ASHNAF YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT

Istilah ashnaf memang sudah dikenal di kalangan Islam sejak awal mula islam itu sendiri mewjibakan zakat kepada kaum muslim. Hal tersebut termaktub secara tegas dalam alquran yang berjumlah delapan, yakni fakir, miskin, para amil zakat, muallaf, budak, orang yang terlilit hutang, sabilillah dan Ibnu sabil. Namun pembicaraan mengenai siapa mereka rupanya  masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Mungkin defini fakir dan miskin tidak teralau rumit, karena pada dasarnya meskipun berbeda, namun mereka adalah orang orang lemah dari sisi ekonomi sehingga untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri juga susah.

Sementara itu untuk deg=finisi  amil zakat, meskipun sudah  dipahami oleh banyak orang, akan tetapi masih perlu dijelaskan, yakni bahwa tidak semua  panitia zakat itu berhak menerima zakat, karena hanya amil yang resmi dibentuk oleh pihak yang berwenang sajalah yang berhak menyandang nama sebagai amil zakat. Karena itu tidak smeua pihak berwenang membentuk panitia tersendiri dan kemudian menyebut dirinya sebagai amil zakat. Apalagi kalau amil tersebut sama sekali tidak bekerja, melainkan hanya diam saja, maka  tentu tidak layak untuk menerima zakat. Lalu muallaf, yang pengertiannya oleh para ulama zaman dahulu  dialamatkan kepada setiap orang yang baru saja masuk Islam. Namun sekali lagi itu merupakan pengertian yang sudah lumrah di masyarakat, sednagkan jika kita ingin  memperhatikan secara detail maka kita harus menjelaskannya sedemikian rupa sehingga akan menjadi masuk akal.

Artinya muallaf yang sebegaimana pengertian para ulama zaman dahulu tertsebut tentu harus dibedakan antara mereka yang masuk islam dan sangat kaya, meskipun mereka juga disebut sebagai muallaf, akan tetapi tentu sangat tidak layak untuk menerima zakat, bahkan mereka itu wajib berzakat atas hartanya yang snagat banyak. Bahkan saat ini karena kepentingannya muallaf ialah merka yang hatinya masih sangat lemah, sehingga kalau kemudian mereka diberi bagian dari zamat, maka mereka akan semakain  mantap di dalam Islam. Dengan dmeikian ada tujuan untuk dakwah  agar mereka tetap masuk di dalam Islam, dan atas pertimbangan tersbeut kemudian muncul ulama yang memasukkan non muslim sebagai muallaf jika sudah ada indikasi untuk masuk islam.

Sementara itu untuk budak, kiranya seluruh umat sudah sepakta bahwa budak sudah tidak ada lagi di muka bumi ini sehingga status budak yang ingin merdeka  yang kemudian diberikan dana zakat, saat ini  sudah tidak ada lagi dan keberadaan ashnaf ini tentu dnegan sendirinya akan hilang. Sementara  gharimin oleh para ulama dikatakan sebagai mereka yang mempunyai hutang. Akan tetapi kita harus lebih cermat dalam memaknainya, karena saat ini hampir tidak ada orang kaya yang tidak mempunyai hutang, dnegan tujuan untuk mengembangkan bisnis dan usahanya. Karena itu mereka yang berhutang dan  dimaksudkan untuk pengembangan usahanya, tentu juga tidak masuk ashnaf gharimin tersebut. Kita harus tegas bahwa yang dimaksud dnegan gharimin ialah mereka yang terlilit hutang sehingga kesulitan untuk mengembalikan utangnya.

Pada awal Isam islam  orang yang berutang itu disebabkan karena tidak mempunyai cukup harta  biasanya hanya untuk sekdar malan saja tidak mampu, sehingga mereka kemudian berhutang kepada pihak lain. Nah, jika mereka kemudian berusaha untuk mendapatkan uang  ungtuk memmbayar hutang tersebut, masih tetap saja tidak tercukupi, sehingga  mereka akan kesulitan untuk menyur hutang tersebut, nah, mereka itulah yang masuk dalam kategori gharimin dan berhak unyuk mendapatakna dana zakat. Sedangkan untuk sabilillah dahulu selalu disangkutkan dengan mereka yang berperang untuk menegakkan agama Alah dan tidka sempat mencari bafkah sehingga mereka itu berhak untuk mendapatkan dana zakat setidanya ungtuk memenuhi kebutuhan mereka dank keluarganya.

Namun  kalau hanya  itu pengertian sabiliillah maka akan terasa sanat terbatas dan sempit, padahal masih cukup banyak pihak yang kesulitan dalam bidang keuangan karena menjalankan  agama, semacam para guru ngaji yang secara tuklus mengajarkan ilmunya kepada anak anak, sperti mengajarkan alquran, dan juga ilmu ilmu syariah. Demikian juga merka yang mempek=lajari ilmu agama sedangkan mereka tidak sempat untuk berusaha mendapatkan  harta yang dapat digunakan  untuk bekal hidup, seperti para mahasiswa yang memang tidak mendapatkan suplay dana dari orang tua mereka dan pihak lain yang mempunyai peran seperti mereka. Karena mereka itu juga  dapat dimasukkan ke dalam golongan sabilillah dan berhak mendapatkan zakat.

Sementara itu untuk ibnu sabil pengertiannya ialah mereka yang kehabisan bekal di perjalanan sehingga mereka kesulitan untuk meneurskan perjalanan mereka menuju tujuaan yang sudah direncanalan sebelumnya. Untuk persoalan ini kita juga harus cermat dalam memberikan penilaian karena boleh jadi ada pihak tertentu yang sengaja membawa bekal yang snagatterbataa sehingga memang sudah dapat diperkirakan sebelumnya tidak akan sampai kepada tujuan, karena kesengajaan mereka itulah untuk mendapatkan zakat tengtu juga harus dilihat dalam kenyataan bahwa mereka itu sesungguhnya mampu ataukah tidak. Seharusnya yang masuk sebagai ashnaf Ibnu sabil ialah mereka yang secara normal mengadakan perjalanan, namun di tengah jalan mungkin  kehilangan, atau mungkin dirampas hartanya oleh penjahat atau karena ditipu dan lainnya sehingga mereka menjadi sulit bukan karean disengaja, melainkan karena ada persoalan baru yang menimpa.

Memag tidka mudah mengurus Zakat yaang meskipun asnafnya sudah dijelaskan oleh Allah swt, namun penerapannya masih membutuhkan ijtihad yang cermat, sehingga dana zakat akan benar benar tepat sasaran dan memberikan manfaat yang besar bagi umat. Memang kita tidka boleh berburuk sangka, namun untuk saat ini kita perlu waspda dengan segala macam perbuatan manusia yang terkadang berusaha menipu pihak lain termasuk merka yang mengelola dana umat. Semoga ke depan kita akan semakin memabaik dan umat islam akan semakin berdaya  dalam bidang apapun khususnya dalam bidang ekonomi, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.