MENGEKANG NAFSU

Salah satu musuh manusia yang paling berat untuk dihadapi dan taklukkan ialah nafsu, karena sering dan banyak manusia  yang sudah meraih kesuksesan,  lalu hancur berantakan hanya disebabkan ketidak mampuannya untuk mengendalikan nafsunya sendiri, termasuk nafsu birahi.  Itulah  mengapa Raulullah saw pernah  mengatakan bahwa  perang yang paling  dahsyat itu ialah perang melawan nafsu.  Pernyataan tersebut disampaikan oleh beliau  selepas para  sahabat baru saja memenangkan peperangan yang  sangat hebat, yakni perang Badr, namun justru Nabi malah mengatakan bahwa kita baru saja  selesai melakukan perang kecil, dan segera akan berhadapan dengan perang yang besar.

Pada saat para sahabat saling pandang dan bertanya, gerangan perang sepertyi apakah yang akan segera dihadapi oleh mereka?, padahal perang yang  baru saja dijalaninya sungguh luar biasa beratnya, namun masih akan ada perang yang lebih dahsyat lagi.  Untuk segera  menyadarkan para sahabat agar tidak penasaran terhadap informasi yang disampaikan oleh Nabi tentang adanya perang yang lebih besar, maka Nabi kemudian mengatakan perang tersebut ialah perang menghadapi nafsu.

Memang benar bahwa  pada saat  meraih sesuatu impian, semisal menjadi pejabat atau menduduki  kedudukan yang tinggi dan strategis, adalah merupakan hal yang sulit, bahkan terkadang harus dihadapi dengan kekuatan yang luar biasa, terutama  bagi rintisan yang memang melalui jalan yang normal dan  benar.  Namun sesungguhnya mempertahankannya itu justru  jauh  lebih sulit, karena sudah pasti akan muncul banyak rintangan dan gangguan, baik dari dalammaupun dari luar.

Rintangan dari luar, barangkali  akan dapat dilihat dan mudah  dilakukan perlawanan dan antisipasi, namun ketuika rintangan tersebut justru muncul dari dalam dirinya sendiri, terkadang malah luput dari perhatian, yang akhirnya akan membawa kerugian.  Biasanya kalau seseorang berada di tempat yang  tinggi, akan banyak godaan nafsu yang muncul dari dalam diri, dan kalau tidak  waspada dan  kuat, maka nafsu tersebut akan dapat menjerumuskannya ke dalam jurang yang amat dalam.

Nafsu tersebut dapat menjelma dalam berbagai bentuknya, seperti menjelma menjadi seorang perempuan cantik yang  menggoda dan sanggup untuk melakukan apapun, namun begitu dan sekali kita terbujuk rayuannya, maka  selamanya tidak akan mampu untuk melpaskannya, sebab perempuan tersebut pastinya akan mengancam membocorkan rahasianya, jika diputuskan.  Kalau  masih tetap dipegangnya, maka ia akan semakin terperosok dalam  kemaksiatan serta menghancurkan.

Nafsu yang berbentuk perempuan tersebut memang sudah banyak memakan korban, dan pada akhirnya harus  mengorbankan kedudukannya.  Kita tentu sudah banyak mengetahui para pejabat tinggi yang kemudian harus  undur diri dari jabatannya, disebabkan oleh persoalan perempuan tersebut.  Bahkan kalaupun belum terbongkar kasusnya, dapat dipastikan perempuan tersebut akan terus mengiras isi kantongnya, dan begitu seterusnya.

Nafsu juga dapat berupa kekayaan, yakni  godaan untuk menjadi  orang kaya, pasti akan selalu menyeruak, bilamana  seseorang tidak kuat imannya.  Bagaimana tidak, kalau sestiap saatnya selalu disuguhi  berbagai iming iming yang mungkin dianggap sangat mudah untuk mendapatkan harta tersebut, walaqupun ahrus menempuh jalan tidak benar, seperti berkorupsi dan sejenisnya.  Biasanya pula godaan tersebut kalau tidak mampu menembus iman seseorang, akan ditempuh jalur melalui  keluarganya.

Nah, biasanya  keluarganya, baik isteri maupun anak anaknya, akan selalu memojokkannya, sebab tidak mampu memenuhi keinginan nafsu keluarganya tersebut.  Biasnya  jua diperkuat oleh kondisi riil yang menimpanya dan juga  kelurag lainnya yang kebaradaan  di bawahnya, namun secara meteri malah lebih berlimpah.  Nah, itulah mungkin godaan terberat yang harus dialami, dan jika kuat mengendalikan nafsu yang satu itu, insyaalla  orang tersebut akan semakin bagus kedudukannya.

Sementara itu ada  nafsu yang terkadang menjelma dalam bentuk yang biasanya dianggap terlalu ringan oleh kebanyakan orang, yakni nafsu yang  menjelma sebagai sosok orang, baik itu kerabat atau kawan.  Biasanya mereka akan dengan halus membujuk untuk dicarikan kemudahan dalam urusannya dengan jabatan yang diembannya, semisal memenangkan proyek tertentu, atau untuk memuluskan seseorang dalam kaitannya dengan pekerjaan di institusi yang dipimpinnya dan lainnya.

Nafsu dalam bentuk tersebut biasanya disebut dengan kolusi, atau  mendahulukan  atau memenangkan atau memuluskan seseorang  bukan karena prestasi atau kualitas nya, melainkan hanya disebabkan oleh kedekatannya, baik karena itu  didasarkan atas kekerabatan ataupun pertemanan.  Memang sepertinya hal tersebut tidak terlalu berbahaya dan tidak merugikan siapapun, tetapi kalau direnungkan justru itulah awal dari sebuah kerusakan dalam berbagai hal.

Kita dapat bayangkan jika dalam sebuah kompetisi untuk memperebutkan posisi dalam sebuah perusahaan, lalu dilakukan  test atau  penyaringan untuk mengetahui kualitas dan komitmen, tetapi kemudian dirusak oleh kolusi tersebut, sudah dipastikan akan merugian banyak pihak.  Daiantaranya ialah pihak perusahaan, yang tidak mendapatkan tenaga sesuai yang diharapkan dan  yang paling berkualitas, namun hany mendapatkan tenaga yang barangkali malah sama sekali tidak kapabel.

Kondisi seeprti itu juga sekaligus akan merugikan orang lain yang ikut kompetisi, karena  jika didasarkan atas penilaian obyektif,  pastilah diantara mereka yang akan diterima  dan lolos dalam test tersebut.  Nah, begitu seterusnya, jadi  dari rentetan itu akan dapat dilihat betapa rusaknya sistem yang ada, sehingga nafsu  kolusi tersebut  meskipun  seperti dianggap ringan, tetapi jusru akan menentukan nasib dan masa depan.

Masih ada lagi bentuk nafsu lainnya yang terkadang tidak dianggap sebagai nafsu dan godaan, karena sifatnya yang tidak langsung dapat dirasakan, melainkan akan dapat diketahui setelah beberapa lama.  Nafsu itu berupa keinginan untuk diperlakukan secara lebih, ingin dihormati dan ingin  selalu mendapatkan tempat yang terhormat, meskipun bukan dalam kapasitasnya sebagai pimpinan daam sebuah  institusi misalnya.

Bisa jadi karena kedudukannya di perusahaan atau diinstitusi tersebut tinggi, maka hal tersebut akan terus terbawa dalam kehidupannya di masyarakat.  Dia  bahkan tidak mengingat bahwa diantara masyarakat tersebut juga ada pihak lain yang juga menjadi pemimpin di sebuat institusi lainnya.  Kalau nafsu sudah menguasai dirinya, maka apapaun akan dilakukan untuk menjadikan dirinya  dihormati dan diperlakukan beda dengan masyarakat pada umumnya.

Pada walnya mungkin kita tidak akan dapat mengetahui nafsu tersebut, namun  setelah sekian lama bergaul dan bersama, maka  pasti nafsu tersebut akan dengan mudah dikenali dan kalau itu kemudian diladeni oleh masyarakat, maka kegilaannya akan semakin membabi buta. Bahkan pada saatnya  dia akan tidak menghormati kebanyakan masyarakat, karena  dia mengangap bahwa dirinyalah yang harus dihormati, sementara dirinya boleh menghina pihak lain, apalagi  kalau dia termasuk orang kaya dan masyarakatnya lebih miskin dibandingkan dirinya.

Itula beberapa gambaran nafsu yang setiap saat  akan dapat muncul dan menginggapi diri kita, bukan saja yang saat ini sedang menduduki jabatan tertentu, melainkan juga pada saat dan dalam kondisi apapun.  Mungkin masih ada penjelmaan nafsu dalam bentuk lainnya, namun dengan menggambarkan  beberapa hal sebagaiana di atas, kiranya sudah cukup untuk memberikan gambaran kepada kita, agar kita tidak mudah digodanya dan  akan tetap berada dalam jalan yang benar, yakni jalan Tuhan.  Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.