SATU TEKAD MENGABDI KEPADA ALLAH SWT

Manusia  hidup di dunia ini tidak  akan lama, karena kehidupan ini  memang merupaka episode kehidupan manusianyang terpendek, setelah itu manusia akan memasuki kehidupan di alam barzah yang tentu merupakan sebuah alam penentian yang lebih lama lagi.  Itu juga belum sbeerapa jika dibandingkan kehidupan abadi di akhirat nanti.  Kehidupan akhirat itulah  ujung dari kehidupan manusia.  Alangkah bahagianya jika manusia  saat itu menempati  surga yang dipenuhi dengan nikmat tiada tara.

Sebaliknya  sungguh malang  manusia  yang pada saat itu  harus menempati neraka yang penuh dengan siksaan yang juga  tidak terbayangkan negrinya.  Kenapa harus dkatakan demikian?. Ya karena  saat itu  manusia sudah final dan tidak akan mengalami kehidupan berikutnya, karena itu akan kekal tanpa akhir.  Jadi sekali lagi  dismapaikan kepada seluruh umat manusia agar memperhatikan nmasalah ni, karena kalau sudah terlanjur meningalkan dunia ini, semuanya sudah tidak mungkin diubah.

Pada saat manusia sudah keluar dari dunia dan memasuki dunia lain, yakni alam barzah, semua uasah manusia sudah tidak mungkin lagi dapat dilakukan, karena  saat ini  merupakan waktu penantian panjang.  Saat itu sekaligus juga ada kalanya manusia  merasakan betapa sakitnya menunggu kiamat, dan ada pula yang merasakan betapa nikmatnya  menunggu, karena  sudah mendapatkan nikmat yang sangat luar biasa.

Kalaupun episode  kehidupan dunia ini merupakan kehidupan terpendek diantara kehidupan manusia lainnya, namun ternyata  paling menentukan.  Artinya hanya di dunia inilah manusia akan dapat  mempersiapkan dirinya untuk  dapat  mengenyam kehidupan beriktnya.  Jika manusia  di dunia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menyongsong kehidupan akhirat dengan membeali dirinya melalui  peengabdian kepada Tuhan, dapat dipastikan dia tu akan  merasakan kesengsaraan yang dahsyat.

Namun jika manusia mau menyadari hal tersebut dan kemudian  mempersiapkan diri  berinvestasi  untuk kepentingan dirinya di alam kekal nanti, maka  kebahagiaan sudah menantinya di sana, sehingga  dia dapat dipastikan akan  menghuni  alam yang penuh dengan kenikatan serta kesenangan.  Semua itu hanya akan dapat  disadari jika dalam dirinya  bersemayam keimanan kepada Tuhan secara benar, sebab alam  mendatang itu belum dapat dibuktikan, terkecuali jika  ada rasa iman dalam dirinya.

Namun jika kita menggunakan akal pikiran kita, tentu akan dapat ditemukan rasionalitas kehidupan akhirat tersebut.   Bagaimana merasionalkan kehidupan akhirat tersebut?  Kita dapat  melamabari pemikiran  dengan sebuah keadilan yang seharusnya didapatkan oleh seluruh manusia.  Nah,  dalam kenyataannya masih banyak  kehidupa manusia nyang belum selesai, yakni jika  seseorang mempunyai dosa kejahatan, dan belum sempat diberikan balasan, lalu dia meninggal dunia, maa dimana letaknya keadilan tersebut?

Demikian pula bagi mereka yang mencari penyelesaian  tersendirim, terutama pada saat mendapatkan masalah besar yang sulit untuk diatasi, lalu dia membunuh dirinya, baik dengan meminum racun misalnya, atau dengan terjun kejurang yang sangat dalam dan curam atau dengan cara lainnya.  Lalu dimana penyelesaian maslahnya yang dibawa mati tersebut.   Tentu harus ada penyelesaian yang adil untuk masalah tersebut.

Nah, kalau kemudian melihat kenyataan di dunia yang terkadang dikendalikan oleh manusia jahat, tentu tidak akan dapat diharapkan akan  memperoleh keadilan yang sesungguhnya.  Oleh karena itu harus ada pengadilan yang jujur, bersih dan tidak terkontaminasi oleh kepentingan apapun.  Dan opengadilan yang seperti itu hanya akan dapat diperoleh di akhirat, dimana Tuhan akan menjadi hakimnya dan alat buktinya sudah disediakan  dari catatan malaikat yang selama ini selalu setia mencatat apapun yang  dikerjakan oleh manusia.

Memang akan sangat sulit mempercayai hal yang memang belum dapat dilihat dan dibukikan saat masih ada di dunia, khususnya bagi mereka yang tidak menggunakan akal sehanya untuk berpikir secara jernih.  Sekali hanya mereka yang meggunakan akal sehat dan  sejak awal sudah mempercayai iman yang disampaikan oleh para ulama kepadanya sajalah yang akan dapat menerima informasi penting tersebut.

Meskipun demikian masih ada dua kemungkinan yang akan ditempuh oleh manusia, karena meskipun iman suda   ada di dalam diri seseorang, namunterkadang desakan nafsunya  amsih lebih kuat dibandingkan dengannhati dan akalnya, sehingga  dia tetap masih  ogah ogahan dalam menjalankan  perintah Tuhan, sehingga investasi akhiratnya  terlalu sedkit, bahkan malah  lebih sering melalkuakn dosa ketimbang mendakat  dan mengabdikan diri kepada Tuhan.

Nah, jenis manusia yang seperti ini mungkin saja nanti pada saatnya masih tetap  dapat emnghuni surga, tetapi dia harus mampir terlebih dahulu di neraka, karean perbatan dosanya yang melebihi kebaikannya. Keberadaannya di neraka juga tidak dapat diprediksi, karena tentu akan disesuaikan dengan tingkat dosa dan kejahatan yang dilakukannya.  Bisa saja hanya beberapa tahun atau mungkin  malah beberapa hari saja, tetapi bisa saja  justru harus meringkuk di dalamya selam beratus ahun.  Semuanya tergantung kepada amalianya.

Sementara bagi  mereka yang imannya sangat kuat dan  dapat menyadarkannya  sebagai hamba  yang penuh dengan kelemahan, maka kemudian dia  berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, serta selalu memohon ampunan Nya atas segala kejahatan dan doisanya. Nah, kalau dia berbuat begitu, dapat dipastikan nafsu yang ada  dalam diriknya akan tersingkir dan terkalahkan oleh hati dan akal pikirannya, sehingga  dia akan selalu terarah kepada kebajikan dan terus berusaha berinvestasi untuk kepentingan akhiratnya.

Nah, bagi mereka itu akan disediakan kenikmatan di surga yang sungguh  luar biasa, keberadaan mereka di surga tersebut ialah untuk selama lamanya, bukan hanya sementara  sebagaimana saat di dunia.  Begitulah informasi  yang  semestinya  dipercaya oleh seluruh  umat manusia.  Namun sekali lagi dalam kenyataannya, masih saja ada  jenis manusia yang tidak mau mempercayainya, dan lebih memeilih kehidupan dunia yang hanya sementara dan tidak akan mampu memuaskannya.

Atas dasar pertimbangan semua itu kiranya sangat wajar jika  kita yang memanfaatkan akal pikiran dengan bagus, dapat  berpikir dengan jernih dan kemudian memutuskan untuk menyelamatkan goidup kita yang lebih kekal di akhirat.  Sementara kehidupan di dunia yang hanya sementara ini, kalau dapat  diupayakan tetap bahagia,  tetapi yang lebih penting ialah  bagamana kita  memikirkan dan mempersiapkan kehidupan akhirat.

Dengan dmeikian kita   harus  memanfaatkan  sisa hidup ini untuk  berbakti dan  mengabdi sepenuhnya  kepada Tuhan, Allah swt.  Apapun caranya, kita akan  mementingkan kehidupan akhirat ketimbang lainnya.  Kita  sesungguhnya menyadari penuh bahwa hidup di dunia itu juga penting, karena sebagai wahana untuk memeprsiapkan kehidupan akhirat, karena itu perlu didesain sedemikian rupa agar  tetap sejahtera.

Dengan demikian usaha yang kita lakukan ialah untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan sekaigus juga sejahtera di akhirat.  Semua itu akan dapat kita raih, jika kita  taat kepada semua  anjuran dan kewajiban nyang telah ditetapkan oleh Tuhan.  Kita sangat yakin bahwa  jika  kita menalankan kewajiban dengan tulus, maka  pasti di sana ada hikmah  yang snagat luar biasa yang akan mengantarkan kita kepada  kesejahteraan  lahir batin, dunia dan akhirat sekaligus.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.