PENDIDIKAN DI FINLANDIA

Beruntung saya dapat melakukan kunjungan ke Ginlandia, sebuah negara yang  dapat dikatakan kecil, apalagi jika dibandingkan dengan negera kita, namun  konon sistem pendidikannya dan juga out put yang dapat dihaasilkannya, menjadi yang terbaik di dunia. Memang  saya belum dapat membuktikan hal tersebut, sebabnya untuk keperluan tersebut harus dilakukan setidaknya pengamatan secara langsung dan  harus berada di negara tersebut cukup lama.

Namun dengan pertemuan  bersama beberapa pihak, termasuk pihak kementerian dan juga piahk kampus, saya  dapat menyimpulkan sementara bahwa  memang sistem pendidikan di negera tersebut sangat bagus dan  dapat menghasilkan lulusan yang bagus pula.  Utamanya yang terkait dengan faktor manusianya.  Artinya kita selama ini  mengetahui bahwa  di negera kita anak  sejak usia dini sudah  masuk disebua kelompok bermain, lalu masih dalam usianya yang  dini tersebut mereka harus masuk TK dan sejenisnya.

Pada saat mereka sudah masuk di sekolah formal yang paling dini tersebut, tentu akan  banyak tugas yang haris diselesaikan oleh anakanak, yang tentu tidak sesuai dengan keinginan mereka.  Mereka akhirnya  menjadi terpaksa dalam melakukan tugas tersebut.  Apalagi kalau kemudian sudah masuk ke SD atau MI, maka  mereka  akan mendapatkan beban  sebegaimana beban orang dewasa, baik saat di dalam kelas, maupun setelah pulang.

Pekrjaaan rumah yang setiaphari dibebankan kepada mereka, mungkin dianggap akan menjadikan mereka pintar, karena  akan selalu belajar.  Namun rupanya hal tersebut memang tidak sesuai dengan habitat kekanak kanakan mereka.  Mereka itu masih anak anak yang seharusnya dibebaskan  dengan beban apapun, dan dibiarkan untuk menikmati dunia anak anak mereka. Dunia anak memang bermain dan bermain, bukan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak menjadi keinginannya.

Meskipun demikian memang orang tualah yang berkewajiban untuk mengarahkan, dan bukan memaksa mereka untuk  bermain yang  dapat memberikan pengalaman baik dan sekaligus juga dapat memupuk   mereka dengan  pengembangan diri yang normal.  Nah, setelah mereka sudah  cukup dalam menikmati masa kanak kanaknya itulah saat yang tepat untuk  memberikan mereka  sebuah tanggung jawab, meskipun  belum terlalu berat.

Pendidikan di Finlandia ternyata menerapkan hal tersebu, sehingga anak anak  tidak megalami stress berat karena selalu dipaksa untuk melakukan  sesuatu yang sesunguhnya bukan  kesenangannya,  akibanya merka kehilangan masa kanak  kanak dan itu menyebabkan pada saat tertentu mereka menjadi tidak normal , khususnya dalam perkembangan diri mereka.

Berbicara mengenai pendidikan  kita memang banyak melakukan  “kesalahan” mendasar, yakni  terutama yang dilakukan oleh sebagian orang tua, baik dalam hal cara memperlakukan  anak anak, atau dala cara  proses  mendidiknya.  Selama ini kita mengenal kebanyakan orang tua  menyerahlan secara total mengenai pendidikan dan  apapun yang terkait dengan anak kepada pihak lain.  Pihak lain  tersebut diawali dengan p[embantu yang harus mengurus anak anak  bahkan hingga memandikan, menyuapi dan lainnya.

Orang tua  biasanya  secara penuh memasrahkan hal tersebut  kepada pihak lain, baik pembantu maupun baby sister dan sejenisnya.  Orang tua sudah merasa melakukan yang terbaik bagi anak anak mereka, yakni telah membayar orang untuk mendidik mereka.  Namun  hal tersebut sesunggunya tidak tepat, karena bagaimana pun anak anak itu  membuthan kasih sayang orang tua, diajak bermain,dan sesakali memandikannya sendiri serta meyuapi mereka sendiri, tidak semuanya diserahkan kepada pihak lain.  Padaa saat  anak anak itulah  masa yang menentukan pembentukan karakter anak, sehingga kalau semuanya dipasrahkan kepada pembantu misalna, maka kemungknan beasar karakternya juga  seperti pembantu tersebut.

Setelah mereka  memasuki sekola pun kebanyakan orang tua suda tidak peduli lagidalam hal perhatian, karena mereka megangap semua tangung jawab sudah diserahkan kepada pihak sekolah.  Nah kebanyakan orang tua juga  tidak pernah  menanyakan atau ingin mengetahui perkembangan anak anaknya  dalam hal pendidikan, sehinga anak pun  juga merasa sangat terasing  dai oatrang tuanya sendiri yang sangat sibuk dalam bekerja.

Sudah barang tentu  sikap orang tua yang demikian  tidak dapat dibenarkan, karena bagaimanapun orang tua itu tetap harus  selalu mengetahui perkembangan pendidikan akan anaknya, meskipun sudah dipasrahkan kepada pihak sekolah.  Tentu akan berbeda ceritanya jika orang tua tersebut memasrahkan anaknya ke sebua pesantren yang dikelola dengan bagus, maka  seluruh tenggung jawab kesehariannya adalah pengurus pesnatren dan kiai.

Jika orang tua sudah yakin bahwa  pesantren tersebut bagus dalam pendidikannya, maka  hal tersebut dapat diharapkan akan mampu  mengantarkan anaknya  untuk meraih kesuksesan di masa depan.  Lantas dimana tanggung jawab orang tua  dalam hal tersebu? Tentu sesakali orang tua tetap harus memberikan semangat dan  tentu memberikan ongkos keperluan anak anaknya, tetapi bukan berati lepas sama sekali, tanpa memperhatikan perkembangannya.

Sebaliknya kondisi kebanyakan orang tua saat ini seolah terlalu memosisikan diri sebagai pihak yang  bole melakukan apapun untuk melindungi anaknya, meskipun  tidak mempunyai wawasan pendidikan yang cukup.  Akibatna mereka terlalu protektif meskipun terhadap para pendidik anaknya .  Kita dapat menyaksikan betapa  saat ini pendidikan di negeri ini  menjadi hancur berantakan disebabkan oleh campur tangan orang tua dalam hal mendidik di sekolah.

Artinya pendidikan itu membtuhkan proses, bahkan termasuk dalam proses tersebut ialah pemberian sanksi kepada anak yang idak mematuhi aturan main, meskipun sanksi tersebut tidak boleh menyakitkan dan membenai yang tidka pada tempatnya.  Nah,  saat kita kita menyaksikan betapa orang tua bukannya  mendukung pendidika terhadap anak anaknya,  tetapi justru malah merusak pendidikan itu sendiri.

Bagaimana tidak, kalau  ada guru yang memberikan sanksi ringan kepada  muridnya  tetapi kemudian orang tua ikut campur dengan mempersoalkan guru tersebut dan bahkan melaporkannya ke pihak kepolisian?  Celakanya  pihak polisi juga idak menetahui  bagaimana proses pendidikan yang baik, dan hanya melihat dai  satu aspek saja, yakni adanya laporan dan kemudian tidak juga melihat dalam prosesnya tersebut  dikaitkan dengan proses pendidikan yang bagus.

Akibat dari itu, kita semakin miris  dengan masa depan anak anakkita yang   tidak ada tanggung jawab dalam menjalani hidup, kaena merka sangat mengandalkan orang tua yang super dalam hal melindunginya, meskipun  itu tidak tepat.  Namun semua hal yang tidak  tepat tersebut, sampai saat ini masih terus berjalan dan tidak ada pihak yang mampu untuk menyetopnya.

Saya tidak tahu persis kenapa masalah ini terjadi dalam dunia pendidikan kit. Mungkin tidak salah  jika kita mau  meniru sistem pendidikan yang kia anggap lebih bagus dan  dapat  menjanjika masa depan anak akan  semakin bagus, meskipun sistem tersebut saat ini berada di negera lain, dan meskipun ukan di negeri Islam. 

Sesungguhnya kita yakin bahwa sistem pendidikan Islam sangat bagus,  namun belum di sistematisasikan dan dirumuskan secara komperenship sehingga akan terasa kehebatannya.  Mungkin dengan  inspirasi dari sistem pendidiikan yang sudah bagus dan terbukti dalam menghasilkan anak didik, dan dikombinasikan dengan  sistem yang ditawarkan oleh Islam, kita akan mndapatkan  sistem pendidikan yang  luar biasa.

Kita memang tidak boleh memandang Islam itu hanya yang ada dalam  segala yang  dimiliki oleh umat muslm, melainkan kita harus melihat dari sisi substansinya.  Kita yakin bahwa sistem  pendidikan yang saat ini diterpkan di Finlandia,  ada beberapa aspek  pokok yang  secara substantif ternyata lebih sesuai dengan prinsip Islam. Wallahu a’lam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.