MENCIPTAKAN KAMPUS YANG SMART

Jika kita menanyakan kepada seluruh penghuni kampus, di manapun,  mengenai kondisi yang bagaimana yang diinginkan, dapat dipastikan semua akan menjawab bahwa  yang diinginkan ialah kampus yang bagus, nyaman, bersih, asri dan fasilitasnya komplit. Namun kalau kemudian  dilihat dari perilaku masing masing penghuni kampus, ternyata banyak kejanggalan yang dijumpai, mulai dengan perilaku  kebersihan, membuanmg sampah ytidak pada tempatnya, tidak memelihara keindahan dan lainnya. Lalu apa makna dari jawaban ingin kampus yang asri, indah bersih dan lengkap fasilitasnya? Tentu akan sulit menjawabnya secara teoritis, karena memang tidak ada relevansinya dnegan kenyataan. Namun jika kita  ingin mendapatkan jwaban yang sesungguhnya, bolehlah kita menyatakan bahwa  kebanyakan penghuni kampus memang tidak konsisten antara pernyataan dan perilakuknya.

Bayangkan saja kalau ada sekumpulan  orang di dalam kampus, apakah itu hanya sekedar ngobrol, ataukah diskusi atau belajar bersama, lalu setelah mereka bubar biasanya akan banyak sampajh di bekas mereka berkumpul. Apakah itu tissu, kertas, ataukah itu pungung rokok dan lainnya. Pertanyaannya ialah kenapa mereka berbuat dmeikian?  Mungkin jawaban yang paling mudah ialah karena mereka sesungguhnya belum menghayati tentang perlu dan pentingnya kebersihan. Lebih jauh kalau kemudian kita lacak mengapanya, maka  akan didapatkan jawaban bahwa memang kebanyakan penghuni kampus itu belum menyadari tentang apa yang mereka ainginkan sehingga kalau ingin kampus bersih, asri itu memerlukan tangan kita sendirir untuk mewujudkannya, bukan hanya mengandalkan para pekerja kebersihan dan sejenisnya.

Kita ini memang sedang krisi keteladanan, dalam segala hal. Banyak mereka yang profesinya mengajak berbuat baik kepada umat, semacam mengajak untuk raji  bersedekah dan bahkan juga memberikan  pernyataan dan meyakinkan umat bahwa dengan  sedekah tersbeut orang tidak akan menjadi miskin, malahan  justru akan semakin meningkat hartanya, namun  kita menjadi sedih karaena orang yang mengajak sendiri yang meyakinkan umat, ternyata juga tidak yakin atas dirinya sendiri. Buktinya  orang tersebut tidak suka untuk bersedekah. Sebab kalau dia sangat yakin bahwa dengan sedekah tersbeut harta akan semakin bertambah, maka dia pasti akan menjadi gila untuk bersedewkah, tetapi nyatanya tidak demikian. Demikian juga para pejabat yang selalu mengajak berhemat dan mengencangkan ikat pinggang, namun dalam kenyataannya untuk merayakan hari ulang tahunnya saja harus dilakukan di hotel mewah dan menghabiskan bermilyard uang.

Kita tentu berharap dan mungkin boleh dibilang iri kepada kondisi Nabi Muhammad saw yang tidak pernah di rumah beliau ada makanan yang  menginap. Artinya setiap kali ada makanan dan sudah sore bahkan menjelang malam, maka kemudian beliau menyampaikan dan memberikannya kepada  para sahabat yang membutuhkannya. Beliau selalu memberikan apapun yang ada di tangan beliau jika ada orang memintanya. Bahkan saat beliau mau makan dan kemudian tiba tiba muncul orang miskin yanag meminta bantuan makanan, maka makanan yang sudah hampir masuk ke dalam mulut beliau pun  kemudian diberikan kepada orang yang meminta tersebut, dan beliau rela  menahan lapar  di perutnya. Sungguh sebuah keteladanan yang tiada tara.

Saat ini  sesungguhnya kita tidak memerlukan  suara lantang untuk melakukan kebersihan kampus atau untuk  berbuat di kampus, melainkan yang dibutuhkan saat ini ialah bagaimana kita mempraktikkan  dalam perilaku kita agar selalu peduli terhadap kebersihan kam[us atau kenyamanan kampus. Keteladanan itulah yang akan membuat pihak lain  sedikit demi sedikit mengikuti kita. Dalam bahasa dakwah  hal tersebut biasa disebut dnegan hikmah. Allah swt memang menyatakan bahwa  kita diminta untuk mengajak kepada pihak lain untuk berada di jalan Allah dengan cara hikmah, lalu mauidhah hasanah dan  berdialog dengan baik. Namun kebanyakan diantara kita tidak mampu menerjemahkan hikmah itu apa dan biasnaya hanya diterjemahkan  dengan kata bijaksana. Tetapi juga tidak tegas apa itu bijaksana.

Karena itulah  kita harus menerjemahkannya dalam bahasa ringan dan mudah untuk dicerna dan  laksanakan, yakni hikmah tersebut sesungguhnya identik dnegan keteladanan.  Nabi  seringkali disakiti, dihina  dan diperlakukan dengan sangat tidak nyaman, namun Nabi tetap saja menganggap semua itu adalah karena ketidak tahuan merka, sehingga beliau tetap berlaku baik dan mendoakan kepada mereka. Akhirnya kita juga mengetahui bahwa dengan cara seperti itu, yakni tetap berbuat baik kepada smeua orang yang berbuat jahat kepada beliau, pada akhirnya mereka menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh nabi adalah sebuah kebaikan yang perlu diikuti. Pada akhirnya diantara mereka kwemudian menyadari dan  menyatakan masuk Islam dengan mengikuti cara Nabi yang dmeikian baik tersebut.

Coba kalau sedaandainya Nabi berbuat kasar dan membalas perbuatan jahat mereka dnegan perbuatan yang tidak menyenangkan, maka  tidak mungkin mereka kemudian mau mengikuti beliau. Masih banyak juga keteladanan yang dipraktekkan oleh para ulama salaf yang baik yang kemudian para masyarakat menyadari dana akhirnya mengikuti dakwah mereka dnegan senanag hati. Katena iytu sekalai lagi  kita semua khususnya para pimpinan di perguruan tinggi memang harus mulai mempraktekkan  keteladanan tersebut agar seluruh penghuni kampus  menyadari pentingnya kebersihan dan menjaga kampus agar tetap asri, nyaman dan  enak dihuni. Jika  kita smeua sudah  berkomitmen demikian kita hanya tinggal me nunggu waktu saja bahwa kampus kita  akan menjadi bersih , nyaman dan memang layak untuk dihuni.

Namun kalau kita masih ingin berteriak teriak keras  dan bahkan mungkin menghandir kepada  mereka yang tidak menjaga kebersihan lingkungan kampus, maka  jsutru kita akan capek sendiri karena   perilaku  penghuni kampus tidak akan menyadari tentang pengtingnya kebersihan etrsebut dan bahkan mungkin malah sebaliknya akan  mengotorinya. Semoga kita smeua mau menjadikan diri sebagai teladan bagi semua orang dalam hal kebaikan , khususnya dalam hal kebersihan kampus dana kenyamanan serta keasriannya, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.