PERTARUNGAN UNTUK DKI 1

Pada akhirnya uncul iga  pasagan calon gubernur DKI untuk pemilihan tahun 2017 nanti, setelah sekian lama  selalu tersamarkan.  Mungkin munculnya tiga pasang calon  tersebut cukup mengagetkan, tetapi sesungguhnya itu merupakan hal yang normal karena  politik memang sangat dinamis dan mudah berubah sesuai dengan keptusan akhir  pada detik detik akhir pula. Mungkin ada awalnya sema akan menunggu sikap PDIP yang banyak digadang gadang akan memajukan  walikita Surabaya Risma.

Kondisi tersebut seolah memang sengaja digantungkan, sehingga   piahklainnya sangat gerah dengan posisi menggantung tersebut, tetapi PDIP mempunyai hak tersendiri, karena  dia  dapat mengajukan calonnya sendiri tanpaharus berrkoalisi dengan partai lain.  Itulah ang membuat piha ain kemudian tetap menunggu untuk keputusannya mengusung siapa.

Pada prinsipnya semua partai politik berkeinginan untuk tidak mengusung petahana, kecuali yang sudah mendukung, yakni Golkar, Hanura dan  Nasdem.  Nah, jika  PDIP mengusung selain Ahok, dapat dipastikan seluru partai tersisa akan bergabung, namn semua itu akhirnya hanya menjadi  kenangan semata, karena keputusan PDIP ternyata tetap mendukung petahana dengan harapan akan mampu meneruskan program yang suda berjalan.

Tentu saja semua  parpol kelimpungan, dan hartus menetapkan paslon secara  cepat dan  diperkirakan dapat mengalahkan petahana.  Jadilah  mereka justru pecah sendiri dan tidak dapat menyepakati paslon  untuk  menandingi petahana.  Koalisi empat patai, yakni Demokrat, PPP, PKB, dan PAN, akhirnya menyepatai  paslon yang sama sekali tidak terduga sebelumnya, yakni Agus Hari murti Yudoyono dengan Selfiana Murni, lalu Gerindra  dan PKS akhrinya juga menyeakati  paslon yang  tidak diprediksi sebelumnya, yakni Anis Baswdan dan Sandiaga Uno.

Dengan kondisi seperti ini tentu banyak rang memprediksi bahwa petahan akan dengan muda melenggang, namun tunggu dulu, karena  segala sesuatu itu dapat terjadi.  Menurut saya   untuk menjadi seorang gubernur itu merupakan sebuah akdir, disamping tentu usaha maksimal dai para pendukungnya.  Karena itu kita tidak perlu menduga duga, apalagi memastikan bahwa pasangan tertentu pasti akan memenangkan pilkada DKI.

Bisa saja kalau Tuhan menghendaki bukan  petahana yang jadi,  maka dengan mudah Tuhan akan  merealisasikannya.   Masalah hitung hitungan lahir, memang  petahana dengan masuknya PDIP akan semakin mudah memenangkan pencalonan DKI tersebut, namun sekali lagi akan sangat mudah bagi Tuhan jika menghendaki.  Boleh saja orang meyakini bahwa petahana akan memang, tetapi kalau saya kalaupun nanti akhirnya menang, saya tetap tidak akan meyakininya.

Bisa saja piljada DKI akan berjalan  dua putaran, dan kemudian akan ada koalisis lanjutan, dan kalau melihat  gelagatnya saat ini, tidak mungkin  parpol yang kalah tersebut akan bergabung dengan pendukung petahana.  Nah, kalau itu terjadi da soliditasnya  kuat, maka  akan muncul kejutan dimana pasangan yang  underdog ternyata malah mengalahkan yang dianggap kuat.  Itulah takdir Tuhan yang saya maksudkan.

Saya memang tidak ada kepentingan apapun di DKI, karena saya bukan warga DKI, namun menjadi menaraik untuk  merenungkan pilkada DKI, karena  DKI merupakan bu koa negara kita, sehingga seolah menjadi berometer nasional.  Kalau saya menulis ini, semata mata hanya ingin meramaikan saja dan ingin mengingatkan kepada semua phak bahwa  siapapun tidak akan mampu melawan takdir Tuhan.  Jadi tidak perlu kita meyakini  sesuatu yang masih mungkin berubah.

Mungkin kedua paslon yang muncul belakangan sepertinya tidak mampunyai magnet untuk mendulang suara di pilkada DKI,  namun karena mereka didukung oleh parpol, tentu mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk  berkampanye agar calonnya menjadai terpilih. Memang untuk  pilkada tersebut, tidak tergantung kepada  banyaknya jumlah kursi yang dimiliki di  DPRD, namun setidaknya itu juga mencerminkan kepberpihakan  rakyat.

Bagi Anis Baswedan dan Sandi misalnya,  setelah menjadi pasangan calon, tentu mereka akan all out untuk mendapatkan simpati  dari masyarakat.  Demikian juga partai pengusngnya serta tim suksesnya.  Nah,   karena sebagau pasangan yang tidak diunggulkan, biasanya malah lebih gencar dalam mencari dukungan.  Meskipun mungkin  tidak akan  mengubah pendirian  seseorqang dalam pilihannya, tetapi setidaknya akan dapat menjadi piliha berikutnya jika yang menjadi pilihan utama ternyata mengecewakan.

Mungkin pengalaman dala bidang memerintah sebuah daerah, psangan ini belum mempunyai pengalaman, karena memang  nyatanya belum pernah memimpin daerah, tetapi Asns pernah menjadi menteri, sehingga pengalaman dalam birokrasi,  setidaknya sudah ada.  Sementara pasangannya, Sandiaga Uno adalah seorang pengusaha yang tentu mempunyai pengalaman dalam mengelola perusahaan, dan programnya  ialah ingin mensejahterakan rakyat.  Nah, ini menjadi menarik dan jika pandai dalam mengemasnya untuk disodorkan kepada masyarakat dalam upaya  mensejahterakan  mat, tentu akan berhasil.

Demikian juga dengan  Agus yang hanya berpengalaman dalam bidang militer, dan sama sekali belum mempunyai pengalaman dalam bidang pemerintahan dan bahkan juga dalam bidang politik.  Tetapi dia  merupakan perwira muda yang sangat sukses dalam bidangnya dan  merupakan lulusan terbaik  saat kuliah di S2 di tiga universitas.  Tentu itu menjadi salah satu tanda bahwa Agus itu orang cerdas dan meskipun belum mempunyainpengalaman dalam pemerintahan, dia akan mudah untuk menyesuaikan diri.

Apalagi  dia itu  anaknya mantan presiden SBY, jadi tentu kapasitasnya akan dapat dibentuk dalam waktu singkat.  Apalagi kalau kemudian disandingkan dengan Selfiana Murni yang sudah berpengalaan dalam bidang pemerintahan, tentu akan klop dan mungkin kalau hal tersebut dapat dikemas dengan bagus dan ditawarkan kepada masyarakat,  akan menjadi laku. Kita smeua tidak tahu  apa yang akan terjadi.

Sementara itu sampai dengan saat ini  elektabilitas petahana  melalu berbagai survey memag masih paling tinggi, tetapi masih ada waktu  beberapa bulan lagi sehingga kita belum mengeahui secara pasti bagaimana gamnbarannya setelah emndekati waktunya nanti.  Semuanya masih mungkin dan siapapun dari ketiga paslon masih  mungkin untuk memenangkan pilkada, meskipun harus melalui tahapan kedua.

Saya memang tidak ada kepentingan apapun sebagaimana saya tegaskan di atas, namun tentu semua orang berharap bahwa pilkada DKI  aka berjalan dengan sukses dan menghasilkan pemimpinyang dapat mensejaherakan rakyat, dapat  menjalankan roda pemerintahan dengan bersih dan bahkan menjauhan sleuruh aparatnya dari praktek KKN. Itu harapan besar  rakyat, termasuk yang bukan dari warga DKI.

Siapapun yang nantinya terpilih itulah pilihan rakyat DKI  dan kita tidak perlu menyesalinya, apalagi  jika kita bukan warga DKI, dan tentu itulah takdir Tuhan.  Karena itu tidak perlu  saling menghujat dan menyalahkan atau bahkan mencari cari kesalahan pihak lain.  Pesta demokrasi harus dihargai sebagai sebuah keputusan rakyat dankehendak rakyat, dan karena itu  gubernur terpilih nanti harus mengupayakan kesejahteraan rakyat, dan bukan sebaliknya.

Kita juga yakin bahwa program yang akan diusung  oleh para pasalon nanti juga  relatif sama, yakni  membuat DKI semakin baik, terbebas atau setidaknya  mengurangi macet dan banjir dan masyarakatnya menjadi lebi sejahtera, baik material maupun spiritual.   Untuk itu kita juga mendoakan agar  siapapun yang terpilih nanti mampu melaksanakan programnya dengan baik dan meguntungkan rakyat secara umum.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.