MENGUBAH WATAK NEGATIF SANTRI

Kita memang tidak sedang menghakimi santri, yang  dahulu dicap sebagai makhluk jorok, berpenyakitan gudik, sarungan, kampungan, dan  selalu ketinggalan.  Tentu masih banyak lagi label jelek yang ditujukan kepada sosok santri.  Namun  cap negartif tersebuit tidak mengurangi santri untuk terus memperjuangkan nasib umat agar menjadi lebih bagus di masa mendatang.  Para santri sangat sabar dalam menerima cercaan dan abhkan hinaan dari berbagai sudut, meskipun mereka itu sama sama  muslim.

Bahkan  saat ini dimana santri sudah mendapatkan pengakuan dari negara dengan ditetapkannya hari santri, masih saja ada ejekan kepada santri tersebut.  Kita tahu bahwa  pada saat ini santri tidak bisa dipandang remeh lagi, karena symbol yang ditempelkan kepada santri uyang dianggap kolot, tertinggal dan kampungan, ternyata sudah berubah drastic dan mereka tidak lagi kampungan dan tertinggal.  Bahkan  banyak diantara santri yang dapat berprestasi gemilang di tingkat nasional dan dunia.

Para santri di pesantren pun saat ini tidak tertinggal dalam informasi penting, karena mereka juga sudah akrab dengan  akses  internet, sehingga sikap dan pemikirannya pun juga  sudah berubah dan tidak lagi kampungan.  Para santri saat ini tidak saja pandai berbahasa Arab, namun saat ini juga sudah banyak yang pandai berbahasa  Inggris, bahkan mungkin  juga Bahasa lainnya.  Demikian pula julukan  santri sebagai penyakitan gudik, saat ini juga sudah mereda dengan sendirinya, karena secara riil mereka sudah terjangkiti  penyakit terebut.

Kalau kemudian dibantah bahwa saat ini masih ada santri yang gudiken, maka  kita harus mengakuinya, karena secara riil memang  masih ada  kehidupan santri yang dapat dikartakan sebagai jojok.  Tetapi itu sudah  sangat jauh berubah ketimbang zaman dahulu.  Kalau kita mau jujur bahwa  yang bukan santri dan gudiken juga banyak, dan demikian pula yang bukan santri yang  pantas dilabeli dengan beberapa label negative juga banyak.

Seharusnya saat ini  kita sudah tidak relevan lagi  memberikan label jelek kepada santri, karena  masing masing kita  menyadario bahwa kekurangan dan kelebihan sudah sama sama ada di setiap komunitas, baik santri maupun bukan santri.  Santri pada zaman ini sangat jauh berbbeda dengan  santri pada zaman dahulu, karena semua fasilitas, termasuk internet sudah dapat masuk dan dinikmati oleh mereka. Bahkan factor kesehatan pun di pesantren saat ini sudah relative lebioh diperhatikan dan lebih bagus.

Kita sesungguhnya tidajk memaknai santri itu hanya mereka yang masih berada di pesantren semata, melainkan juga mereka yang dahulu berada dan menunut ilmu di pesantren dan saat ini sudah berada di masyarakat, baik yang kemudian mengabdikan diri dalam pemerintahan, sebaai  sewasta, di politik dan lainnya.  Jadi santri saat ini sudah menyebar dan bahkan mewarnai kehidupan  bangsa ini.  Itulah mengapa kemudian pemrintah mengakui peran dan keberadaan santri sebagai pilar yang memperkokoh  kesartuan bangsa.

Santri pada waktu itu juga sangat kuat dalam pembelaan terhadap negara, karena santrio p[asti akan mengikuti apa  kata kiai, dan kita mengetahui bahwa banyak kiai di kalangan pesantren yang terlibat langsung bertempur melawan penjajah, dan juga gigih dalam melawan parkai komunis Indonesia.  Jadi jasa santri untuk bangsa ini sudah diakui dan  diketahui oleh smeua pihak, sehingga pada saatnya peemrintah memberikan  penetapan hari santri nasional, meskipun ada pihak yang belum rela dengan penetapan tesebut.

Kalau kita mau mendeteksi peran santri pada zaman ini tentu akan ditemukan  mereka telah berada di mana mana, dan bahkan mewarnai negeri ini dengan  perannya yang sangat significant dan abgus.  Artinya sangat sedikit atau bahkan hamper tiodak ditemukan  santri yang terlibat dengan persoalan hokum, khususnya korupsi.  Ini tentu merupakan sebuah kebanggan tersendiri, bahkan kalaup[un misalnya ada  satu dua santri yang terlibat masalah hokum, maka itu tidak akan mempengaruhi keberadaan santri itu sendiri.

Barangkali pendidikan karanter yang diterapkan pada saat menjalani kehidupan di pesantrenlah yang telah memperkokoh integritas santri, sehingga tidak mudah tergoyahkan oleh kondisi carut marut yang ada di sekitarnya.  Perjalanan hidupnya yang penuh dengan disiplin dan ketaatan yang total kepada kiai saat dipesantren itulah yang  membuat para santri kemudian mampu memerankan diri mereka dengan sangat bagus di masyarakat.

Namun kita memang harus mengakui bahwa  ada sisi negative santri, khususnya yang terkait dengan kehidupan mereka di masa lalu, khususnya di pesanatren yang hingga saat ini masih melekat, yakni tentang kejorokan,  kekolotan, keterbelakangan dan mungkin juga kampungan.  Tentu  kenegatifan tersebut akan  dapat mempengaruhi  pandangan masyarakat etrhadap mereka. Bahkan kalaupun prstasi sudah banyak ditorehkan sekalipun, kalau disebut santri, sepertinya masih ada pihak yang kurang nyaman.

Pada saat ini sesungguhnya perubahan santri sudah sangat adikal dan jelas dapat dibuktikan dari pengamatan secara langsung, baik santri yang masih hidup di pesantren maupun santri yang sudah berada di tengah tengah masyarakat.  Di pesantren saat ini sudah relative lebih bagus, termasuk tentang aspek kesehatannya, karena untyuk tempat wudlu, bukan lagi kolam besar, melainkan sudah memakai kran, sehingga ketika ada salah satu santri yang sakit mata misalnya, tidak lants seluruh santri akan terkena juga, sebagaimana zaman dahulu.

Tentang  dapur danmakanan yang dikonsumsi mereka juga suah tidak lagi jorok, melainkan sudah  sedemikian besih dan juga memperhatikan tentang menu dan kesehatan secara umum.  Memang masih ada satu dua  pesantren yang masih sangat tradisional sehingga  kondisinya masih mirip dengan pesantren zaman dahulu, akan tetapi jumlahnya sangat sedikit, dan biasanya juga tidak banyak  santri yang menghuni pesantren seperti itu.

Nah, bagi santri yang belum  berubah dan menyesuaikan zaman, sebaiknya  lebih banyak membacar dan mengamati, baik melalui media  maupun secara langsung, agar  tidak menjadi bahan olok olok pihak lain yang memang tidak suka  dengan santri sejak awal.  Kita himbaun kepada pesantren yang masih kolot dengan tradisi kunonya untuk  melakukan sedikit pergesearn   tentang beberapa hal yang dapat dianggap sebagai negative. Persoalan kesalafiahnya dan kekunoannya, silahkan untuk dipertahankan, tetapi dalam hal penampilan, khususnya  kesehatan, memang harus diubah  agar semuanya menjadi sehat.

Bukankah Islam itu menyukai sehat dan kebersihan? Nah, pesantren sebagai basis pengamalan dan pertahanan ajaran Islam, harus  mau mengubah diri sehingga menjadi pengawal syariat dengan segala  implementasinya di masyarakat.  Karena itu sudah seharusnya  smeua santri dan pesantrennya harus menyesuaikan diri dengan tugas tersebut, yakni  apapun yangdi pertahankan di pesantren harus sesuai dengan ajaran syariat.

Dengan demikian tentang kebersihan, tentang kedisiplinan, tentang kemajuan, tentang peran  dalam masyarakat dan tentang pemberian keteladanan  kepada masyarakat, harus ditunjukkan dalam  kehidupan nyata.  Jangan ada lagi pesantren yang jorok, jangan ada lagi pesantren  yang tidak disiplin dalam berbagai hal, jangan lagi ada  informasi yang tidak dapat diakses oleh santri di pesantren, dan jangan ada lagi pesantren yang justru memberikan kesan jekel kepada masyarakat.

Semua harus mau membenahi kekurangan dan tetap mempertahankan prestasi serta peran maksimal yang sudah ditunjukkan.  Kita sudah  satu langkah mendapatkan kemajuan, karena hari santri nasional sudah ditetapkan, lantas  yang harus kita lakukan ialah bagaimana kita mampu membuktikan  diri bahwa  antri itu memang harus menjadi pelopor,  teladan, dan  pengawal serta pertahanan  negara  yang berdasarkan Pancasila. Semoga apa yang kita  harapkan tersebut  dapat dibuktikan oleh para antri Indonesia.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.