KOK MASIH SUKA MENCACI

Perbuatan yang  tidak menyenangkan kepada pihak lain tentu akan dilarang, meskipun secara lahir tidak ada dalil yang mengatakan dmeikian, akan tetapi secara umum pula hal tersebu sudah masuk dalam larangan untuk menyakiti pihak lain. Perbuatan menyakti pihak lain ialah sebuah perlakuan yang secara langsung maupun tiak langsung membuat orang lain sakit, baik secara fisik maupun non fisik. Bahkan  sakit yanag secara fisik biasanya akan lebih cepat sembuh  sedangkan sakit yang sifatnya non fisik malahan akan lebih lamembuhnya. Pihak lain yang disakiti tersebut juga bermacam macam; ada sebagaiannya yang akaan mrasakan sakitnya tersbeut amat besar namun sebagainnya lagi tidak mengannggapnya sebagai sebuah sakit yang perlu dipikirkan.

Kalau kita mengaca kepada pribadi nabi Muhammad saw tentu kita akan menemukan sosok yang tidak mampu untuk disakiti, setidaknya merasakan sakit, karena beliau tidak akan mau merasakannya, karena  beliau snagat tulus dan ikhlak menerima apapun yang diperbuata orang lain terhadap diri beliau. Beliau karap kali disakiti, dilempari dnegan kotoran atau diperlakukan dengan tidak senonoh, namun beliau masih tetap berlaku biasa dan tetap menghargai pihak lain tersebut. Sama sekali tidak tersimpan dendam di dalam diri beliau, karena itu malah akan menambah beban dalam diri beliau. Namun kalau mengikhlaskannya pasti smeua sudah hilang dan beban pikirannya menjadi kosong dan tidak menanggung sesuatu yang berat.

Namun kalau kita menyimpan sakit hati dan dendam kepada pihak yang ebrbuat salah dan menyakityi kita, maka bebean p[ikiran akan bertambah karena harus emmikirkan bagaimana caranya membalasa  dendam pihak lain tersebut dan tentu akan banyak muncu; beberapa [ikiran jahat kita, dan itu menjadi beban tersendiri. Karena itu kita memang harus belajar untuk menerima apapun yang diperbuat pihak lain kepada kita, karena bagaimanapun  sebagai ma nusia dan hamba dari Allah swt tidak sepatutnya kita tidak mematuhi  perintah dan yitah Allah swt. Padahal kita tahu bahwa Allah selalu memerintahkan kepada kita untuk selalu berbuat yang terbaik unyuk pihak lain, meskipun kta sendiri merasakan sakitnya perlakuan pihak lain tersebut, dan sebaiknya memang perlakuan buruk pihak lain tersebut hartus tidka kita rasakan.

Ada sebuah keyakinan dan itu menjadi kenyataan bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan pada akhirnya akan kembali lagi kepada diri kita sendiri. Nah, karena itulah ketika kita membuat pihak mlain sakit, maka pada saatnya sakit tersbeut akan kembali lagi kepada diri kita. Demikian juga kalau kta mencaci pihak lain dnegan kata kata yang menyakitkan, maka pada saatnya  cacian etrsebut akan kembali kepada diri kita danitu tentunya akan terasa lebih sakit. Termasuk jika kita membuat pihak lain menderita karena perbuatan kita yang secara fisik tampak jelas, maka kita harus yakin bahwa perbuatan tersebut pada akhirnya akan menimpa juga kepada diri kita, meskipiun yang berbuat bukan pihak yang kita sakiti tersebut, namun justru pihak lainnya lagi.

Itulah orang mengatakan hukum karma. Bahkan kalaupun kemudian  perbuatan buruk tersebut tidak kembali kepada diri kita  berupa perbuatan yang serupan kita lakukan, tetapi yainlah bahwa  meungkin karmanya itu akan jauh lebih menyakitkan dalam bentuk lainnya. Itulah mengapa kita disuruh untuk selalu berbuat kebaikan kepada siapapun, termasuk kepada orang yang selalu menjahati kita. Karena pada dasarnya  orang dapat disebut sebagai baik itu jika mampu berbua baik kepada piha yang telah berbuat jahat kepada kita. Karena kitu kalau kita baru dapat ebrbuat baik kepada orang yang baik kepada kita itu sesungguhnya belum termasuk ketegori baik secara hakiki dan ini harus kita pikirkan  dalam dalam.

Kalau kita sudha mengetahui hal yang dmeikian, seharusnya kita kemudian akan mengubah diri kita menjadi orang baik. Jangan sampai kita membiasakan diri untuk mudah mencaci p[ihak lain meskipun orang lain tersbeut memang salah dan mungkin juga sengaja untuk menyalahi kita. Memaafkan itu jauh ;ebihterhormat dna bagus ketimbang marah, karena memaafkan itu merupakan kebiasaan para nabi dna ulama sedangkan marah itu kebiasaan mereka yang jahat dan penuh dnegan nafsu amarah di dalam dirinya. Mungkin kita akan  mendapatgkan perlakuan tidak senonoh kalau kita selalu memaafkan pihak lain yang kyurang ajar kepada kita, tetapi itu tidak terlalu menjadi malsalah karena toh pada akhirnya dia akan lelah sendiri dnegan perbuatan jahatnya.

Twrkadang kita menjadi heran dnegan pihak pihak gtertentu yang sukanya mencaci kepada pihak lain, terutama mereka yang dianggap berada di level bawahnya teriutama dalam bidang ekonomi. Mngolok olok dan mencaci adalah perbuatan rutinnya setiap kali bertemu dnegan pihak lain.Bahkam ghibah yang secara terus menerus dilakukannya tersbeut kemudian menjadi semacam lagu wajib baginya, sampai pada akhirnya Allah swt membalas dnegan membaikkan kondisi ekonominya menjadi sulit dan pihak yang sebelumnya kesulitan ekonomi menjdi longgar dan bahkan menjadi berkecukupan. Nah, dalam kondisi demikian  kemudian  pihak yang suka mencaci tersebut akhirnya akan menuai malu yang besar dan munghkin malah tidak betani bertemu dengan pihak lain.

Namun dasar memang sudah terbiasa dengan cacian tersebut, maka  dia masih memandang miring kepada piak yang selalu memafkannya tersbeut, dan disebutnya sebagai memelihara  setan atau lainnya yang intinya menyudutkan  pihak lain tersebut. Namun karena ketulusan pihak yaang sellau dijahatinya tersebut, pada saatnya  masyarakat juga akan mengetahui yang sesungguhnya, yakni  keirian  dia tentang seseorang, pada awalnya dia  memang sirik dnegan kondisi ekonomi  kawannya yang miskin, namun begitu kondisi berubah dia tetap sirik dengan keberhasilan kawannya tersebut. Kalau dasarbnya suka mencacui, maka dalam  kondisi apapun dia akan tetap sirik dan mencaci.itulaah penyakit akut yang seharusnya dihilangkan dari kehidupan kita sebagai seorang yang beriman.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.