LABBAIKALLAHUMMA LABBAIK

Musim haji  sudah berjalan dan bahkan saat ini sudah ditutup untuk memasuki kota suci Makkah.  Persiapannya pun juga  dilakukan dengan maksimal, meskipun tentu kalau dicari kekurangannya, pasti akan ditemukan.  Namun kita harus dapat membiasakan diri melihat sisi positifnya.  Upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia dengan menyediakan dan menambah fasilitas  untuk jamaah haji telah dilakukan, bahkan setiap tahunnya selalu meningkat.

Kita tahu bahwa persoalan saat itu ialah  banyaknya jamaah yang melaksanakan rukun Islam kelima tersebut shingga tempat lempar jamarat selalu menjadi persoalan krusial, karena hanya  sebuah tempat yang kecil dan harus dijamah oleh  berjuta masyarakat yang menlankan haji dalam waktu yang relative bersamaan.  Lalu pemerintah mengusahakan dilakukanpembangunan, sehingga pelemparan jamarat dalam dilakukan di lantai dasar, lantai dua dan tiga.

Namun demikian  disebabkan semakin banyaknya jamaah haji, maka itupun rasanya belum cukup untuk melaksanakan lemper jumrah, sehingga masih saja terjadi insiden yang menewaskan jamaah.  Memang untuk memenej orang dari berbagai belahan dunia agar mengikuti apa yang sudah ditetwepak, apalagi kalau disana ada pilihanm pilihan yang boleh dijalankan oleh mereka, semacam waktu melempar jamarat, dan sejenisnya.

Dapat dibayangkan pada saat tanggal 10 Dzul hijjah, dimana  semua jamaah haji harus melempar jumrah Aqabah dalam waktu yang sama.  Para jamaah haji menginginkan agar dapat meleparnya pada saat yang dianggap afdla, yakni pada waktu Dluha, sehingga jutaan orang harus berada di satu tempat atau satu titik yang sangat sempit, pastilah di sana akan muncul banyak persoalan.  Padahal sesungguhnya kalau mereka dapat dan mau diberi informasi mengenai waktu yang perbolehkan untuk lempar jumrah Aqabah tersebut, seperti pada siang dan sore hari, maka akan dapat sedikit dirasakan  agak nyaman.

Demikian juga pada saat melempar jamarat pada hari Tasyriq, merek pada umumnya menyukai melepmarnya setelah dhuhur yang dianggap sebegai  waktu afdlol, padahal diperbolehkan melemparnya pada  waktu pagi bahkan hingga sore hari yang biasanya sudah cukup sepi.  Nah, kalau ini dapat dimenej dengan melakukan pembagian waktu dengan  rombongan jamaah, tentu akan lebih  dapat dilakukan dengan lebih baik.

Kita juga sudah menyaksikan  usaha pemerintah untuk memperluas masjid haram sebagai salah satu tempat menjalankan rukun haji, yakni thawaf Ifadlah yang waktunya juga biasanya  berbarengan   walaupun  sesungguhnya dapat dilakukan  pada waktu lainnya yang masih  diperbolehkan, seperti di hari tasyriq.  Kapasitas masjid haram sesungguhnya sudah cukup banyak, namun dengan dibangunnya masjid untuk diperluas, tentu akan lebih memberikan kenyamanan kepada jamaah haji, meskipun kalau berada pada tempat yang semakin jauh dari Ka’bah, tentu akan menambah perjalanan.

Demikian juga dengan penyediaan fasititas lainnya yang biasanya dibutuhkan oleh para jamaah, pemerintah Saudi sudah berupaya  meningkatkannya sedemikian rupa.  Tentu kita memberikan apresiasi kepada mereka, namun sesunggunya yang lebih penting lagi ialah bagaimana Pemeerintah, baik Saudi maupu negara yang mengirimkan jamaah haji, untuk mengerem jumlah kuota haji, karena kita tahu bahwa  kapasitas kota Makkah dan sekitarnya sudah  cukup padat dan fasilitas yang mendukungnya juga sudah penuh.

Artinya kuota yang saat ini sudah berjalan, jangan sampai  terus ditambah, meskipun kita tahu bahwa antrean untuk berangkat haji itu semakin banyak.  Pemerintah Saudi juga jangan mudah untuk memebrikan tambahan kuota  dengan alasan ekonomi dan peningkatan pendapatan saja, tanpa memikirkan resiko yang bakal diterima oleh para jamaah haji.  Pemerintah negara yang mengirimkan jamaah hajinya juga harus dapat mengekang diri untuk tidak terus meminta tambahan kuota.

Semua itu dimaksudkan agar  para jamaah haji akan dapat menunaikan ibadah hajinya dengan sangat Nyaman, khusyuk dan khidmat.  Bayangkan saja kalau saat ini semua jamaah haji pasti merasakan betapa sulitnya untuk menjalankan ibadah haji tersebut, apalagi kalau harus ditambah jumlah masyarakat yang pergi ke Makakh untuk haji.  Bahkan hanya untuk beribadah saja mereka harus berjibaku mendapatkan tempat, disamping pemondokannya  sebagian diantara mereka juga sangat jauh.

Kita yakion bahwa dengan mempertahankan kuota yang ada atau bahkan menguranginya, dan diimbangi dengan terus menyediakan dan melengkapio fasilitas yang ada, tentu akan semakin menyenangkan dan siapapun yang menjalankan ibadah haji akan mendapatkan pengalaman yang menarik, bukan pengalaman pahit seperti yang selama ini banyak dikisahkan oleh mereka yang pulang haji.

Tempat Sa’i saat ini juga sudah dilengkapi dengan lantai di atas, sehingga akan memudahkan jamaah haji untuk dapat menjalaninya dengan lebih nyaman.  Kita paham bahwa masih ada sebagian umat yang tidak mau melakukan sa’i di lantai  atas dan lebih memilih di lantai dasar, tempat  asli saat  nabi  Muhammad saw dan para sahabatnya menjalankan Sa’i.  namun itu menjadi tanggung jawab para pembimbing yang harus dapat menjelaskan dan meyakinkan bahwa semua itu sama, termasuk juga tempat menginap di Mina yang saat ini sudah menembus Mina jaded atau Mina baru yang  sudah meluas ke Muzdalifah.

Para jamaah calon haji saat ini sudah berada di kota Makkah, dan  sebenrtar lagi  sudah akan bersiap menuju Arafah untuk berwukuf.  Tahun ini  mereka akan berangkat pada hari Sabtu menuju  Arafah, lalu Minggunya mereka akan menjalani wukuf yang menjadi inti dari haji itu sendiri.  Wukuf menjadi inti dari haji karena tanpa wukuf, maka seseorang tidak dapat dinamakan mel;akukan ibadah haji, sehingga mereka yang sdakit dan seharusnya berada di rumah sakitpun, mereka akan disafarikan wukuf, yakni hanya  berhenti sebentar saja setelah Dhuhur di bumi Arafah, setelah itu mereka akan dibawa kembali ke rumah sakit, dimana mereka dirawat.

Kita tahu bahwa untuk urusan wukuf tersebut pemerintah Saudi sudah menyediakan tempat yang luas dan muat untuk ditempati oleh jutaan jamaah dalam waktu yang bersamaan.  Pada zaman nabi Muhammad saw, wukup dilaksanakan  di tempat terbuka, sehingga kita dapat membayangkan betapa sulit dan susahnya menjalani wukuf tersebut.  Namun saat ini  sudah relative sangat mudah, karena sudah diberikan fasilitas tenda  dan juga dilengkapi dengan fan dan AC yang menyejuklkan, dan jamaah calon haji tidak perlu berpanas panas dengan sinar matahari.

Namun kita juga tahu masih ada sebagian umat yang tidak mau bertempat di tenda, khususnya pada saat wukuf, yakni setelah Dhuhur hingga malam hari, dan mereka langsung bergerak menuju MUzdalifah untuk mengambil batu kecil untuk alat melempar jamarat.  Ini sekali lagi menjadi  kewajiban para  ulama dan pembimbing untuk memberikan pencerahan dan keyakinan kepada  jamaah bahwa  tidak harus sama persis dengan zaman Nabi, karena zamannya sudah berbeda dan kondisnya pun juga berbeda.

Setelah mereka berwukup, mereka juga harus melempar jumrah Aqabah pada  hari raya Idul Adlha, yakni tanggal 10 Dzul haijjah, bahkan mereka yang  mampu menunaikannya juga diberikan kesempatan untuk menuju masjid haram untuk ikut shalat Idul Adlha, lalu meneruskannya dengan Thawaf Ifadlah, dan menuju  Mina untuk melempar jumrah Aqabah, lalu  tahallul. Yakni memotong rambut.

Namun sesunggunya itu merupakan pilihan.  Yakni  bagi yang tidak emnghendaki hal tersebut, mereka dapatmelempar jumrah Aqabah terlebih dahulu, lalu  potong rambut, yang berarti sudah tahallul awal, yakni sudah boleh memakai pakaian biasa, dan lainnya, Cuma belum boleh berkumpul suami isteri.  Mereka boleh juga menunggu  setelah selesai mabit di Mina dan lempar jamarat, lalu baru ke masjid haram untuk melakukan thawaf ifadlah dan sa’i dan itu merupakan tahallaul tsani.  Setelah selesai itu maka  mereka sudah benar benar halal, termasuk berhubungan  suami usteri pun sudah tidak dilarang.

Itulah siklas persiapan  dan pelaksanaan haji secara umum dan harapannya seluruh jamaah haji akan dapat menyelesaikan semua rukun, kewajiban dan juga Sunnah haji sehingga pada saatnya mereka akan pulang dengan menyandang haji mabrur, dan memberikan manfaat besar bagi keluara dan lingkungannya.  Untuk hal hal lain terkait dengan pelaksanaan haji, insayaallah akan  saya sampaikan dalam tuylisan selanjutnya. Semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.