MENGENDALIKAN DIRI

Kita  selalu saja disuguhi dengan berbagai berita kriminal, baik yang dilakukan oleh para penjehat beneran, maupun oleh mereka yang  sesungguhnya bukan penjahat. Kalau kejahatan yang dilakukan oleh para penjahat beneran, mungkin kita tidak terlalu terkejut, karena  mereka memang  pekerjaannya selalu membuat onar,  mengganggu pihak lain dan juga merugikan banyak orang.  Namun jika kejahatan tersebut dilakukan oleh orang  yang seharusnya bertindak baik, maka kita  sering dibuat kaget oleh ulah dan tindakana mereka.

Coba bayangkan kalau orang tua yang seharusnya melindungi anak anaknya, tetapi ternyata malah  memperkosanya atau mengeksploitasi sedemikian, rupa sehingga anak tersebut sama sekali tidak mendapatkan  dunianya, bahkan dia harus memerankan diri sebagai orang tua, atau  adanya orang tua yang tega menganiaya  bahkan membunuh darah dagingnya sendiri, karena hanya persoalan sepele.  Semua itu merupakan gambaran betapa dunia ini sudah tidak sehat.

Kita juga sering dikejutkan oleh  berita yang  menjelaskan bahwa ada guru yang tega  menggagahi  muridnya sendiri, bahkan hingga hamil dan kemudian  dibunuhnya.  Sungguh sangat tidak masuk akal kita yang selalu berpikir positif atau selalau mengedialkan keadaan di sekitar.  Namun itulah kenyataan hidup yang  sedang melanda  kita dan  mungkin masih akan muncul kejutan lainnya yang sama sekali tidak terbayangkan  oleh kita sebelumnya.

Rupanya memang masyarakat kita sedang mengalami  sakit kronis, sehingga semuanya akan dapat terjadi diluar kontrol kita.  Artinya sesuatu yang sama sekali tidak pernah sebelumnya dan menurut akal sehat tidak akan terjadi, tetapi dalam kenyataannya justru terjadi dan di hadapan kita.  Dalam kondisi sepertyi itu kita memang tidak boleh hanya berpikir  positif semata, tanpa  berusaha melakukan perbaika aas kondisi bobrok yang sedang melanda masyarakat kita.

Kalau dahulu seorang guru misalnya, akan mempunyai kewenangan yang lebih  luas untuk mendidik anak didiknya, tanpaharus dikekang oleh sesuatu yang  tidak terbayangkan sebelumnya.  Artinya kalau  guru sedang mendidik anak didiknya, lalu anak didiknya tersebut berlaku tidak disiplin atau sedikit nakal, maka guru akan memberikan sansi hukuman sesuai dengan kesalahan yang dilakukan.  Maksudnya agar anak tersebut kembali menjadi baik dan tidak mengulangi kesalahan yang telah dilakukannya.

Cara yang dilakukan oleh furu tersebut sudah lazim dilakukan oleh guru yang lain, dan hasilnya anak memang kemudian menjadi bagus dan  disiplin.  Namun kita menyaksikan saat ini dimana guru  tidak akan bebas melakukan didikan kepada muridnya, karena dibatasi oleh makhluk yang bernama HAM.  Dan anehnya seluruh komponen bangsa ini, termasuk para penegakhukumnya dan juga masyarakat, mengamini saja  didudukkannya HAM sebagai panglima.

Bayangkan saja jika seorang guru sedikit memberikan sanksi kepada muridnya yang melakukan kesalahan, lalu murid tersebut tidak terima dan mengadukannya kepada orang tua, maka dengan segera orang tua tersebut akan melaporkannya ke polisi atau menyewa pengacara untuk mempermasalahkan guru tersebut. Rupanya  masyarakat dan orang tua sudah lupa bahwa pendidikan itu membutuhkan proses, dan dalam proses tersebut terkadang harus dilakukan upaya untuk pemberian sanksi  yang mendidik agar  anak didik menjadi lebih bagus.

Kalau pada zaman dahulu, bilamanan ada anak murid yang diberikan sanksi hukuman disiplin oleh gurunya dan karena anak tersebut manja kepada kedua orang tuanya, maka dia kemudian lapor atas  diberikannya sanksi oleh guru, maka  orang tersebut yang paham tentang pendidikan,  akan menjawab bahwa  anaknyalah yang salah sehingga guru sampai harus memberikan sanksi.  Seorang guru pasti akan menyayangi murid muridnya, sehingga kalaupun memberikan sanksi itu pasti dalam upaya untuk mendidik agar  menjadi lebih baik.

Itulah sebagian diantara keanehan yang terjadi pada zaman ini, meskipun kita sangat yakin masih banyak lagi keanehan lannya yang lebih dahsyat.  Sebagai contoh  bahwa pada zaman dahulu  hukum itu dapat menjadi panglima dalam menyelesaikan persoalan, lalu datang rezim yang memperkosa hukum dan hanya diperuntukkan bagi mereka yang kaya saja,  Jadilah kemudian kondisinya menjadi sangat runyam dan masyarakat kemudian menjadi apayis dengan penegakan hukum dan keadilan.

Namun begitu masa  kebebaan terbuka masyarakat ternyata belum siap untuk  berada di dalamnya, sehingga  mereka seolah menjaid kemaruk dalam hal kebebasan tersebut. Akibat lebih jauhnya ialah kondisinya semakin  runyam dan tidak terkendali.  Bahkan hukum pun menjadi melemah dan tidak mampu   memberikan keadilan, terkecuali hanya untuk memenangkan kedhaliman  mereka yang mempunyai kekuasaan dan uang.

Kita dapat melihatnya bahwa dalam alam keterbukaan seprti  saat ini seharusnya keadilan akan mudah didapatkan dan semua orang akan mendapatkan hak haknya, namun kenyataannya justru malah sebaliknya, banyak  diantara mereka yang seharusnya menjadi teladan dalam menciptakan kehidupan yang bagus, malah melakukan kejahatan korupsi, dan sejenisnya.  Bahkan   kejahatan korupsi lebih banyak dibandingkan  ketika masih dalam zaman keterkekangan.

Bahkan yang lebih tragis lagi ialah bagaimana kejahatan tersebut tidak menyisir pada bagian yang tidak dekat dekat dengan  agama, melainkan justru saat ini bahkan sudah merasuki bagia dari keberagamaan kita.  Coba kita lihat bagaimana  di kementerian agama saja  sudah kemasukan setan yang menggerayangi  jerohannya kementerian ini, sehingga kasus al-Quran juga sempat muncul, beberapa  kasus bantuan kepada  masyarakat, termasuk kepada masjid, pondok pesantren, madrasah dan sejenisnya, juga  sempat terjadi kasusnya.

Terkadang kita menjerit, namun kepada siapa jeritan tersebut ditujukan? Karena  sepertinya sudah tidak ada lagi pihak yang membela kepentingan  yang berpihak kepada kebajikan dan kebenaran.  Semua  seolah  ingin menyelamatkan diri dan kalau bisa malah mendapatkan keuntungan dari semua hal yang terjadi.  Mungkin anya kepada Tuhanlah kita  dapat mengadukan smeua tu, meskipun  kita yakin bahwa Tuah tidak akan mungkin melakukan sesuatu begitu saja, melainkan harus melalui wasilah usaha kita.

Namun setidaknya dengan mengadukan hal tersebut kepada Nya, kita akan sedikit mendapatkan ketenangan hidup dan pikiran.  Paling paling kita hanya  dapat meghimbau kepada smeua pihak lewat media apapun yang memungkikan agar smeua kita  dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat menambah masala.  Cukuplah masalah yang suda ada  saat ini, dan selanjutnya kita pecahkan masalah tersebut agar semuanya menjadi semakin bagus.

Memang mungkin itulah jalan satu satunya yang kita dapat upaakan, karena seolah semua jalan sudah tertutup rapat dan ditembuok dengan kokoh.  Perbaikan  memang sudah diupayakan oleh pihak pemerintah dengan terus melakukan tindakan yang diperlukan,  namun dalam kenyataannya, masih banyak yang tertinggal, padahal  itu merupakan persoalan besar.  Biarlah  upaya perbaikan tersebut berjalan sesuai dengan   keinginan  para pihak yang masih berpikir jernih, namun kita juga  dapat melakukannya lewat doa.

Kita sangat berharap bahwa  semua pihak, khususnya yang mempnyai sedkit kekuatan atau kekuasaan untuk menyadarkan semua   anggota atau anak buanya untuk mengendalikan diri atau mengendalikan nafsunya agar tidak  liar dan merugikan banyak pihak.  Jika diperlukan maka  usaha untuk memberikan sanksi hukumpun  dapat diberlakukan seauai dengan kewenangan yang  ada.

Dengan  usaha nayta tersebut kiranya  akan dapat dilihat bagaimana kelanjutan perbaikan yang telah dimulai tersebut.  Idealnya jika semua pihak yang mempunyai kekuasaan dalam lingkupnya sendiri melakukan usaha perbakan tersebut, insyaalallah akan  muncul harapan bagi kita untuk dapat menikmati indahnya bermasyarakat yang aman, nyaman, dan sentosa.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.