URGENSI MENJAGA MULUT

Benar ada pernyataan bahwa mulutmu adalah harimaumu, karena dari mulut itulaah orang akan mendapatkan sesuatua yang membanggakan dan sebaliknya pula dari mulut itu pulalah orang akan mendapatkan sesuatu yang menghinakan. Apapun yang keluar dari mulut itu akan terus tercatat sebagai sebuah pernyataan yang tidak mungkin lagi dapat dicabur, meskipun sudah banyak orang memaafkan atau melupakannya, tetapi pasti  masih ada pihak yang akan terus mengenangnya. Karena itu para guru pada zaman dahulu selalu mengingatkan kepada para muridnya untuk selalu menjaga mulut agar tidak menyesal pada akhirnya.

Memang benara bahwa mulut itu sesuatu yang tidak bertulang, namun akibatnya akan mampu memecahkan besi yang sangat kuat sekalipun. Orang  jika disakiti dnegan benda  tajam, akan terluka dan mengeluarkan darah, namun untuk beberapa waktu lukanya akan sembuh, namun jika seseorang disakiti dengan lisan atau mulutnya, maka lukanya akan terus menganga hingga beberapa tahun dan sulit untuk disembuhkan. Artinya jika orang itu menyakiti orang lain dnegan menusukkan benda takam ketubuhnya, mungkin  orang tersebut akan merasakan sakit yang sangat, namun sakit akibat tusukan tersebut pasti dalam beberapa waktu juga akan sembuh, namun jika orang dilukai dnegna perkataan yang me nusuk tajam atau yang  menyiggung perasaan yang paling dalam, maka sakitnya tidak akan sembuh dalam waktu yang lama, bahkan mungkin tidak akan dapat diembuhkan.

Karena itu benar juga  nabi Muhammmad saw pernah menyarahkan kepada umatnya untuk menjaga  lisan atau mulut dengan pernyatannya “ bahwa keselamatan seorang manausia itu terletak pada lisan atau mulutnya”. Artinya jika seseorang mampu menjaga dan mengendalikan mulutnya, maka dia akana selamat namun jika dia tidak mampu mengendalikan dan menjaga mulutnya, maka kemungkinan besar dia akan mendapatkan masalah dengan ungkapannya. Banyak kejadian ada orang yang jebat dan memperoleh prestasi yang luar biasa, namuan karena kesombongan ucapannya sendiri, pada akhirnya dia harus kehilangan segalanya.

Baru baru ini kita menyaksikan betapa kepala BPIP telah mengeluarkan pernyataan yang menyinggung perasaan banyak umata beragama, meskipun dia dibela oleh  banyak orang karena posisinya tersebut, namun tidak sedikit yang  menggugat serta mengusulkan agar dipecat dari psosiinya sebagai kepala BPIP. Seharusnya  semakin orang itu menempati posisi yang lebih baik, harus mampu menjaga omongannya atau komentarnya sehingga tidak akan menimbulkan keribitan dan kontroversial di masyarakat yang pasti akan merugikan dirinya sendiri.

Kita juga tahu bahwa ada sebagian orang yang pintar, namun karena ucapannya yang menyinggung pihak tertentu, lalu diadukan sebagai tindakan yang tidak menyenangkan atau bahkan menghina, maka akibatnya justru akan kembali kepada  dirinya. Igat kasus mentana gubernur DKI Ahok yang kaarena ucapannya yang dianggap menghina umat, lalu  berakibat masuk penjara. Tentu masih banyak lagi tokoh yang sebelumnya  mendapatkan simpati yang besar dari masyarakat, namun kemudian malahan dibulli oleh mereka hanya disebabkan oleh pernyatannya sendiri yang tidak bijak dan tidak mengetahui keinginan maasyarakat, sehingga apa yang ditangkap oleh masyarakat seolah hanya sesuatu yang merugikan dan  mengecewakan.

Termasuk lagi ialah ucapan  orang tua kepada anaknya yang biasanya dianggap sebagai doa, karena itu  banyak nasehat bahwa orang tua yidak seyogyanya mengucapkan kata kata yang tidak baik kepada anak anaknya, karena itu dikhawatirkan nanti akan benar benar terjadi. Dalam kondisi apapun orang tua harus mengatakan sesuatu yang terbaik bagi anak anaknya sehingga kalau itu dianggap doa, maka  harapannya akan terkabul pada masanya. Bahkan nasehat yang bijak tidak hanya terhadap anaknya untuk berkata baik, melainkan kepada semua orang, karena kalau kita mendoakan kepada smeua orang itu tentu jauh lebih baik ketimbang  mengatakan sesuatu yang jelek untuk merka.

Bahkan ada sebagian orang yang hatinya jirih sehingga ketika mendapatkan penghunaan melalui lisan dari seseorang pasti akan membekas lama dan tidka mudah untuk dihilangkan, meskipun yang bersangkutan sudah berkali kali meminta maaf sekali pun. Terkadang malah kata kata yang normal dan biasa saja dapat dipahami lain jika hatinya sedang tidaka nyaman, untuk itu kita memang harus memilih kata dan kalimat yang terbaik untuk ungkapan kepada seseorang. Nasehat nabi Muhammad saw  tentang maslaah ini juga sangat jelas kepada kita umatnya, yakni “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah dia mengatakan sesuatu yang baik, atau kalau tidak mampu mengatakan yang baik, lebih baik diam saja”.

Dari nasehat tersebut mungkin kita dapat memahami  ketika ada pernyataan bahwa diam itu emas, yakni akan jauh lebih bagus berdiam dan tidak mengatakan sesuatu ketimbang menmgatakan tetapi dapat menyinggung perasaan pihak lain. Akana tetapi  tentu tidak selamanya diam itu emas, karena kalau  seharusnya seseorang menyatakan sesuatu yang sangat penting dan menentukan nasib orang lain, namun dia tidka mau mengatakannya, maka  diam itu berarti dosa karena akan merugikan kepntingan pihak lain. Masing masing dari kita tentu  sudah mengetahui mengenai mana kata kata yang akan menimbulkan masalah dan mana yang tidak.

Dalam kasus kepaa BPIP memang sebaiknya  dia itu mawas diri untuk tidak banyak berbicara dengan media, karena  keberadaannya pasti akan selalu diincar oleh pihak lain, termasuk seorang ketua  KPK, memangs ebaiknya tida banyak berbicara, melainkan bekerja saja untuk menjalankan  sapa yang diprogramkan dan targetkan sehingga ketika kinerjanya bagus, maka masyarakat sudah akan mampu menilainya meskipun tidak sering berbicara dnegan media. Sebab kalaupun selalu berbicara dnegan media namun kinerjanya  tidka baik, masyarakat juga pasyi akan menilainya sebagai tidka baik. Semoga smeua pihak dan kita semua  mampu menjaga lisan kita sehingga kita akan aman dan selamat, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.