SELAMAT TINGGAL EROPA

Sabtu kemarin kami sudah meninggalkan Eropa untuk kembali ke tanah air, melalui Dubai, dan  saat ini  kami sedang transit di Dubai dan menunggu keberangkatan berikutnya menuju Jakarta.  Mudah mudahan perjalanan kami lancar dan selamat hingga bertemu kembali dengan keluarga.  Tentu banyak kenangan dan pengalaman selama kami melakukan perjalanan dinas ke Eropa, yakni ke Denmark, Finlandia dan terakhir Swedia, namun  hanya beberapa saja yang insayaallah akan saya ceritakan dalam catatan ini.

Secara keseluruhan saya melihat pendidikan di negera Eropa  cukup maju dan  didukung oleh fasilitas yang cukup pula, sehingga memungkinkan untuk dikembangkan sedemikian rupa menjadi yang terbaik.  Barangkali mungkin bukan  sekedar dukungan fasilitas yang cukup, tetapi ada  ghirah besar yang disebabkan budaya  ingin tahu dan ingin terus membaca sudah terjadi dan semua orang di sana akan memanfaatkan waktunya untuk tujuan yang suda direncanakan.

Bahkan kalau misalnya harus berjalan, naik bus, naik kereta, sedang istirahat di taman dan lainnya, mereka  senantiasa tidak lupa membawa buku untuk dibaca.  Rasanya  akan sulit kita mencari pemandangan yang demikian di negeri kita. Bahkan yang ada ialah saling mengobrol dan mungkin hanya  memainkan ponselnya.   Barangkali itu yang sedikit membedakan diantara kita, sehingga seharusnya kita mulai menyadari pentingnya membaca, termasuk bagi anak anak dan kita sendiri.

Kita sangat yakin bahwa dengan membaca kita akan menguasai informasi dunia, bahkan kita akan dapat menguasainya.  Budaya itu memang harus diciptakan dan bukan hanya diserukan semata.  Mulailah dari kita sendiri untuk keluarga. Kalau anak anak kita selalu kita  anjurkan untuk membaca dan kita sendiri juga memberikan contoh nyata untuk itu, ama kelamaan, anak anak juga akan terbiasa, dan itulah awal terciptanya sebuah budaya.

Fasikitas pendidikan yang memadahi juga turut andil dalam mensukseskan  pendidikan itu sendiri, karena bagaimanapun  fasilitas tersebut akan menentukan kualitas pendidikan.  Bagaimana mungkin kita akan mampu mengajarkan kepada anak didik didik tentang  sebuah kemajuan dalam   IT, kalau faslitas untuk membuktikan hal tersebut tidak tersedia.  Bagaimana mungkin kita  dapat menganjurka anak didik untuk membaca sebuah buku yang  mengisahkan tentang sesatu, kalau di perpustakaan tidak tersedia bukunya, dan lainnya.

Namun aspek pendidiknya juga   sangat menentukan, karena bagaimanapun  seoranag pendidik itu  akan  secara langsung berhubungan dengan anak didik dalam upaya meningkatkan  penguasaa ilmu pengetahuan dan teknologi. Fasilitas yang komplit, jika tidak dapat dimanfaatkan atau digunakan, tentu juga akan tidak berguna bagi anak anak didik.  Nah, di situla pentingnya seorang pendidik yang mampu mengarahkan, memberikan motivasi dan juga sekaligus sebagai sahabat bagi anak didik.

Barangkali juga  dapat dikatakan bahwa  faktor pendidik tersebut menempati urutan uama dalam kesuksesan pendidikan.  Karena itu persiapan untuk menciptakan guru yang handal memang harus dimulaisejak saat ini, karena kita tyahu bahwa para pendidika arau guru yang ada sekarang nampaknya merupakan produk lama yang memag tidak disiapkan untuk menjadi pendidik.  Baangkali  memang ada sebagaian diantara mereka, namun jumlahnya sangat sedikit, dan yang terbanyak ialah mereka yang sesungguhnya bukan sebagai pendidik.

Lantas bagaimana caranya, karena  jumlah guru yang demikian banyak dan sebagian besar atau bahkan seluruhnya masih dalam keadaan tidak profesional?.  Pertama kita harus berani membuat keputusan untuk memulai sesuatu yang baik, meskipun mungkin akan digugat oleh  pihak lain.  Artinya kita harus mempunya program jangka panjang untuk menciptakan para pendidik yang benar benar profesional, melalui tahapan dan cara yang tepat dan terencana.

Semenetra itu para guruyang saat ini sudah ada, biarkan saja tetap berjalan sebagaimana adanya, namun kita sudah mempersiapkan pendidik yang kita inginkan, sehingga seiring dengan berjalannya waktu pada saat nya nanti kita akan mendapatkan sebuah kondidi pendidikan kita yang benar benar berbeda, dalam arti menjadi semakin membaik.  Jika kita   hanya ingin tambal sulam dan mencoba membenahi kondisi yang ada, maka selamanya akan seperti ini terus.

Sementara itu  khusus bagi perguruan tinggi, kita juga masih berkutat pada masalah penganggaran yang terlalu tidak ideal bagi sebuah perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi negeri.  Artinya para pengambil kebijakan di kementerian  rupanya belum banyak mengetahui kebutuhan riil perguruan tinggi, sehingga kurang  berpihak kepada  perguruan tinggi dibanding misalnya membiayai keperluan di pusat atau di kementerian.

Kita dapat membayangkan bagaimana sulitnya  mendapatkan anggaran di pergurua tinggi, tetapi  di sisi lain betapa banyaknya anggaran yang tidak terserap di kementerian.  Hal tersebut dapat dilihat pada akhir tahun yang meskipun sudah dipadatkan berbagai acara di kementerian, namun masih saja tidak  terserap.  Namun dalam kenyataannya pula mereka tidak mau melirik kepada perguruan tinggi yang menangis untuk mendapatkan  anggaran yang  memadahi.

Kita tidak usah membandingkan dengan  perguruan tinggi negeri lainnya yang berada di bawah kementerian rsitekdikti, yang  meskipun sudah  tiga kali lipat anggaran kita, namun masih saja merasa kurang, karena secara ideal memang  harus didukung anggaran nyang cukup, sehingga perguruan tinggi akan dapat berpikir mengenai prestasi.  Saat ini di perguruan tinggi kita, jangankan untuk berbicara prestasi, untuk memenuhi kebutuhan hidup saja sudah ngos ngosan.

Tetpi sebagai pengelolan perguruan tinggi, kita juga tetap berusaha meningkakan kualitas dan sekaligus meraih presatasi, walaupun dengan angaran yang jauh dari memenuhi  standar minimal.  Itulah kenyataan di  pendidikan kita.  Nah, dengan menaksikan  perguruan tinggi di Eropa kali ini, setidaknya kita berharap bawha di masa mendatang akan  ada perubahan mendasar  tentang  peolitik anggaran kita, sehingga  kita  akan setaraf dengan lainnya.

Rasanya memang tidak adil, kalau kita berada di sebuah negara yang sama, lalu juga sama sama  berjuang untuk mencerdaskan kehiupan anak bangsa, tetapi dalam  realisasinya berbeda,  teruatama  dlama perlakukan anggaran.  Kementerian  kita meskipun tidak khusus mengelola masalaha agama, tetapi secara riil mengelola pendidikan, karena itu harus ada  argumentas yang kuat agar untuk pendidikan , kita mendapatkan perlakukan yang relatif sama dengan yang lain.

Sudah saatnya kemenetreian  merapatkan barisan dengan  dewan khususnya komisi agama untuk mendiskusikan  anggaran ini sehingga   negara akan memberika perhatian yang sama terhadap pendidikan.  Ata mungkin kalau misalnya khusus untuk  pendidkan meskipun di kementerian agama, hubungannya dengan komisi 10  dan bukan kepada komisi 8 sebagaimana selama ini.  Bagi kami tidaka menjadi persoalan, karena yang terpenting ialah bagaimana pendidikan tersebut  dapat diberikan perlakuan yang sama dengan yang lain.

Itulah beberapa catatan  dan pengalaman yang dapat diangkat dalam perjalanan dinas ke Eropa, dan tentu masih banyak lagi hal hal positif yang dapat ditlarkan  di negeri kita, termasuk kedisiplinan dalam  laku lintas, dalam  ketepatan waktu dan  dalam integritas.  Kiranya semua itu akan dapat ditransfer ke kita, jika semua komponen bangsa, terutama para pengambil kebijakan di pemerintahan menginginkannya.

Selamat tinggal Eropa, kita  berterima kasih kepada semua pihak yang telah  memberikan informasi , terutama dari kementerian  pendidikan Finlandia, universitas Copenhagen Denmark,  universitas Finlandia, Dubes Ri untuk Denmark,  Dubes Ri untuk Finlandia dan  semua pihak yang  terlibat dalam  diskusi  mengenai pendidikan selama di Eropa.  Kita berharap  pembicaraan  tersebut dapat diikuti dengan diskusi berkutnya untuk menjalin kerjasama yang lebih baik diantara kita. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.