SELAMAT MENJALANI WUKUF

Hari ini sxeluruh  manusia yang melaksanakan ibadah haji  sudah berada di padang Arafah untuk menjalani wukuf di sana, tepatnya mulai setelah matahari lengser ke Barat sedikit, atau setelah masuk waktu Dhuhur.  Namun semua jamaah calon haji sejak kemarin hingga tadi malam sudah berada di Arafah dengan mengenakan kain ihram yang serba putih.  Tadi malam mereka melakukan aktifias sesuai dengan kehendak masing masing.

Sebagaiannya ada yang berkunjung ke beberapa tenda lain untuk sekedar bertemu dengan sahabatnya di koloter lain, bahkan kegiatan tersebut dilakukan hingga pagi ini.  Namun begitu masuk waktu Dhuhur nanti, mereka semua akan berada dalam tenda masing masing dan menjalankan shalat serta mendengarkan khutbah wukuf.  Mereka akan menjalani wukuf hingga sore dan malam hari, lalu meneruskan perjalanan ke Muzdalifah untuk menginap di sana dan mengambil batu kecil sebagai alat untuk melempar jumrah.

Namun dalam prakteknya di Muzdalifah  para jamaah tidak menginap, karena memang tidak ada tempat untuk menginap, namu hanya  beberapa saat  berdiam atau berada di Muzdalifat setelah tangah malam, dan itu  sudah dianggap memenuhi sayarat menginap di sana. Perjalananpun diteruskan menuju Mina untuk kemudian  pada pagi hingga sore harinya  melempar jumrah Aqabah dan meneruskan dengan tahallul awal.

Tahallaul awal tersebut dilakukan  dengan memotong rambut dan setelah itu mereka sudah diperbolehkan memakai pakaian biasa.  Hanya saja  mereka bel;um diperbolehkan untuk berkumpul suami isteri sebelum melaksanakan tahallul tsani, yakni setelah mereka nanti menjalankan Thawaf Ifadlah  dan tentu dengan sa’inya.  Sebagian jamaah haji ada yang pagi itu sudah ke masjid Haram untuk tahwaf Ifadlah, sehingga  pada saat mereka melepmar jumrah Aqabah di siang hari langsung mereka dapat tahallul yang sesungguhnya.

Kembali kepasda kegiatan di tenda Arafah, kita sering mendapati  sebagain jamaah memang berbincang tenatng berbagai hal, sambal menunggu waktu  wukuf.  Bahkan sebagaiannya ada yang bersendagurau untuk menghilangkan ketegangan yang menimpa mereka.  Kita harus salur dengan mereka yang sejak datang  di Arafah satu hari sebelum pelaksanaan wukuf, selalu  konsentrasi untuk  melakukan berbagai hal yang bernilai ibadah, seperti berdzikir, membaca kitab suci al-Quran dan lainnya.

Cuma memang  mereka semua harus waspada agar pada saat mereka tidur tetap dalam kondisi memakai kain ihram yang harus menutup bagian yang memang harus ditutup.  Biasanya jamaah perempaun yang paling harus waspada, karena bisa saja dalam kondisi tidak sadar karena tidur, kain ihramnya akan tersingkap dan lainnya.  Untuk itu mereka harus melakukan  hal hal yang diperlukan sehingga ihramnya masih tetap menutup seluruh tubuhnya terkecuai muka dan telapak tangannya.

Demikian juga  harus diwaspadai dan diperhatikan oleh mereka, khususnya jamaah perempuan yang biasanya suka negerumpi, agar menjauhi  berbincang untuk  membicarakan pihak lain, agar tidak terjatuh kepada  ghibah yang tentu akan dapat merusak  dan setidaknya tidak emndukung hajinya.  Seringkali kalau sudah berkumpul dan kemudian ada sedikit saja  yang dibicarakan, lalu melebar dan tidak terbendung lagi membicarakan pihak lain.  Dengan demikian  maka memang  semuanya harus saling mendukung sehingga semuanya akan  tetap dalam  kondisi baik untuk menjalankan ibadah haji.

Wukuf biasanya disebut sebagai puncak haji, karena menurut manasik haji dan itu bersumber  langsung dari nabi Muhammad saw, bahwa  tanpa wukup, maka haji seseorang tidak sah.  Bahkan nabi pernah bersabda bahwa haji itu Arafah, yakni berwukuf atau berada dan berdiam diri di wilayah Arafah setelah Dhuhur.  Pada zaman Nabi dahulu pelaksamnaan wukuf itu sangat berat Karena tidak ada tenda yang disiapkan sebagaimana saat ini, sehingga mereka harus berpanas panas dengan matahari.

Karena itulah kemudian Nabi juga memberikan  anjuran kepada yumat muslim yang tidak melan]ksanakan haji untuk ikut simpati denagn mereka yang  sedang wukuf dan berat tersebut, yani dengan menjalankan ibadah puasa Arafah, bahkan Nabi juga memberikan iming iming bahwa  berpuasa di hari Arafah akan dapat menghapus dosa  satu tahu sebelum dan satu tahu kedepan, bahkan ada yang meriwayatkan dengan dua tahun.

Disarankan pada saat berada di Arafah, para jamaah haji terus menerus memohon kepada Allah swt  agar diampuni segala dosanya, diterima amal baiknya, diberikan  kemudahan dalam menempuh hidup, dijauhkan  dari segala mara bahaya dan kesulitan.   Pemakaian kain ihram dalam  waktu yang sama tersebut sesungguhnya juga mengandung makna  yang sangat dalam, yakni bahwa  di hadapan Allah swt, seluruh manusia itu sama, meskipun  pada saat yang lain,mereka ada yang mempunyai kedudukan tinggi, ada rakyat biasa dan lainnya.

Di Arafah itu semuanya  menghadap Tuhan dan menyatakan dirinya  hina, sangat lemah, tidak berdaya, dan sangat membutuhkan  Tuhan.  Dengan demikian pengakuan yang sangat jujur tersebut  semakin menambah kesadaran semua opihak bahwa sesunggunhya semua manusia itu lemah tidak mempunyai apa apa,  dan tidak berhak untuk berlaku sombong dan lainnya.  Hanya Tuhanlah yang Maha Kuasa dan  Maha segalanya, dank arena itu mereka  sama sama memohon kepada Tuhan untuk semua keinginan manusia yang berhaji tersebut.

Tentu harapannya bukan  pada saat wukuf di Arafah saja keadaran tersebut muncul, melainkan pada semua kondisi.  Jika hal tersebut dapat diwujudkan, yakni semua orang menyadarti bahwa kekuassaan atau kekayaan yang ada padanya hanya sedikit sekali jika dibandingkan dengan Tuhan, dan itupun kalau Tuhan menghendaki maka dengan  sangat cepat Tuhan akan dapat mebghinagkan semuanya.  Nah,  semua itu tentu akan menjadikan segalanya  sangat bagus.

Artinya mereka yang mempunyai kekuasaan sebagai pemimpin, akan berlaku sangat adil dan peka terhadap penderitaan sesame yang  kebetulan lemah.  Mereka yang kaya juga akan menyadari  bahwa kekayaannya tersebut  bukan untuk disimpannya sendiri, melainkan juga untuk dibagi dengan sesame.  Alangkah indahnya dunia ini jika mereka yang selesai menunaikan ibadah haji lalu menyadari hal tersebut dan mengubah cara pandang dan pikirnya  hanya untuk pengabdian kepada Tuhan.

Jadi wukup tersebut akan  dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi kehiodupan umat manusia, menjuju kehidupan yang sangat diidamkan oleh smeua orang.  Namun sayangnya hal tersebut tidfak  atau sulit diwujudkan, karena  meskipun pada saat diAeafah hamper seluruh pemimpin yang mempunyai kekuasaan dan juga mereka yang kaya   dapat menangis  dan merendahkan dirnya sedemikian rupa di hadapan Tuhan, tetapi pada kenyataannya setelah mereka kembal;I ke tanah airnya, mereka akan kembali kepada watak aslinya.

Sangat disayangkan memang, padahal seharusnya mereka akan tetap konsisten dengan permohonan dan sikapnya pada saat wukuf di Arafah tersebut.  Lalu pertanyaannya apakah mereka pada saat menangis dan meminta kepada Tuhan di Arafah tidak tulus? Atau hanya semacam sandiwara saja, atau karena sebab lain, Wallahu a’lam.  Namun yang jelas haji mereka sepertinya tidak membekas dalam kehidupan nyata. Tentu hal tersebut sangat disayangkan karena  seharusnya haji yang dilaksanakannya tersebut akan emmberikan dampak positif dalam kehidupannya setelah itu.

Namun  pada  kesempatan wukuf kali ini, kita  ikut berdoa semoga seluruh jamaah kita akan  lebih khusyu’  di Arafah dan menyadari semua kesalahan  serta kelakuan s=yang selama ini dilakukan, lalu insyaf uintuk  seterusnya.  Artinya setelah mereka pulang ke tanah air mereka akan berubah  menjadi lebih baik dan lebih peduli dengan nasib mereka yang kurang beruntung, sehingga keberadaan mereka akan emmberikan manfaat bagi sesame, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.