KKN harus ekstra hati hati, agar tidak terjadi hal hal yang tidak kita inginkan, terutama  dalam mengendarai sepeda motor.  Jalanan akan menjadi licin  dan akan dapat mengakibatkan  jatuh.

Karena itu pesan untuk berhati hati dan menjaga diri harus terus diingat. Bukan untuk siapa siapa, melainkan untuk diri sendiri, keluarga dan seluruh anggota tim KKN.  Kita dapat membayangkan jika  terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, semisal jatuh dan mengalami  sakit yang cukup lumayan, maka yang disibukkan bukan hanya diri sendiri, melainkan juga  keluarga yang  ada di rumah, kawan tim KKN, dan juga masyarakat  di sekitar serta institusi UIN Walisongo.

Terkadang  anak muda itu tidak  cwermat dan hanya asal  keinginannya terpenuhi, sehingga kurang  memperhatikan kondisi sekitar, termasuk jalan dan lainnya.  Kalau tidak diingatkan, biasanya juga  lupa, sehingga pesan saya sebagaimana tersebut saya anggap sebagai hal yang penting, meskipun mungkin ada sebagian  orang yang menganggapnya biasa biasa saja.

Keduanya ialah menjaga almamater, maksudanya ialah bahwa  kepegian mereka ke lokasi KKN ialah  ditentukan oleh tim dari LP2M atau institusi dan  keberadaan mereka di desa juga dengan membawa misi UIN Walisongo, sehingga  mereka sudah seharusnya  akan menjaga nama baik almamater.  Semua tahu bahwa UIN adalah kampus Islam yang tentu harus menjadikan Islam sebagai  p[edomannya, termasuk dalam kehidupan sehari hari.

Nah, karena itu seluruh mahasiswa yang sedang menjalankan misi KKN tersebut harus dapat menjadikan diri mereka sebagai teladan bagi masyarakat dalam hal kebajikan.  Akhlak karimah harus terus dipegang, dan jangan sampai justru sebaliknya,  mereka malah menjadi biang kerusuhan ataupun biang  pelaksanaan kemaksiatan dan lainnya. Akhlak memang menjadi sebuah  tolak ukur  kepribadian seseorang, sehingga  sangat dibutuhkan konsistensinya dalam  dataran riil di masyarakat.

Kita menginginkan bahwa masyarakat desa dimana dilaksanakan KKN akan terkesan mendalam dengan para mahsiwa yang  sedang bertugas tersebut, baik dalam hal kelakuannya yang santun, dalam  spirit kerjanya yang ingin membangun dan menyadarkan amsyarakat untuk memperbaiki diri dan terus membangun, maupun dalam mengamalkan ajaran syariat islam dengan konsisten.  Kesan tersebut sekaligus akan  menelorkan setidaknya dua kemanfaatan.

Dua kemanfaatn tersebut  ialah manfaat bagi diri sendiri yang pasti akan  diapresiasi oleh masyarakat, an boleh jadi ke depannya masyarakat akan mengingat terus terhadap diri mereka, dan keduanya ialah manfaat bagi almamater, yakni UIN Walisongo.  Kemanfaatannya  sangat jelas yakni mereka akan  tertarik dengan UIN dan p[ada saatnya nanti anak anaknya juga akan dimasukkan ke UIN Walisongo.  Jadi  semuanya termasuk dakwah yang sangat  baik  dan mungkin itulah salah satu model yang  harus dipikirkan untuk dilakukan dalam  beerbagai kesempatan.

Sosialsisasi  lembaga bukan hanya melulu dengan  mendatangi  masyarakat dan menjelaskan tentang berbagai  kegiatannya, melaionkan juga dengan  menjadikan diri kita sebagai teladan bagi masyarakat, terutama  bilamana kita memrankan diri dan mengatas namakan  institusi. Nah, pada saat KKN itulah kesempatan bagi kita , khususnya bagi para mahasiswa untuk menujukkan diri kepada masyarakat secara langsung.

Almamater UIN Walisongo adalah milik kita bersama, dan bukan hanya milik beberapa orang pimpinan saja, karena  pimpinan itu sangat terbatas, dan hanya  mengelola, dan mengarahkan jalannya roda organisasi agar  tujuan UIn dapat tercapai dengan baik sesuai dengan tahapan waktu yang sudah disusun dan tetapkan bersama.  Semua pihak yang tergabung dalam UIN seharusnya  merasa memilikinya dan berusaha untuk terus meningkatkan kualitas serta mengembangkannya  sedemikian rupa sehingga akan dapat dibanggakan oleh  semua orang, termasuk masyarakat.

Pimpinan,  para dosen, karyaan dan juga mahasiswa secara bersama sama berkewajiban untuk menjaga nama baiknya dan sekaligus juga berusaha untuk menunjukkan   hal hal baiknya kepada masyarakat secara luas, dan tentu harus berusaha untuk menghindari dari berbuat  buruk, yang pasti nantinya akan berakibat  dan menimpa juga kepada lembaga.  Di situlah peran mahassiwa KKn  sangat strategis untuk mewujudkan kiprah mereka dalam mensosialisasikan UIN kepada masyarakat banyak.

Sementra itu pesan saya  untuk menjaga masyarakat ialah jangan sampai kedatangan para mahasiswa KK di desa desa  justru malah menimbulkan persoalan baru  di sana.  Kalau misalnya masyarakat selama itu  sudah kondusif dan  sama sekali tidak ada persoalan, maka para mahasiswa juga harus tetap menjaga kekondusifan tersebut, sambal terus melakukan perbaikan dalam sector yang memungkinkan, utamanya yang terkait dengan thema KKN yang sedang berjalan.

Bahkan kalaupun misalnya di masyarakat sudah ada bibit konflik diantara warga atau perorangan, baik terkait dengan persoalan p[olitik ataupun lainnya, maka sebaiknya para mahasiswa tidak  terloibat di dalamnya, melainkan  harus  memeankan diri sebagai orang netral  dan  berusaha ingin kebajikan di desa tersebut.  Artinya jika  sikap mahasiswa tersebut tidak berpihak kepada  salah satu kelompok dan selalu menyuarakan kebenaran dan keadilan, insyaallah merka akan  meredakan diri dalam konflik tersebut.

Karena itu sikap dan keteladananlah yang akan memerankan seseorang sebagai  pihak yang tidak  akan dituduh sebagai  pihak yang merugikan pihak lain.  Masyarakat tentu akan dapat menilai  sikap kita tersebut dan pastinya kalau kita berpijak kepada jalan netral dan tidak ingin melibatkan diri dalam konflik yang ada,  bahkan mungkin pada saatnya mereka justru akan meminta kepada para mahssiswa untuk menjadi penengah dalam konflik tersebut.

Namun harus ekstra hati hati, sebab kalau tidak  mampu menjadi juru rundang dan penengah,  maka justru akan terpuruk dalam kubangan yang sulit  keluar.  Kita tahu bahwa untuk menjadi juru  damai, seseorang hartus mempunyai ilmunya, dan juga harus  mengetahui  akar masalahnya, sehingga tidak salah dalam melakukan perdamaian.

Kesalahan  banyak orang dalam masalah seperti ini ialah kuyrang teliti dan tidak mendalami akar persoalannya, dan hanya mendengarkan satu pihak saja yang pasti akan memberikan informasi yang tidak adil.  Nah, untuk itulah diperlukan ilmu yang memadahi dan kecermatan serta sikap bijak.  Kalau  para mahasiswa menilai dirinya tidak akan mampu melakukan tugas  berat tersebut sebaiknya tidak usah masuk dan tidak usah  memberikan kesanggupan untuk menjadi  penengah konflik tersebut.

Itulah makna menjaga masyarakat yang saya pesankan kepada  para mahasiswa yang ber KKN.  Semua  pesan saya tersebut dimaksudkan agar mereka dapat focus dan menalankan kegiatan serta program KKN dengan baik dan berhasil.  Semoga  mereka dapat menjalankan tugas dan misi dengan baik dan  mendapatkan pengalaman yang berharga untuk kehidupan mereka selanjutnya. Amin.

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.