DI ATAS LANGIT PASTI MASIH ADA LANGIT

Terkadang  manusia itu sangat sempit pikirannya, yakni ketika  memiliki sedikit harta atau sedikit ilmu atau kekuasaan atau lainnya, dia kemudian meraa yang paling kaya, paling pintar  atau paling berkuasa dan lainnya, padahal apa yang dimilikinya tersebut sangat sedikit, apalagi kalau dibadingkan dengankepunyaan Tuhan.  Hanya dibandingkan dengan  yang dimiliki oleh manusia lain saja pastinya, ada yang lebih darinya.

Itulah salah satu kelemaan manusia, buan kekuatan,karena  manusia jenis itu pastinya  suka menyombongkan diri dengan apa yang  digenggamnya.  Nah, setelah diketahuinya ada pihak lain yang melebihinya,pasti dia akan sangat sedih dan akan berusaha merusak reputasi sainganya tersebut dengan berbagai cara.  Celakanya usahanya untuk mengukuhkan  eksistensinya tersebut akan selalu gagal, dan jadilah dia  sebagai manusia yang tidak mampu membendung emosi dan ketahanannya.

Itulah kelemahannya yang paling mendasar dan  pastinya dia tidak akan pernah merasa  puas dengan keberadaannya tersebut.  Lantas apa utungnya kalau dia menyombongkan dengan apa yang dimiliki,api sama sekali tidak mampu merasakan kebahagiaannya? Lebih bagus mereka yang hidup sedrhana dengan  harta atau ilmu atyau keuasaan yang pas pasan atau bahkan kurang, namun dapat menikmati apa yang dipunyai tersebut dan seklaigus dapat merasakan kepuasannya, karena  mereka selalu bersyukur dengan apa yang sudah erada dalam genggamannya.

Manusia yang sadar diri bahwa  apapun yang didapatkannya itu hanyalah sesuatu yang sangat sedikit dari Tuhan, karena yang Maha Segalanya itu hanyalah Tuhan, sehingga  sebanyakmapapun yang dimiliki manusia, apakah itu harta, ilmu, kekuasaan dan lainnya, hanyalah setitik atau setets saja jika dibandingkan dengan  kekuasaan Tuhan.  Dengan penyadaran sepertiitu tentu manusia akan merasakan dirinya itu  kecil, fakir dan selalu membutuhkan Tuhan untuk membantu dan memberikan karunia Nya.

Itulah kenapa  ada  kata ibarat bahwa di atas langit pasti akan terdapat langit lagim, yang bermakna  bahwa  amnusia itu  tidak ada yang paling hebat, karena  pasti akan muncul manusia yang  melebihi manusia lainnya, dan begitu seterusnya.  Kalaupun  seseorang mampunyai harta yang sangat banyak, bukan berarti dialah yang paling kaya, karena di belahan dunia yang lain, dapat dipastikan ada  manusia lain yang justru lebih darinya.

Dengan kenyataan seperti itu sesungghnya juga dimaksudkan agar tidak ada satupun menusia yang kemudian menyombongkan dirnya sebagai yang paling hebat, sekaligus juga agar manusia  menyadari keberadaan Tuhan dan lalu mensyukuri apapun yang sudah didapatkannya, karena semuanya adalah atas kehendak Nya, bukan terlepas dari dari kehendak dan keputusan Nya.

Pra ulama dahulu yang  sangat laim dan ilmunya pun mungkin sangat tinggi bila dibandingkan dengan orang sekarang, namun kita  selalu akan mendapati merrka selalu rendah hati dan seolah tidak mau menampakkan bahwa dirinya adalah seorang ulama hebat tanpa tanding.  Walaupun mereka selalu merendah karena merasa uilm,unya masih sangat sedikit, merka  juga tidak pernah menyombingkan diri dengan apa yang didapatkannya.

Justru sebaliknya mereka akan  menunjuk kepada ulama lain jika ada orang yang mengatakan bahwa  dirinya adalah ulama terhebat, dan terkadang jika ada orang yang memujiknya, maka dia malah akan  menyebunyikan diri atau bahkan kalau mampu dia akan tidak menyukainya.  Hanya jiak mereka dimintai untuk memberikan tausiah atau memberikan fatwa atas suatu persoalaqn sajalah mereka akan bersedia untuk  memberikannya, itupun masih dengan pernyataan itu kalau menurut p[endapat saya, sementara  seilahkan untuk mendatangi ulama lain, barang kali ada fatwa lain yang lebih baik.

Sikap merendah dan tawadlu’ seperti itulah yang kemudian menjdaikan mereka disegani, bukan saja oleh mereka yang hidup sezaman, melainkan hingga waktu waktu setelahnya, bahkan hingga saat ini.  Kita mengenal ulama hebat zaman dahului, sepertyi imam madzhab, imam  Hanafi, imam Maliki, iman Syafi’i, imam  Hambali dan lainnya, semuanya tidak ada yang menyatakan dirinya sebagai ulama yang terhebat.

Tetapi coba lihatlah zaman ini, dimana banyak orang yang mengaku sebagau ustadz, yang bternyata tidak pernah nyatri, sehingga ilmua tidak mempunyai sanad hingga ulama terdahulu, dan kemudian menyatakan bahwa dirinyalah yang paling hebat, sementara yang lain  salah bahkan sesat.  Ada orang yang hanya dapat membaca terjemahan saja sudah mengaku sebagai seorang ulama dan  berani mengatakan bahwak pemahaman selain dirinya adalah sesat.  Luar biasa memang, karena zaman ini sudah begitu berubah, setidaknya  jika dibandingkan dengan zaman para ulama terdahulu.

Seharusnya biarkanlah orang lain yang akan menilai bahwa seseorang itu bijak atau  sebaliknya, karena kalau penilaian itu didasarkan atas  kepentingan, meskipun dilakukan oleh orang lain, dapat dipastikan bahwa penilaian tersebut akan bias, dan justru akan memenjarakan seseroang dalam kondisi yang sangat  menyakitkan.  Mungkin pada  suatu saat,  orang tersebut akan merasa bangga bahwa ada pihak lain yang menganggapnya sebagai orang bijak dan baik, namun karena dilakukan  dengan tidak ikhlas, maka pada saatnya akan ketahuan juga bahwa sesungguhnya dia itu bukan orang bijak.

Pelajaran yang seharusnya kita tarik dari cerita dan pengalaman tersebnut ialah bagaimana kita saat ini dapat memosisikan diri kita sebagai orang yang tidak sombong, namun dapat memberikan manfaat yang besar bagi anusia lainnya.  Kalaupun kita  mendapatkan  perngharagaan dalam bidang tertentu, maka anggaplah semuanya itu merupakan anugerah dari Tuhan  dan harus  kita syukuri, dan bukan dengan menyomongkan diri.

Dengan mensyukuri seluruh nikmat Tuhan, apapun bentuknya, insyaallah Tuhan akan semakin memberikan pertolongan dan petunjuk Nya kepada kita untuk terus berprestasi dan  terus bersyukur.  Dengan begitu keberadaan kita sebagai amba Nya  yang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi orang kaya, sebagai pejabat, atau sebagai ilmuwan, akan tetap terjaga dan bahkan menjadi kebanggan semua pihak.

Kesombongan hanya akan memusnahkan  diri, dan yang pasti tidak akan disuki oleh sesama. Karena oitulah sikap tersebut harus dijauhi dan   jangan pernah mendekatinya, kalau tidak ingin menjadi orang yang selalu akan mendapatkan kesulitan, serta tidak akan pernah disayangi oleh Tuhan.  Kan jauh lebih bagus jika kita  tidak mendapatkan sesuatu yang banyak, tetapi dapat bermanfaat bagi sesama ketimbang mendapatkan sesuatu yang banyak tetapi justru membuat orang lain menderita dan tidak suka.

Justru orang yang suka menyombongan diri dengan apa yang didapatnya,  dia itulah orang yang sangat kerdil dan  sama sekali tidak membanggakan.  Sebagai seorang yang bijak, kita tidak patut untuk mendekatinya karena dapat dipastikan kita akan hancur berantakan.  Contohlah para ulama dan ilmuwan masa lalu yang selalu rendah hati dan bijak dalam segala  hal. Jangan contoh kepada para ustadz yang  ilmunya sesungguhnya sangat dangkal, namun seolah merekalah yang terhebat dari semua ulama.

Namun yang terbaik untuk kita lakukan ialah jangan  pernah menghakimi orang lain sebagai sesat atau salah dalam memahami agama atau teks al-Qur’an atau hadis atau teks agama lainnya, sebab sekali menghakimi pihaklain, maka  saat itu pula  kita sudah melakukan kesombongan, sebab kebenaran yang sejati itu hanya milik Tuhan, bukan milik manusia, karena manusia itu hanyalah berusaha untuk memahami yang mendekati kepada kebenaran sejati.  Dengan demikian tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengklaim atas kebenaran tersebut, dan menyalahkan pihak lain.

Semoga kita terjauhlan dri sikap menghakimi tersebut dan sekaligus kta akan tetap dijaga Nya  menjadi manusia yang  bijak dan juga menghormati  pendapat dan pemahaman pihak lain yang didasarkan atas pemikiran yang jernih bukan dalam  pemahaman yang  sembrono dan ngawur.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.