SELAMAT TINGGAL FINLANDIA

Meskipun hanya  tiga hari  berada di Finlandia, namun banyak pengalaman dan kenangan yang kami dapatkan, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan  pendidikan, dan mungkin juga semacam reformasi pendidikan, khususnya di lingkungan kementerian agama.  Tu disebabkan  kepergian kami ialah bersama dengan direktur Jenderal Pendidian Islam Kemenag, sehingga pada saat  ada kesempatan, kami selalu melakukan diskusi dengan dirjen.

Nah, banyak hal yang  kami sampaikan dan  rupanya  tidak semua persoalan diketahui olehnya, sehingga beliau mengungkapkan terima kasihnya  ataqs informasi yang kami sampaikan, dan  insyaallah akan mel;akukan tindak lanjut dalam upaya perbaikan pendidikan , khususnya pendidikan tinggi Islam..

Salah satu hal yang krusial  dalam upayan untuk  meningkatkan kualitas lulusan kita dan terutama para guru yang semenetraa ini banyak mendapatkan sorotan dari masyarakat.  Sebagaimana kita tahu bahwa program sertifikasi guru yang dilaksanakan oleh pemerintah dirasakan gagal oleh masyarakat, karena hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa  hampir tidak ada bedanya anatara mereka yang suda bersertiikat dengan mereka yang belum.

Anggaran yang begitu banyak akhirnya dianggap tidak  bermanfaat bagi eningkatan kualitas pendidikan kita.  Nah, kedepannya harus dicarikan solusi terbaik agar para guru kita  berkualitas dan juga akahirnya dapat menghasilkan para lulusan, termasuk  yang akan menjadi guru yang berkualitas juga.  Solusinya sudah  ketemu, yakni dengan dilaksanakannya PPG.  Hanya saja PPG belum berjalan dengan maksimal, sehingga diperlukan persiapan yang matang.

Salah satunya ialah bagaimana mendesain kurikulumnya,  merekrut tenaga dosennya dan  seberapa lama mereka harus  menempuh PPG tersebut.  Persoalan tersebut tidak mudah,. Karena  seharusnya lulusan  sarjana pendidikan tidak secara otomatis dapat menjadi guru, melainkan harus melalui tahapan PPG tersebut.  Bahkan ke depannya para guru  tidak hanya diharusnya  dalam penguasaan metodologi e[ngajaran saja, melainkan justru penguasaan materinya juga santat  diprioritaskan.

Jadi ada kemungkinan nantinya bahwa untuk guru bidang studi fiqh misalnya, seharusnya  diambilkan dari sarjana syariah dan kemudian harus mengikuti PPG.  Demikian juga untuk  guru bidang studi tafsir, hadis, akhlak harus diambil dari lulusan Ushuluddin dan  melalui PPG.  Lantas sarjana pendidikan dimana?.  Karena persoalan penguasaan materi, maka lulusan tarbiyah seharusnya akan lebih pas menjadi guru PAI di sekolah .  Itupun juga harus melalui PPG terlebih dahulu.

Persoalan seputar itulah yang akan menjadi pembicaraan serius dalam mempersiapkan PPG tersebut.  Artinya kalau mereka yang bukan sarjana tarbiyah seharusnya PPG nya  harus lebih lama ketimbang mereka yang lulusan tarbiyah.  Kurikulum nya tentu juga harus disesuaikan sehingga tujuan PPG memang benar benar tercapai.  Meskipun agak berat, namun itulah yang harus dilakukan dan  semua pimpinan PTKIN tentu akan mendukung langkah kongkrit semacam itu.

Pengalaman bertemu dan  berinteraksi dengan beberapa pihak, terutama  universitas di Finlandia, ternyata telah mampu menyembulkan inspirasi  dari dalam diri kami, khususnya terkait dengan bagimana kita  meningkatkan  kualitas  perguruan tinggi kita.  Banyak hal yang  menjadi keinginan kami,  meskipun kami juga  menyadari bahwa untuk mendapatkan dan sekaligus  mewujudkan keinginan tersebut  amat sulit, apalagi kalau tidak didukung oleh kementerian.

Karena itu meskipun banyak hal yang kami inginkan  untuk mengubah beberapa hal, tetapi  mungkin  juga akan mengalami kendala yang tidak ringan.  Namun kami tetap akan  berusaha  melakukannya, melalui jalan yang  dapat kami tempuh.  Paling tidak dalam hal bagaimana mewujudkan  partisipasi penuh dari seluruh  dosen dan  tenaga kependidikan untuk mendukung  berbagai hal yang kami anggap akan mampu menaikkan  kualitas.

Mungkin kami juga akan  selalu menyuarakan kepada pemerintah, dalam hal ini kementerian bahwa  ada baiknya untuk dipertimbangkan bagaimana kita  membuat pendidikan kita lebi disukai anak dan sekaligus jua mereka sangat antusias dalam belajar. Rupanya  ada hal yang berbeda memang  dengan apa yang sudah kita lakukan selama ini, misalnya tentang usia  sekolah anak yang masih terlalu dini dan mendapatkan kewajiban yang begitu berat.

Anak anak kita di sekolah dsar saja sudah demikian berat dalam  kesehariannya, karena  guru guru SD setiap harinya akan memberikan PR yang harus dikerjakan oleh  anak anak, sehingga mereka seolah tidak mampunyai waktu sedikitpun untuk melakukan  keinginan mereka  sebagai s eorang  anak.  Jadilah  mereka kehilangan  masa kanak kanak mereka, dan  waktu tersebut dihabiskannya untuk belajar dan secara terpaksa  memang harus melakukan belajar tersebut.

Tentu kondisi tersebut dapat  mempengaruhi mentalnya pada saat nanti sudah dewasa.  Dalam aspek ini Finlandia memberlakukan  agar tidak ada  anak yang stress disebabkan terpaksa melakukan sesuatu yang berat.  Mereka   pada umumnya  memberikan  kesemptana anak anak untuk masuk sekolah formal pada usia setelah 7 tahun, dimana mereka pun belum langsung diberikan pelajaran yang berat, melainkan cukup  hal hal yang terkait dengan tulisan, hitungan dan mungkin juga bahasa.

Harus diakui bahwa sistem pendidikan di Finlandia  dianggap sebagai  yang terbagus di dunia dan keberhasilannya juga tingi, sehingga banyak negara kemudian mengkiblat sistem pendidikan  di Finlandia tersebut.  Tentu masih banyak hal lagi yang menyebabkan mereka unggul dalam pendidikan, misalnya tentang bagaimana mereka harus mempersiapkan  calon guru sedemikian rupa sehingga guru memang harus siap untuk terjun sebagai pendidik.

Persiapa tersebut setidaknya  harus dialami  tiga tahun, menyangkut penguasaan  terkait dengan  metode pembelajaran,  pengalaman, dan juga aspek filosofinya, sehingga kalaupn ada lulusan doktor yang ingin menjadi guru, maka dia juga harus tetap mengikuti proses sebagaimana mestinya sebelum  benar benar menjadi guru.  Namun memang kita harus mengakui bahwa  para guru di sana  sangat terhormat dalam arti dihargai oleh pemrintah.

Para guru digaji sanga tinggi, karena merekalah yang menentukan nasib dan masa depan  anak bangsa, dan proses untuk menjadi gurupun juga tidak mudah.  Barangkali ini merupakan salah satu kekurangan kita. Bahkan ketika kita  ingin meningkatkan kualitas gurupun, kita  “salah jalan”, yakni melalui  sertifikasi guru.  Kenaqpa dikatakan salah,  ya karena  sertiikasi guru tersebut sesunggunya tidak akan mungkin dapat mengubah para guru yang  tidak profesional menjadi profesional, karena jangka waktunya yang sangat sedeikit.

Jadilah proses sertifikasi melalui  PLPG tersebut hanya semacam formalitas,  dan dalam kenyataannya  mereka memang belum berubah, baik dalam hal  cara dan metode yang digunakan, dan juga dalam hal penguasaan mater dan lainnya.  Lalu bagaimana mungkin  hanya dengan training eberapahari saja akan menyulap para guru menjadi  hebat?.  Sama sekali tidak mungkin, tetapi pemerintah sudah kadung memberikan tunjangan kepada mereka dan  kualitasnya masi sama saja.  Itulah mengapa  sergur dianggap salah dan tidak tepat, serta pemerintah menjadi rugi.

Seharusnya peningkatan mutu guru bukan melalui  program PLPG, melainkan melalui  training yang terprogram dalam jangka  waktu yang cukup dan kemudian dilakukan evaluasi yang  serius.  Tetapi untuk melakukan hal seperti itu memang tidak mudah dan mungkin banyak  pihak yang menentangnya.  Karena itu PPG memang menjadi mutlak untuk segera dilakukan.

Kami memang harus meninggalkan  Finlandia, karena waktu  kami memang terbatas, sehingga kalaupun kami tidak dapat lebih lama berada di negeri tersebut, namun insyaallah dengan pengalaman tersebut, kami akan  memanfaatkannya untuk kemajuan institusi kami.  Semoga  Allah swt akan senaniasa memberikan jalan terbaik bagi usaha kami.  Selamat tinggal Finlandia,  kami banyak mendapatkan pengalaman berharga darimu, smeoga kita akan bertemu kembali di masa mendatang. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.