AICIS KE 14 DIGELAR DI BALIKPAPAN

Acara pertemuan ilmiah tahunan yang diselenggarakan oleh diktis memasuki yang ke 14.  Pelaksanaannya dilangsungkan di Balikpapan, dan sebagai tuan rumahnya ialah IAIN Samarinda.  Pelaksanaan AICIS yang dahulunya ACIS selalu diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia, dengan menjadikan perguruan tinggi keagamaan Islam sebagai tuan rumah, meskipun tetap ada penyelenggara yang ditingkat pusat. 

Aicis atau annual International  Conference on Islamic Studies  pada awalnya  hanya  merupakan  pertemuan ilmiah di kalangan  intelektual Muslim, sehingga  sebagaimana kita tahu pada mulanya diinisiasi oleh direktur Pasca sarjana dan melibatkan para pakar di lingkungan PTAIN yang sekarang  dengan munculnya undang undang nomor 12 tahun 2012 menjadi PTKIN.  Didorong oleh kenyataan bahwa penyelenggaraan  pertemuan ilmiah tahunan tersebut semakin  bagus, kemudian ditingkatkan menjadi level internasional.

Untuk itu para pembicara yang terlibat dalam AICIS tersebut juga datang dari beberapa Negara, dan bukan hanya dari kalangan  intelektual local.  Isu isu yang diangklat juga bukan saja menjadi perhatian local, melainkan  dapat dimaknai secara global, karena menyangkut kepentingan yang lebih luas, bukan hanya sekdar yang terkait dengan keberadaan kita di Indonesia.  Meskipun demikian PTKIN saat ini dapat memanfaatkan penyelenggaraan AICIS dan hasil hasilnya untuk kepentingan pengembangan dan memajukan lembaga.

Tema yang diangkat kali ini adalah  Merespon tantangan masyarakat multicultural; Kontribusi kajian Islam Indonesia.  Tentu dengan tema tersebut diharapkan akan  didapatkan  beberapa kajian keislaman di nusantara yang  akan dapat menjawab  tantangan  masyarakat multicultural yang saat ini tidak mungkin dihindari.  Islam harus menjadi  panglima dalam  menghadapi persoalan tersebut.  Cuma kita menginginkan bahwa tampilan Islam memang benar benar menjawab tantangan yang ada, bukan malah menambah beban atau masalah.

Untuk itu kajian Islam tersebut dalam berbagai aspeknya harus dilakukan dengan pendekatan yang multi disipliner, bukan hanya satu pendekatan saja.  Kita sangat paham bahwa sampai  saat ini masih banyak umat muslim atau para tokohnya yang masih  suka mendekati Islam dengan pendekatan tunggal, yang  berakibat seolah Islam itu tidak dapat menjawab  tantangan yang muncul atau  justru malah lebih parah ketimbang sebelum didekati dengan Islam tersebut.

Rasanya sedih sekali bilamana kita menyaksikan banyaknya pemahaman Islam yang  hanya didsarakan kepada lahiriyah teks semata, sehingga tampak sangat kering dan  hamper selalu berbenturan dengan persoalan baru yang muncul, serta tidak ada penyelesaiakan yang memuaskan.  Padahal kita yakin bahwa Islam itu solusi yang dap[at  menenangkan dan menjadikan kondusif  semua persoalan.  Itu memang teori, tetapi sesungguhnya kalau kita  melakukan kajian dengan pendekatan multi disipliner, tentu teori tersebut akan dapat diwujudkan dalam kenyataan.

Beruntung sekali bahwa saat ini  sudah cukup banyak dan hamper merata  diantara para cendekiawan muslim yang dalam kajiannya  menggunakan banyak pendekatan dari lintas disiplin, sehingga tampilan Islam begitu bagus dan  dapat menjadi solusi terbaik bagi setiap persoalan yang muncul.  Artinya  Islam bukannya  mengikuti arus yang ada, melainkan  ruh Islam itu dapat menyelesaikan persoalan tanp harus berbenturan dengan masalah tersebut.  Secara substansi, Islam tetap menunjukkan jati dirinya sebagai agama yang dating dari Tuhan, tetapi dalam prakteknya  dapat bersentuhan dengan berbagai macam problem yang ada.

Sebagaimana biasanya, setiap penyelenggaraan AICIS, akan dilakukan pertemuan pimpina perguruan tinggi keagamaan Islam dan juga pertemuan khusus para direktur pasca sarjana, mengingat mumculnya AICIS yang dulunya ACIS  dibidani oleh para direktur pascasarjana tersebut.  Biasnya pertemuan pertemuan tersebut membahas isu isu startegis dan terkini yang sedang dihadapi oleh PTKIN.  Saat ini ada persoalan  penting yang dihadapi oleh PTKIN, utamanya adalah  dengan munculnya kementerian baru, yakni kementerian Pendidikan Tinggi dan riset dan teknologi dalam pemerintahan saat ini.

Ada dua opsi yang sempat muncul di permukaan, yakni opsi bergabung dengan kementerian baru tersebut, karena memang itulah wadah yang telah disediakan untuk pendidikan tinggi, dan opsi kedua, yakni tetap berada di kementerian agama sebagaimana yang selama ini sudah berjalan.  Memang ada beberapa keuntungan dan juga tentu kerugian  ketika harus memilih salah satu diantara dua opsi tersebut, namun dalam waktu dekat memang harus ditentukan.  Untuk itu pandangan para pimpinan  PTKIN sangat diperlukan untuk menentukan sikap tersebut.

Artinya setiap pandangan harus disertai dengan argumentasi yang maton dan  merupakan pemikiran dan analisa yang mendalam, bukan sekedar  mengemukakan pendapat yang boleh jadi malah didominasi oleh sikap emosi atau apologi semata.  Kementerian  agama, dalam hal ini menetri agama juga harus mempertimbangkan semua aspek, dan bukan hanya sekedar mengikuti suara terbanyak dari pimpinan PTKIN semata.

Kita tahu bahwa sema ini PTKIN  seolah menjadi perguran tinggi kelas dua, baik dalam pandangan masyarakat, maupun dalam kebijakan pembiayaan misalnya dan juga dalam pengelolaannya.  Bagi saya sesungguhnya tidak menjadi persoalan apakah memilih opsi pertama ataukah kedua, yang terpenting ialah bagaimana  mengelola perguruan tinggi tersebut dengan professional, dalam arti luas, yakni menyangkut keseriusan kementerian dalam menangani persoalan pendidikan tinggi serta memikirkan pembiayaannya dengan standard yang ada.

Artinya  kementerian harus menyusun grand design pendidikan tinggi Islam, sehingga semua PTKIN dapat mengacu  kepadanya dan berlomba untuk melaklukan pengelolaan sesuatu dengan tujuan yang sudah ditetapkan.  Sampai detik ini, meskipun PTKIN sudah berjalan cukup lama, tetapi belum mempunyai arah yang jelas dan tujuan yang tepat untuk dipedomani oleh seluruh PTKIN.  Selama ini seolah PTKIN dibiarkan sendiri sendiri untuk hidup tanpa ada  sebuah cita cita  agung yang harus dituju oleh semua PTKIN.

Akibatnya kita dapat merasakan betapa ada PTKIN yang  begitu maju  dalam berbagai aspeknya, da nada pula yang begitu tertinggal jauh. Itu disebabkan  oleh kenyataan bahwa  PTKIN akan maju kalau dikelola oleh orang yang mempunyai visi jauh kedepan, sedangkan  bagi mereka yang hanya sekdarnya saja dalam mengelola PTKIN, tentulah akan  tidak ada kemajuan. Bahkan kualitas SDM nya juga sangat berbeda.

Inilah menurut saya yang perlu dibenahi agar PTKIN dapat  setara dengan perguruan tinggi lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri.  Nah, persoalan  akan bergabung dengan kementerian dikti dan ristek ataupun tetap berada dalam kementerian yang lama menjadi tidak terlalu penting, setidaknya dilihat dari aspek ini.  Sementara itu jika lihat secara umum, memang bergabung menjadi satu dengan perguruan tinggi lainnya, akan terasa lebih bagus.  Dikti yang dahulunya berada di kemendikbud, juga sudah bergabung dengan kementerian baru, nah, kenapa  diktis tidak?

Kalau kemudian  kementerian agama dengan pendidikan agamanya  dianggap merupakan sebuah kekhususan di negeri ini, mengingat sejarah panjangnya, maka hal itu juga beralasan, tetapi  tidak boleh dikelola ala kadarnya sebagaimana yang sudah berjalan selama ini.  Harus ada kemauan keras untuk menjadikan PTKIN  dilingkungan kementerian agama menjadi lebih bagus dan  dapat bersaing dengan perguruan tinggi lainnya.  Menurut saya hal tersebut dapat dilakukan, asalkan ada kemauan dari penentu kebijakan dan serius dalam upaya yang dilakukan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.