AL-IKHLAS

Surat ini merupakan surat yang ke 112,  hanya terdiri atas 4 ayat pendek, namun demikian mengandung isi yang sangat luas.  Surat ini termasuk golongan surat Makkiyyah, meskipun ada sebagian ulama yang memasukkannya ke dalam surat Madaniyah. Penamaan surat ini tidak diambil dari bagian ayat ayat yang ada, seperti juga dengan penamaan surat pertama dalam susunan mushaf, yakni al-Fatihah.   Al-Ikhlas  sendiri mempunyai makna yang suci atau murni, karena surat ini berisi tentang kemurnian tauhid atau kesucian Allah swt.  Namun demikian masih ada ulama lain yang memberikan nama lain dari surat ini, yakni antara lain al-Shamad yang diambil dari ayat ke 2, al-Aman,  al-Tafrid, al-Tajrid, al-Najat, dan lainnya.

Secara umum kandungan surat ini  menceritakan mengenai kemurnian Tuhan yang menjadi sesembahan nabi Muhammad saw dan para pengikutnya.  Ada beberapa riwayat mengenai sebab turunnya surat ini.  Salah satunya ialah bahwa para kaum musyrikin Makkah menanyakan kepada nabi Muhammad saw  tentang Tuhan yang disembah oleh Nabi, apakah serupa dengan tuhan yang mereka sembah, yakni terdiri atas batu,  atau benda lainnya.  Nah, saat itulah turun surat ini untuk menjelaskan tentang Tuhan yang sebenarnya.  Mereka sebelumnya mengira bahwa  Tuhan Muhammad saw itu berupa emas atau perak atau sejenisnya.

Namun ada juga yang berpendapat bahwa surat ini turun  berkenaan dengan pertanyaan orang Yahudi di Madinah mengenai Tuhan yang disembah oleh Muhammad saw, dimana nabi Muhammad saw mengajak kaum Yahudi untuk menyembah-Nya, apakah Tuhannya tersebut terbuat dari emas atau perak atau apa?.  Lalu turunlah surat tersebut, atau menurut ulama yang mengatakan  surat  ini turun di Makkah, maka setelah mendapatkan pertanyaan tersebut, Nabi membacakan surat ini yang sudah turun di Makkah, jauh sebelumnya.

Dapat dimaklumi bahwa orang orang musyrik yang selama itu menyembah kepada patung patung, sama sekali tidak mengenal Tuhan yang sesunguhnya, Tuhan yang memberikan kehidupan dan memiliki kekuasaan atas semua yang ada di langit di bumi.  Karena itu saat Nabi Muhammad saw mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah, mereka kemudian bertanya seperti apakah gerangan Tuhan Muhammad  itu?.  Penjelasan  surat ini mengenai Tuhan, tentu mengejutkan mereka dan membuat mereka kelabakan, karena mereka tidak menyangka sama sekali jawaban tersebut.

Akibatnya diantara mereka ada yang kemudian menjadi semakin membenci dan  memusuhi nabi Muhammad saw, dan sebagiannya lagi justru  menjadi percaya dan masuk ke dalam Islam.  Secara nurani sesungguhnya semua orang akan dapat menerima penjelasan Nabi melalui surat ini, karena sangat rasional dan dapat diterima oleh semua orang.  Hanya saja para musyrikin tersebut kemudian menentang, disebabkan kesombongan yang ada pada diri mereka dan untuk mempertahankan egoisme mereka.

Penjelasan surat ini sangat tepat, yakni tentang  Allah itu sendiri, yakni bahwa Allah itu Maha Esa,  Allahlah tempat bergantung atau tumpuan harapan,  Tuhan itu juga tidak beranak dan juga tidak diperanakkan,  dan tidak ada satupun yang setara dengan-Nya.  Sebelumnya mereka sama sekali tidak tahu bahwa Tuhan yang disembah dan mereka diajak untuk meyembahnya tersebut adalah demikian hebat, tidak sebagaimana tuhan yang mereka sembah selama itu, yani hanya berupampatung yang sama sekali tidak memberikan apapun, bahkan untuk sekedar bergerak saja tidak bisa.

Tentu lain dengan Tuhan yang disampaikan oleh nabi Muhammad saw,  yakni Tuhan yang  memang pantas  disebut sebagai Tuhan, yakni Maha segalanya dan tidak ada satupun yang menyerupai atau setara dengan-Nya.  Tuhannya nabi Muhammad saw itu hanya satu dan berkuasa atas segala sesuatu.  Semua yang ada  di dunia ini bergantung kepada Tuhan tersebut, dan yang terpenting  Tuhan  itu lain dari  semua yang ada, seperti Tuhan tidak beranak, juga  tidak diperanakkan.

Surat ini sungguh merupakan  pensucian Tuhan dari segala apapun di dunia ini.  Tauhid yang memang menjadi salah satu pilar penting dalam Islam yang harus disadari dan diyakini oleh semua orang beriman.  Setiap muslim yang  merenungkan suat ini dengan seksama, sudah barang pasti akan mendapatkan sebuah kemurnian tauhid dalam dirinya.   Karena itu surat ini menurut riwayat yang disampaikan oleh al-Bukhari dan lainya, merupakan seperyiga al-Quran itu sendiri.

Penafsiran sebagai surat yang setara dengan sepertiga al-Quran kemudian memang berbeda, yakni ada sebagian yang memahami bahwa dengan membaca  surat al-Ikhlas ini tiga kali, maka pahalanya  menyerupai dengan membaca al-Quran seluruhnya.  Hanya saja  kalau dalam hal edukasi, pendapat ini kirang baik, karena dapat mereduksi kepercayaan orang untuk membaca dan mengkaji al-Quran secara menyeluruh dan hanya mencukupkan diri dengan  surat al-Ikhlas ini saja.

Sedangkan  yang dimaksud dengan sepertiga al-Quran tersebut seharusnya dimaknai bahwa ajaran Islam itu memang secara umum terdiri atas tiga pilar, yakni Aqidah, syariah dan akhlak.  Nah, surat ini mengambil porsi  aqidahnya sehingga  seolah sama dengan sepertiganya.  Memang surat ini diyakini sebagai ajaran tauhid yang paling hebat dan luar biasa, karena seluruh ajaran tauhid bermuara  kepada  pokok pokok ajara yang terkandung dalam surat ini.

Pertama, tentang keesan Tuhan,  surat ini menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa dan  karena itu semua pendapat ataup asumsi yang menyatakan bahwa Tuhan itu beraneka ragam, ada tuhan anak, tuhan bapak,  dan lainnya, sama sekali tidak dapat dibenarkan.  Sudah seharusnya Tuhan itu Esa, karena sebagai Tuhan harus berbeda dengan semua yang ada,  Tuhan itulah sang Khlaik dan selain-Nya  merupakan makhluk-Nya.  Ajaran ini sungguh luar biasa dalam persoalan tauhid, artinya setiap orang yang telah mampu membebaskan dirinya dari segala macam hal yang di luar Tuhan, maka itulah kekuatan tauhid yang sempurna.

Kedua, Tuhan itu tempat bergantung atau tumpuan harapan, memberikan makna bahwa sebagai Tuhan, memang harus mempunyai sifat Maha segalanya dan bukan malah sebaliknya, yakni  kalah dengan yang lain.  Nah, Allah swt itu  merupakan Tuhan yang semua makhluk bergantung dan menaruih harapan kepada-Nya.  Sangat pantas kalau Tuhan menjadi rujukan dan tempat bergantung dan menaruh harapan.  Kiranya tidak layak jikalau kita bertumpu kepada yang lain, karena selain Allah swt, tidak mungkin akan mampu menjadi penangung seluruh urusan.

Ketiga, Tuhan itu tidak beranak dan juga tidak diperanakkan.  Ini sangat jelas bahwa  Tuhan itu seharunya memang mandiri dan tidak bergantung kepada yang lain, dan justru yang selain-Nyalah yang bergantung kepada Tuhan.  Karena itu  kemurnian tauhid kepada Tuhan mengharuskan terbebasnya Tuhan dari semua yang dapat dikategorikan sebagai saling bergantung atau membutuhkan.

Keempatnya, ialah bahwa Tuhan tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Tuhan.  Sebagai Tuhan tentu tidak boleh ada  yang menyaingi atau menyamai, baik dalam hal kekuasaan, maupun dalam hal bentuk,jenis dan lainnya.  Ini menjelaskan  kepada kita bahwa Tuhan itu memang berbeda dengan seluruh makhluk yang ada, dan inilah hakekat kemurnian Tuhan sebagai Tuhan yang pantas untuk disembah dan dijadikan tempat bergantung atau tumpuan harapan bagi semua makhluk.

Kita berharap bahwa kemurnian tauhid tersebut akan mampu menjadiisi dari pikiran dan hati kita, sehingga  perjalanan hidup kita ke depan  selalu diwarnai dengan ketauhidan sikap, perilaku dan seluruh aktifitas yang kita lakukan.  Jangan sampai ada sedikitpun noktah yang mkenodai ketauhidan kita, karena hal tersebut anya akan membawa kesengsaraan  bagi kita, terutama di akhirat nanti.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.