MENGUKUR KEIKHLASAN

Pada saat merayakan Idul qurban spewerti hari hari kemarin, kita memang diingatkan kembali tentang  keikhlasan yang ditunjukkan oleh nabi Ibrahim.  Keikhlasan tersebut dapat ditunjukkan  dan didapatkan  manakala keimanan telah memenuhi seluruh  diri seseorang.  Bagaimana mungkin  orang yang tidak mempunyai ketebala iman dapat  berlaku ikhlas jika diuji dalam hal pengorbanan, baik yang terkait dengan harta maupun tenaganya.

Kiranya hanya sebuah kondisi iman yang kuatlah yang akan menuntun seseorang menjadi tulus dalam menjalankan sebuah perintah agama, apalagi kalau perintah tersebut terkait dengan sebuah  pengorbanan yang harus dilakukan, bukan untuk kepentingan dirinya secara lahir, melainkan untuk kepentingan pihaklain.  Akan tetap jika iman sudah merasuk dalam diri, tentu akan did=sadari bahwa semua pengorbanan tersebut hakekatnya hanya untuk diri sendiri, bukan untuk pihak lain.

Lantas bagaimana  kita  dapat mengetahui  kadar keikhlasan seseorang dala berbuat sesuatu, seperti tulus dalam berkurban misalnya.  Secara  lahir kita akan sangat mudah  melakuka opengukuran tersebut, namun secara  hakiki atau secara batin, tentu hanya Allah swt dan orang yang bersangkutanlah yang mengetahui keikhlasan tersebut.  Secara lahir kita akan dapat mengira bahwa jika seseorang melakukan sesuatu tanpa memperhitungkan apapun, terkecuali hanya karena Allah, maka itu tandanya ihklas.

Namun bagaimana kita  megetahui haltersebut?.  Nah, jika  perbuatan tersebut terkait dengan pelaksanaankurban, maka  alau seseorang memberikan hewan kurna, lalu dia  tidak  meminta untuk disiarkan, namun cukuplah dicatat dan pada saat penyembelihan disebut namanya, barang kali itu merupakan salah satu tanda keiklasannya. Atau jika jika dia menyerahkan hewan kurbanya kepada sebuah panitia kurban yang jauh dari rumahnya, sehingga meskipn namanya disebut, tetapi dia sendiri sudah tidak mendengar dan mempedulikannya.

Kadar keikhlaan tersebut tidak diukur dari seberapa besar  hewan  yang dijadikan kurban, atau tidak tergantung pada  bentykinya, apakah itu lembu atau sekedar kambing. Namun keikhlasan tersebut sesungguh ada di dlaa hati masing masing orang.  Salah satu bentukkeikhlasan lagi ialah jika sesreorang tersebut sangat puas dengan apa yang sudah diperbuat,yakni  telah menyerahkan  hewan kurbannya kepada sebuah kepanitiaan di sebuah tempat, dan dia sama sekali tidak akan menyaksikannya pada saat penyembelihan, karena dia sudah pasrah dan percaya.

Lalu agaimana dengan mereka yang berkurban, lalu diinfokan kepada masyarakat luas? Bahkan mungkin  kurbannya tidak hanya satu, melainkan banyak.  Nah,. Dalam persoalan ini sebaiknya kita serahkan saja kepada yang ebrsangkutan danTuhan.  Kita menyaksikan bahwa ada sebagian selebriti atau tokoh masyarakat tyang kaya raya, lalu  dalam Idul kurban ini  dia melakukan kurban dengan sepuluh ekor sapi dan disebar ke bebrbagai panitia yang ada di beberapa daerah.  Namun dengan bangganya dia  kemudian  menyatakan hal tersebut kepada masyarakat leweat mas media.

Bukan berarti secara otomatis orangtersebut tidak tulus dala berkurban, sebab kita taidak tahu motivasinya  untuk memberikan informasi  atau memberitahukan kepada masyarakat.  Bisa saja motivasinya sangat bagus, yakni agar masyarakat juga  tahu dan sekaligus   meniru tindakan berkurban tersebut sehingga niat yang demikian tentu harus diapresiasi.  Namun jika niatnya hanya sekedar pamer bahwa dirinya  telah berkorban, dan  ada keingian  agar masyarakat memujinya atau  hal lain yang sejenis, maka itu berarti tidak tulusnya muncul.

Kalau dahulu nabi  Muhammad saw pernah mengatakan bahwa agara seseorang mn=enjadi ihlas sebaiknya jika berbuat kebajikan melalui tangan kanan, semacam memberikan sedekah dan lainnya,  maka sebaiknya tangan kirinya tidak mengetahui, sehingga ketulusan aa benar benar didapatkan.  Artinya jika kita ingin melakukan sesuatu, sebaiknya cukup diketahui oleh diri sendiri dan oleh Tuhan, sedangkan  manusia  lain sebiknya tidak  mengetahuinya, sebab biasanya  kalau diketahui oleh phak lain,  penyakit riyak akan  mudah muncul sehingga akan mengalahkan keikhlasan.

Anji=uran ersebut memanag tidak salah, karena biasanya  timbulnya sifat yang mengganggu keikhlasan ialah jika diketahui dan dilihat oleh pihak lain, apapun yang dilakukan, termasuk shalat, bersedekah, berkurban dan lainnya.  Nah, jika semua amalan baik tersebut diklakukan secara sembunyi sembunyi, maka  akan mudah menghindarkan diri dari terkena sifat pamer yang akan merusak pahala amalkita.

Tentu bagi kita semua itu dala  tataran yang masih awal, namun  jika  seudah  melalui berbagai macam  rintangan dan kemudian sudah dapat  memisahkan  kepentingan  hati dan dunia, maka  sudah tidak menjadi maslah apakah amal tersebut diketahui oleh masayarakat atupun tidak, karena semuanya  akan tergantung kepada hati dan niat.  Biasa saja orang beramal, seperti berkurban, atau bersedakah, lalu diumumkan dan diketahui oleh masyarakat banyak, tetapi tetap tulus, karena niat dalamhati seseorang tersebut sangat kuat.

Bahkan terkadang ada kalanya kondisi pem=ngumuman terhadap sebuah tindakan amal tersebut akan lebih bagus jika diumumkan dan diketahui oleh masyarakat. Hal itu disebabkan jika disembunyikan justru malah akan menjaqdi fitnah dan  pembicaraan oarang banyak.  Jadilah pengumuman dan informasi kepada masyaakat menjadi penting dan sama sekali tidak akan megurangi kadar keikhlasa.

Hanya saja meang abgi mereka yang belum dapat memantapkan hati dan iatnya, sebaiknya memang mengawalinya dengan sembunyi sembunyi agar tidak terjangkit penyakit  pamer atau riyak.  Karena itu jika kita ingin mengukur  kadar ketulusan seseorang sebaiknya kita berhusnudzdzan saja kepada mereka, karena siapa tahu justru dengan pengumuman  atas perbuatan baiknya tersebut akan menarik ma=inat orang lain  untuk meneladaninya sehingga  mereka malah akan mendapatkan pahala dakwah bil hal.

Tentu  akan sngat bagu jika kita memulai dengan mengukur kadar keikhlasan kita sendiri, bukan menilai pihak lain.  Artinya sebelum kita  menilai pihak lain, mari kita melakukan hal yang baik, baik  bersedekah, melakukan kagiatan ibadah mahdlah, dan juga brkurban, lalu disertai dengan niat tulus  kaena Tuhan.  Mampuka kita  benar enar melakukannya Cuma karena Tuhan, dan bukan dicamuri dengan niat agar diketahui atau dipuji oleh masyarakat?

Nah, jika kita sudah mampu melakukannya dengan sangat bagus, maka   secara otomatis kita tidak akan peduli dengan apapun yang diperbincangkan oleh orang lain, ataupun apapun yang dilakukan oleh orang lain.  Jika seseorang  berbuat demikian suda barang pasti akan  mengalami  sebuah opengalaman yang   sangat mengasyikkan,  terutama  godan untuk keluar dan bergeser dari tulus.  Godaan demi  goddaan akan terus  mengantri dan  kalau kita mampu megatasinya, maka sudah tidak ada  kesempatan lagi untuk menilai dan  mengukur  perbuatan pihak lain, termasuk mengukur kadar keikhalsan.

Jadi pendeknya untuk  mengkur keikhlasan itu bukan kepada  pihaklain, karena akan sangat sulit, karena hal tersebut terkait dengan hati da niat yan tentu tidak akan diketahui  terkecuali oleh yang bersangkutan dan Tuan, tetapi mengkur keiikhlaqsan itu harus dilakukan untuk  diri sendiri, karena pasti akan dapat melakukannya dengan  cermat.  Sedikit saja  ada kecenderungan  ingin  riyak, maka yang tahu adalah diri sendiri, dan pengendaliannya juga cukup dari dalam diri sendiri.

Untuk itu sebaiknya kita memang menyibukkan diri untuk mengurus diri sendiri,khususnya terkait dengan niat dan ketulusan dalam berbuat, dan bukan  sibuk mengurusi dan menilai pihak lain. Insyaallah kita akan menemukan  kenikmatan sejati dan terjauhkan dari rasa iri, dengki dan  riyak, yang pasti  akan merusak amalan kita, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.