MENGELOLA ZAKAT

Islam disamping mewajibkan shalat, puasa dan haji, juga mewajibkan ibadah zakat, yakni memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk diberikan kepada para  penerima zakat yang jumlahnya ada delapan sebagaimana ditunjukkan oleh alquran. Ibadah zakat tersebut bukana saja bermakna ibadah semata, melainkan juga dikandung maksud sebagaia saah satau poenyelesaian masalah  sosial. Artinya ibadah zakat tersebut dimaksudkan untuk memberikan solusi terhadap masalah sosial yang kerap kali muncul di tengah tengah kehidupan masyarakat, seperti kemiskinan, kekurangan dalam hal harta, kebodohan, keterbelakangan dan sejenisnya. Dengan zakat tersebut seharusnya dan idealnya maslaah kemiskinan akan dapat diatasi dnegan mudah karena jika zakat dikelola dnegan baik dan benar, tentu akan terkumpul banayak harta yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai solusi tersebut.

Masalah zakat memang masalah kita smeua, karena zakat itu sendiri memerlukan kesadaran yang total terhadap hak yang haus ditunaikan terhadap harta yang kiya miliki, yang sesungguhnya juga bukan hak milik kita secara murni, melainkan kita hanyalah ketitipan dari Tuhan. Karena itu sebagian diantara harta yang ada dalam diri kita haruslah dibagi dnegan mereka yanag berhak yang sudah ditetapkan oleh Allah swt, utamanya ialah para kaum miskin dna fakir. Secara umum memang ashnaf atau mereka yang berhak menerima zakat itu ada delapan, yakni para fakir, miskin, amil,  muallaf, budak yang ingin merdeka, mereka yang mempunyai hutang atau yangterlilit hutang, mereka yang menegakkan agama Allah dan mereka yang kehabisan bekal pada saata bepergian.

Memang sebagian diantara para ashnaf tersebut saat ini sudah tidak ditemukan lagi,khususnya para budak yang ingin merdeka, namun selian itu sesungguhnya dapat diperluas pengertiannya sehingga tidak sekedar  sebagaimana yang dipahami oleh ulama zaman dahulu. Artinya  semisal  pengertian sabilillah itu bukan hanya mereka yang sedang berkuang dalam arti perang menegakkan agama Allah, melainkan juga saat ini dapat dimasukkan ke dalamnya ialah semua orang yang berjuang untuk menegakkan atau mengembangkan agama Allah, sperti mereka yang mengkhususkan diri untuk mengajarkan agama Allah atau mengajar ngaji kepada hamba hamba Alah yang lain, sementara dia tidak mempunyai pekerjaan lain yang dapat diandalkan sebagaia pencahatriannya..

Demikian juga dapat dimasukkan  ke dalamnya ialah mereka yaang belajar ilmu agama dan kesulitan dalam mendapatkan bekal hidup, sperti mereka yang nyantri di pesantrean yaang tidak mempunyai kiriman dari orang tuanya. Para volunteer dalam mengajarkan kitab suci alquran kepada anak anak juga dapat dimasukkan ke dalam sabilillah. Dengan dmeikian pengertian sabilillah itu  jauh lebih luas  dana memberikan harapan kepada para pengajar agama Allah untuk mendapatkan  bagian dari zakat yang didapatkan dari para aghniya’.

Pada zaman dahulu pengertian  muallaf ialah mereka yang baru saja masuk islam sehingga perlu diberikan zakat agar hatinya menjadi mantap dalam Islam. Namun demikian sudah ada sebagian uklama yang mengembangkan dana memperluas jangkauan muallaf tersbeut untuk mereka yang non muslim dan diharapkan akan  dapat masuk ke dalam agama Islam. Ini memang terobosan baru dan munghkin juga masih debatebel, namun  pengluasan tersebut tentu harus diapresiasi, karena ada argumentasi yang diberikan yakni mereka yang terindikasi akan mau masuk islam setelah mereka diberikan bagian zakat tersebut. Jadei bukan smeua non muslim, apalagi yang harbi, pastilah semua ulama akan menolaknya.

Sementera  itu untuk pengertian gharim atau mereka yang berhutang, bukan lagi rahasia bahwa saat ini hampuir semua orang mempunyai hutang, karena itu pengertian gharim ini harus dipersempit, yakni mereka yang mempunyai hutang dan keslitan untuk membayarnya, karena persoalan ekonomi yang sangat sulit. Sementara itu bagii mereka yang mempunyai hutang hanya sebagai gaya hidup untuk membeli sesuatu yang tidak menjadi pokok dalam kehidupannya, tantu tidak boleh diberikan  zakat. Bahkan mereka yang mempunyaihutang sekalipun sesungguhnya juga masih berkewajiban zakat bukan sebagai penerima, karena kebanyakan hutang yang dimilikinya itu hanya sebagai tambahan atas  apa yang sesungguhnya  sudah banyak dimiliki, bukana hutang karena kekurangan.

Pengelolaan zakat itu sendri memerlukan menegemen yang baik sehingga akan mampu mengelolanya dngan baik dan bermanfaat bagi masyarakat banyak, khususnya terkait dnegan para ashnaf. Sementara ini masih ada pengertian bahwa  pemberiana zakat kepada ashnaf itu menjadi hak prerogatif muzakki sehingga terseraah kepada muzakki kepada siapa zakatnya akan diberikan, dan biasanya juga  hanya untuk pemberian yang sifatnya konsumtif sehingga tidak ada perubahan yang didapatkan. Artinya kalau zakat hanya diberikan kepada para ashnaf dnegan mengedepankan kepada penyelesaian maslah yang  haabis pakai seperti mengatasi soal makan, maka zakat yang seberapa banyaknya pun juga akan tetap tidak memberikan manfaat yang besar bagi pemberdayaan umat.

Lembaga zakat sejharusnya memikirkan bagaimana masyarakat miskin yang menjadi sasran zakat pada saatnya nanti akan berubah menjadi berdaya dan mampu menjadi muzakki atau mereka ayang berzakat. Tentu harus ada pengelolaan dana zakat yang terencana dnegan baik, semisal dana zakat tersbeut bukan dihabiskan untuk masalah makanan saja, melainkan juga bagaimana dan zakat etrsebut dapat dimanfaatkan untuk mengentaskan mereka yang miskin agar mereka  menjadi berdaya dan mampu berusaha serta  menghasilkan harta yang cukup dan bahkana berlebih sehingga mereka kahiranya juga akan berubah menjadi penzakat bukan lagi penerima zakat.

Harus ada keberanian dari para pengelola zakat untuk menyisihkan sebagian dana zakat tersbeut untuk memberikan pelatihan kepada sebagian orang orang miskin dalam hal ketrampilan berusaha dalam bidanag yang tentu diminati oleh mereka. Lalu setelah mereka terampil, diberikanlah modal usaha  sambil terus didampingi, sehingga mereka akan tetap bertanggung jawab dnegan modal  dari zakat yang diberikannya. Rencana tersebut jika dijalankan dnegan konsisten dan penuh tanggung jawab, kta yakin bahwa  sebagiannya pasti ada yang berhasil dan terus dievaluasi, untuk penyempurnaan sistem yang diterapkannya. Pada saatnya  program tersbeut akan berhasil dana sukses mengantarkana para miskin emnjadi berdaya dan menjadi penzakat sebagaimana yang kita inginkan, smeoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.