MENIKAH BEDA AGAMA, BAGAIMANA?

Pernikahan itu merupakan sebuah  akad yang terhormat dan sangat kuat sehingga diharapkan nantinya tidak akan mudah putus karena atyujuannya ialah untuk membentuk  keluarga dan rumah tanggal yang kekal, dalam art bahagia, sejahtera antara seorang laki laki dan perempuan berdasarkan ketuhana yang maha esa. Sungguh mulia tujuan pernikahan etrsebut, sehingga nikah itu harus dianggap sakral dan tidak sekedar main main. Karena itu pernikahan yang hanya sementara seperti nikah kontrak atau mut’ah, maka harus dilarang karena tidak sesuai dnegan tujuan penikahan itu sendiri. Allah swt  dengan tegas juga telah menyatakan bahwa  tujuan penikahan itu ialah agar tercipta kehidupan yang tenang dan timbul kasih sayang diantara keduanya.

Untuk menuju kepada tujuan sebagaimana yang dikehendaki tersebut tentu antara suami dan istri harus  berada dalam iman yang sama, karena kalau  dalam perbedaan iman, sangat mungkin akan terjadi tarik mearik kepentingan masing masing sehingga tujuan sebgaimana tersebut tidak  akan atau sulit tergapai. Namun dalam kenyataan khususnya bangsa Indonesia  saat ini hidup berdampingan dnegan banyak penganut agama lainnya, sehingga pada akhirnya  snagat mungkin ada  ketertarikan antara  mereka  dan menghendaki adanya sebuah pernikahan secara resmi.  Karena itu kemudian muncul apa landasan hukum dari pernikahan  beda agama tersebut?

Sebagaimana kita tahu bahwa undang undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan sama sekali tidka mengatur tentang hal tersebut, karena meskipun ada perkawinan campuran di dalam UU tersebut, namun yang maksudnya ialah kawin  antara orang yang berbeda kewarga negaraan, bukan besa agama. Banyak orang yang kemudian menafsirkan bawa para pembuat undang undang rupanya lupa untuk mengatur persoalan tersebut, padahal masyarakat Indonesia itu snagat majmuk. Namun bagi saya itu bukanlah sebuah kelupaan, melainkan memang sengaja tidak diatura karena banyak hal yang terkait dnegannnya.

Memamg kalau kita nagji tafsir, ada banyak ulama yang memperbolehkan pernikahan beda agama khususnya antara muslim dan ahli kitab, dan kebanykan merka mensyaratkan  laki lakinya harus muslim dan perempuannya boleh ahli kitab. Itu karena mereka mengaitkan dnegan dakwah yang biasanya laki laki itu lebih dominan dan menentukan ketimbang perempuan, sehingga kalau perempuannya muslimah maka sama sekali tidak diperbolehkan karena khawatir justru muslimahnya akan mengikuti suaminya yang ahli kitab. Namun ka,lau kita  lihat saat ini laki laki itu tidak mesti lebih dominan ketimbang perempuan,  terkadang malah aada yang sebaliknya, sehingga membatasi hal demikian tentu sudha tidak relevan lagi.

Secara lebih luas lagi jika kita kaitakan dngan gtujuan pernikahan, maka nikah beda agama itu akan sangat sulit mencapai tujuan, sehingga memenag tidak diatur dalam udang undang, agar masyarakat mengetahuinya bahwa hal tersebut tidak diatur sehinga tidak dijalankan. Sesungguhnya di dalam Islam sendiri banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum menjalankan pernikahan bedaa agama etrsebut, semacam menganai pendidikan dna kewajiban orang tua untuk mendidik anak anaknya dan memperkenalkannya kepada Allah swt. Kita akan sulit membayangkan jika itu terjadi dan pasti akan ada batin yang tertekan diantara keduanya.

Belum lagi kalau dikaitkan dnegan persalan warisan karena dalam Islam itu tidak diperbolehkan saling mewaris mereka yang berbeeds agama. Artinya orang Islam tidak boleh mewarisi orang kafir dan begitu pula sebaliknya. Lalu bagaumana  kalau terjadi orang tua yang berbeda agama tersebut meninggal dunia, apakah anaknya yang berbeda agama dnegn orang tua yang meninggal dunia tersebut tidak boleh mewarisi? Hal tersebut pasti akan menimbulkan kesulitan dan  persoalan yang lebih rumit lagi. Sesungguhnya kalau kita lihat kenapa  pernkakahan berbeda agama tersebut tidak diatur dan tidak boleh, bukan semata karena persoalan sebagaimana  dipikirkan oleh para ulama terdahulu yang membolehkannya, melainkan semata karena tujuan pernikahan yang pasyi akan sulit untuk diwujudkan.

Hanya saja kemudian kita sangat menyayangkan kepada pihak pihak tertenatu yang kemudian meloloskan perniakahan  lain agama tersebut dengan mencatatkannya di kantor catatan sipil, sedangkan pelaksanaannya dilakukan di salah satu tempat yang diyakini sebagai memperbolehkan.  Kita juga menyayangkan sebagian ulama kita yang berpedoman kjepada pendapat ulama kuno yang membolehkan tanpa melihat  ilatnya terlebih dahulu sehingga mereka mengesahkan jika nikahnya dijalankan ala syariat Islam meskipun kemudian hanya dicatatkan di kantor catatan sipil belaka.

Ini sekaligus juga akan membendung keinginan sebagian masyarakat indonesia yang sudah membuka kran untuk mengusulkan pernikahan  sejenis yang itu pastinya  akan dilarang  oleh smeua pemeluk agama. Pernikaahn sejenis itu  dengan dalih HAM atau apapun tetaplah tidak dapat diterima karena itu tidak sesuai dnegan fitrah manusia yang memang diciptakan terdiri atas laki laki dna perempuan sehingga mereka nantinya dapat berkembang biak melalui jalur yang halal, yakni pernikahan. Kalu pernikahan sejenis tentu sama sekali tidak akan  ada tujuan emngembanh biakkan  keturunan melainkan hanya didasarkan atas kepentingan nafsu semata.

Sebagai umat beragama dan  beretika tentu kita harus menolak perkawinan sejenis tersebut, bahkan juga perkawinan beda agama, karena asekali lagi kita harus kembali kepada tujuan pernikahan itu sendiri, yakni ingin menciptakan sebuah keluarga bahagia dan ejahtera, kekal antara seorang laki laki dna perempuan berdasarkan ketuhan yang maha esa. Dengan kita kembalikan semua prkawinan kepada y=tujuan yang mulai tersbeut, kita pasi akan mampu menolak segala macam pernikahan yang tidak sejalan dnegan tujuan tersebut. Semoga kita  dapat mempertahankan tradisi yang baik dan  beretika tersebut untuk generasi kita ke depan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.