SATU HARI DI DENMARK

Perjalanan panjang telah kami lalui dengan cukup melelahkan, meskipun sudah dilakukan berbagai upaya untuk menguraninya.  Namun kekuatan tubuh manusia memang sangat terbatas, danitulah yang kemudian  dapat menyadarkan kita bahwa manusia itu sungguh sangat lemah dan bergantung kepada Alah swt.  Pada saat seperti itu seharusnya seluruh manusia menyadari kondisinya sendiri, sehingga  akan dapat menambah keyakinan kita  tentang keberadaan Alah swt dan peran Nya.

Perjalanan tolah lebih dari 19 jam dengan transitnya, tentu sebuah perjalanana yang tidak mungkin masih menyisakan kebugaran dalam tubuh, terkecuali  mungkin  bagi mereka yang  memang  benar benar dapat menggunakan seluruh  waktunya  nuntuk beristirahat.terutama bagi mereka yang berada di kelas bisnis.  Karena bagaimanapun seperti kami, meskipun  dapat juga menggunakan fasilitas kelas bisnis, namun mengingat keperluan untuk menjalankan tugas dinas masih banyak, maka  rasanya sangat eman eman kalau harus memakainya.

Justru menurut saya  kita harus dapat  mengambil berbagai manfaat dari sebuah kejaqdian, termasuk  perjalanan, karena bagaimanapun pengalaman tersebut akan dapat diambil jika kita memang menginginkannya dan sekaligus juga  agar kita semakin kuat kepercayaan terhadap Alah swt.  Semuanya tergantung kepada  fokus pemikiran kita.  Artinya jika pemikiran kita kosong dari keinginan untuk  mendapatkan pengalaman dan pelajaran bagus dari sebuah kejadian, maka kita  pasti tidak akan mendapatkan apapun.

Bahkan meskipun di hadapannya tersaji hal yang sangat luar biasa pun pastinya tidak  akan membekas sedikitpun  dalam dirinya, khususnya terkait dengan pelajaran yang dapat disimpulkan dan berguna bagi diri da orang lain.  Sebaliknya jika seseorang membiasakan diri dalam  memikirkan segala sesuatu yang ada di sekitarnya untuk djadikan sebagai sebuah pengalaman, maka  dari  situ akan muncul banyak hal yang bermanfaat bagi dirinya dan juga buat orang lain.

Saya  terkadang memang terlalu fokus kepada hal kecil yang terjadi, meskipun menurut saya hal kecil tersebut  sesungguhnya sangat luar biasa, seperti pada  saat antri untuk mesuk ke kamar kecil, meskipun  kamar kecil disediakan cukup banyak, tetapi pada saat tertentu, pnggunaannya  sangat dibutuhkan secara bersamaan, semisal  setelah lampu kabin dinyalakan, sebagai bentuk membangunkan para penumpang bahwa saat mendarat sudah  dekat, sekitar 1-2 jam lagi.

Nah, pada saat para penumpang  usai bangun tentu keperluan  untuk masuk ketoilet tentu menjadi emndesak, dan di situlah terjadi antrean.  Nah, pada saat demikian sebagiannya ada yang tidak cukup  buang air kecil, melainkan ada keperluan lainnya yang  lebih dari itu.  Dengan demikian dia harus berada di dalamnay  untuk waktu yang cukup lama.  Itulah sumber persoaan yang kemudian muncul, seolah tolilet tersebut miliknya sendiri, padahal itu untuk keperluan banyak orang penumpang.

Ada sedikit ketegangan memang, khususnya bagi mereka yang juga sudah kebelet, dan terlalu lama menunggu, sehingga keluarlah kata kata yang tentu tidak enak untuk didengar.  Nah, dalam kondisi seeprti itu memang  dibutuhkan sebuah  pemahaman, baik dari mereka yang berada di dalam toilet maupun mereka yang menunggu di luar,  dan juga  sekaligus kesabaran tingkat tinggi.  Kita memang dapat mengerti bahwa di dalam mereka  membutuhkan ketuntasan,  sementara yang diluar membutuhkan jalan keluar untuk mengatasi masalah perutnya yang sudah hampir jebol.

Kesempatan tersebut ternyata semakin membuat kita akan dapat mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, yakni tentang bagaimana kita dapat  memahami pihak lain meskipun diri kita juga membutuhkan.  Artinay terkadang kita harus dapat berlaku sabar dan sekaligus juga memperhatikan kebutuhan pihak lain, dan ketika hal tersebut tidak kita jalankan,  tentu  akan muncul pihak yang tidak nyaman dan bahkan  mungkin  mendoakan  jelek kepada kita.

Hidup itu seharusnya saling memahami dan memberikan kesempatan kepada pihak lain untuk dapat melakukan halyang sama dengan yang kita lakukan, dan juga menggunakan  fasilitas yang kita gunakan, terutama jika fasilotas tersebut merupakan fasilitas umum.  Ini menjadi sangat urgen dalam kehidupan, karena  kita tidak meginginka mendapatkan  musuh atau pihak yang tidak menyukai kita,  melainkan kita ingin mendapatkan kawan yang banyak, atau setidaknya  mereka yang  tidak mendoakan jelek atau  bersikap buruk pada kita.

Saya sangat yakin bahwa pada saat  orang yang menggunakan toilet terlalu lama tersebut, akan dimaki oleh orang yang terlalu lama menunggu untuk keperluan yang mendesak, meskipun mungkin  tidak dengan jalan mengatakan sesuatu, melainkan cukup dalam hati saja.  Kalau  kemudian kita kaitkan dengan keberagamaan kita, tentu Tuhan  juga tidak akan  memuji skap kita yang tidak mampu  berbagi dengan yang lain, dalam kondisi mendesak sperti itu.

Bukankah kita tahu bahwa menyenangkan kepada pihak lain itu termasuk salah satu bentuk ibadah sosial kita, bahkan hanya dengan tersenyum saja kita juga akan mendapatkan pujian  atau pahala.  Nah, tentu kalau kita menyakitkan  atau membuat orang lain tidak nyaman, kita memperoleh keburukan atau setidaknya mendapatkan sikap kurang simpatik  dari mereka.  Untuk itulah kisah sepele ini mungkin juga sekaligus dapat dijadikan sebagai pengalaman berharga bagi siapapun gara  diri mereka   dapat menjadi yang terbaik.

Itulah sekelumit perhatian saya pada saat di dalam pesawat, dan tentu masi ada beberapa hal lain yang juga  mempengaruhi fokus saya dalam  perjalanan tersebut,  namun mungkin tidak  saya shere dalam kesempatan ini.  Mungkin dalam kesempatan lain,  saya akan ungkapkan  berbagai pengalaman lainnya tersebut, sesuai dengan  munculnya ide yang terkait dengannya.

Alhamdu lillah akhirnya perjalanan panjang  kami tersebut berakhir, saat kami sudah mendarat di  airpot Copenhagen, Denmark, siang menjelang sore. Namun meskipun kondisi sudah lelah, tetapi sebelum  melakukan Chek in hotel, kami sempatkan untuk sedikit  city tour dikota Kopenhagen untuk sekedar melihat dan menyaksikan beberapa  hal yang selama ini  cukup dikenal dan belum sempat mengunjunginya.

Ternyata cuykup menarik juga kotanya, meskipun  kalau diliha dengan sekilas hampir seluruh bangunan tersebut  seperti suda terlalu tua, kumuh dan terkesan tidak  pernah direnovasi.  Namun justru itulah letak kemenarikannya, sehingga di beberapa tempat, kami sempat menikmatinya sedmikian rupa. Memang cukup menarik, meskipun kondisi tubuh sudah semakin lemah, namun kesempatan tersebut memang akhirnya dapat sedikit menumbukhkan  ghirah dan semangat kembali untuk tetap melakukan kunjungan  di beberapa titik penting di  Kopenhegen.

Pada akhirnya seperti  tinggal sisa sisa tenaga, kami sampai juga ke hotel penginapan, yakni di Copenhagen Admiral hotel, sebuah hotel dengan desain kuno dan  bangunannya tidak seperti  hotel kebanyakan saat ini, yakni menggunakan bahan kayu yang luar biasa besar besar.  Meskipun  kamarnya sempit dan  lorongnya pun juga sempait, tetapi karena seluruh tubuh sudah begitu lunglai, maka  saya terus mandi dan menjalankan shalat, dan setelah itu sebelum tidur, saya sempatkan untuk  makan malam, karena  sudah  membelinya di restoran di luar.  Sungguh nikmat sekali rasanya setelah badan menjadi sedikit bugar setelah mandi.  Hingga  sekitar jam 22, saya memang belum tidur, meskipun seharusnya kalau di Indonesia sudah   jam 3 pagi.

Namun  saya sangat bersyukur bahwa akhirnya saya dapat tidur dengan enak, walaupun kemudian hanya sekitar  4,5 jam, lalu saya terbangun dan sulit untuk tidur lagi.  Nah, kesempatan ityulah yang kemudian saya gunakan untuk  menuliskan  kisah sedikit perjalanan ini, dengan harapan siapapun akan mampu  mengambil manfaat dan pelajaran, meskipun sedikit untuk kebajikan hidupnya.  Semoga hari ini nanti akan lebih bugar sehingga misi untuk melakukan kunjungan pendidikan ini akan berhasil membawa manfaat besar bagi institusi, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.