MENENTUKAN PILIHAN

Pemerintahan baru telah membuat keputusan mengenai  pemisahan dikti dari kemendikbud dan kemudian berfusi dengan kementerian riset dan teknologi.  Nah, dengan kemunculan kementerian pendidikan tinggi dan ristek tersebut muncul banyak hal yang harus dijawab atau diselesaikan, setidaknya dalam hal pembiayaan, apakah tetap dibiayai oleh dana pendidikan yang mencapai 20% dari APBN ataukah nunut kepada  kementerian ristek, atau dicarikan formula tersendiri, semisal  didapatkan dari pembiayaan yang dahulunya  di dikbud ditambah dengan dari kemenristek, sehingga tidak saling mengganggu.

Semua itu masih belum finak dan mungkin juga belum dibicarakan secara detail dan diputuskan.  Oleh karena itu pada saat ada wacana  akankah pendidikan tinggi keagamaan yang selama ini  berada dalam pembinaan kementerian agama bergabung dengan kementerian yang baru tersebut, masih ada tarik ulur, yang intinya ada dua  aliran yang muncul, yakni aliran yang ingin bergabung dengan kementerian yang baru tersebut, dan ada aliran yang masih menginginkan berada di kementerian agama.  Tentu masing masing mempunyai argumentasi yang kuat.

Bagi mereka yang menginginkan bergabung beralasan antara lain bahwa kemnterian yang baru tersebut memang dimaksudkan untuk mewadahi pendidikan tinggi yang ada, sehingga seharusnya bukan lagi ditawarkan, melainkan  ada sebuah kebijakan bahwa semua pendidikan tinggi berada dalam satu atap dan pebinaan, meskipun tetap harus menjadi cirikhas masing masing, termasuk pendidikan tinggi keagamaan.  Karena itu diperlukan sebuah  pembicaraan menyeluruh dengan semua unsur yang tergabung, yakni dikti, ristek dan diktis.

Tentu dalam pembicaraan tersebut  akan muncul keinginan untuk membentuk  direktorat jenderal minimal tiga, yakni yang terkait dengan urusan yang biasanya  mengurus dikti, diktis dan ristek.  Dengan begitu maka tidak akan muncul kekhawatiran hilangnya kekhususan yang  dimiliki oleh masing masing.  Tentu semua unsur harus menempatkan diri sebagai pihak yang sama, sehingga masing masing mempunyai kedudukan dan kesempatan yang sama.

Sementara itu bagi mereka yang menginginkan tetap berada di kementerian agama, juga mempunyai alasan, yang antara lain dilatarbelakangi oleh kekhawatiran hilangnya ciri keagamaan yang dimiliki diktis selama ini, apalagi  saat ini direktorat yang ada di kementeriana baru sudah terbentuk sehingga kehadiran diktis seolah hanya ssebagai pendatang baru yang tidak ikut menentukan pembentukan direktorat yang ada.

Belum lagi persoalan anggaran yang belum jelas, apakah nimbrung di anggaran  eks kementerian ristek ataukah  diambilkan dari  dana operasional yang biasa dijadikan pembiayaan diktis dari kementerian agama, sektor pendidikan, atau bagaimana.  Nah, selama hal tersebut belum jelas dan prospeknya juga belum ada kejelasan, maka alasan tetap ingin di dalam kemnterian agama menjadi sangat beralasan.  Apalagi  menteri agama sendiri secara eksplisit juga lebih cenderung  diktis masih dalam wadah ementerian yang dipimpinnya.

Bagi perguruan tinggi tentu boleh berpendapat dengan argumentasi yang dibangunnya, hanya saja semua keputusan nantinya akan diambil oleh pihak kementerian yang memang mempunyai kebijakan dalam persoalan ini.  Hanya saja  dalam hal ini kita patut urun rembuk dalam upaya menjadikan pendidikan tinggi di daslampembinaan kementerian agama dapat bersaing dengan perguruan tinggi lain, bahkan  pada saatnya ada yang dapat dibanggakan seperti menjadi world class university atau setidaknya masuk rangking dunia, meskipun   dalam nomor ratusan.

Sebenarnya  hal tersebut merupakan sebuah pilihan, akan tetapi bukan untuk setiap perguruan tinggi, melainkan bag kementerian  yang selama ini membina pendidikan tinggin keagamaan.  Kiranya amat bijak kalau kementerian mengajak berbicara kepada seluruh  perguruan tinggi untuk menyampaikan  argumentasi tentang bergabung dengan kementerian baru atau tetap di dalam kementerian agama.  Setelah itu tentu akan ada semacam kesimpulan yang  dapat dijadikan argumentasi kementerian untuk  memutuskan.

Hnaya saja ketika nanti keputusannya adala tetap berada di dalam pembinaan kementerian agama seperti kecenderungan menteri sendiri, maka  harus ada upaya pembehan menyeluruh, termasuk menyangkut pembiayaan yang standar, sehingga sekali lagi PTKIN dapat berperan dalam membangun bangsa dan  bersaing, tidak saja dengan perguruan tingi lain di Indonesia, melainkan juga bersaing dengan pergurua tinggi di dunia.  Atau setidaknya PTKIN  ada yang menjad icon internasional yang dibanggakan  oleh dunia.

Memang pembiayaan bukan satu satunya penentu sebuah perguruan tinggi dapat mamu, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa  aspek pembiayaan menjadi  hal yang vital dala pengembangan PTKIN.  Salah satu alasannya ialah saat ini masih banyak SDM yang sangat perlu ditingkatkan  kapasitasna, dan diberikan  pengalaman luar negari, sehingga mereka dapat berkomunikasi dengan dunia luar dan menjadeitertantang untuk memperbaiki diri dan kampusnya.

Demikian juga dengan tenaga administrasi yang juga sangat perlu ditingkatkan kemampuannya dalam  berbagai hal yang menjadi tanggung jawab mereka.  Selama ini skill yang dibutuhkan tidak dapat atau kurang dapat dipenuhi oleh tenaga yang tersedia, sehingga peningkatan yang diharapkan  tidak mampu diwujudkan atau hanya sedeikit saja yang dapat dicapai dari target yang dicanangkan.  Nah, dengan peningkatan tenaga yang ada, diharapkan akan  dapat dilakukan percepatan dalam berbagai peningkatan di semua bidang.

Pilihan yang tersisa ialah bagaimana kita  mampu meningkatkan kualias perguruan tinggi kita atau tidak, dan pilihantersebut harus  juga diplih oleh kementerian, apakah memang ingin memajukan pendidikan tingi keagamaan ataukah masih ingin tetap biasa biasa saja.  Artinya kalau memang kemnterian berkeingiann untuk memajukan dan meningkatkan kualitas PTKIN, maka tidak ada jalan lain harus  serius dalam mengurus dan sekaligus  dalam membiayai, setidaknya sesuai dengan standar yang ada.

Barangkali semua tahu bahwa  salah satu faktor yang harus terus didorong ialah begaimana PTKIN dapat menghasilkan penelitian yang bermutu, sehingga dapat dijadikan sebagai refeerenci internasional dan juga dapat membantu pemerintah dalam membangun dan mensejahterakan rakyat.  Nah, untuk tujuan tersebut harus ada kemauan baik untuk menambah dan meningkatkan pembiayaan riset di perguruan tinggi.  Namun bukan sekedar menambah jumlah pembiayaannya saja, melainkan juga harus disertai dengan peningkatan kualitas penelitiannya tersebut.

Meskipun demikian kita juga masih harus bertanya kepada para pimpinan perguruan tinggi keagamaan, mengenai apakah  memang berkinginan untuk memajukan lembaganya atukah sudah puas dengan apa yang saat ini dcapai?.  Kalau memang belum puas dan ingin meningkatkan  lembaganya dalam segala bidang, maka tidak ada kata menyerah dalam semua hal.  Artinya harus terus merencanakan dan berbuat untuk merealisasikan keinginan tersebut.  Tidak ada sesuatu yang akan datang dengan sendirinya, dan tidak ada keberhasilan yang dicapai dengan leha leha, tetapi harus diperjuangkan dengan serius dan terus menerus.

Barangkali ini adalah momentum yang sangat tepat untuk kita semua, apakah PTKIN akan tetap  seperti adanya saat ini ataukah ingin lebih maju lagi dan berkembang menjadi perguruan tinggi yang setara dengan perguruan tinggi lain di dunia.  Semua jawabannya ada di masing masing PTKIN dan tentu kementerian agama.  Kita akan lihat satu sampai tiga bulan ke depan, karena kita tahu bahwa  menteri diktidan ristek diberikan batas waktu hingga pebruari untuk menata semua hal yang terkait dengan kementerian baru tersebut.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.