HARAPAN RASIONAL UNTUK ILMU FALAK

Barangkali meskipun hampir setiap negara yang banyak penduduk muslimnya mempunyai pusat kajian ilmu falak, namun kajian ilmu falak di UIN Waalisongo Semnarang menjadi yang banyak diharapkan akan mengembangkannya sedemikian rupa, karena memang secara riil ilmu falak di UIN Walisongo telah diproklamirkan sebagai pusata kajian ilmu falak di Asia tenggara bahkan di dunia. Apalagi saat ini UIN Walisongo sudha mempunyai loboratoriu falak yang berupa  planetarium dan observatorium di dalam kampus 3. Dengan fasilitas tersebut diharapkan sleuruh mahasiswa yang mengambil pilihan ilmu falak akan mampu mengembangkana diri melalui berbagai penelitian di laboratorium tersebut. Tidak hanya para mahasiswa namun para dosen juga dapat dan harus mengembangkannya.

Sebagaimana dahaulu pernah saya sampaikan bahwa ilmu falak itu sesungguhnya hanya bagiana kecil dari ilmu astronomi, naamun kaarena para ulama yang mengembangkan ilmu falak ini hanya berkepentingan untuk mengambil bagian yang terkait dnegan peribadatan umat muslim, maka hanya beberapa bidang saja yang kemudian dikembangkan dan itu kemudian dianggap oleh para ulama berikutnya bahw kajaian ilmu falak ya hanya terkait dnegan masalah masalah etrsebut.  Bidnag kajian ilmu falak biasanya hanya terbatas kepada masalah menentukan waktu waktu shalat, mengetahui perpindahan bulan, menentukan arah kiblat, menginformasikan terjadinya gerhana, baik matahari maupun bulan, dan belum menyentuh masalah lainnya seputra astronomi.

Ke depan kita berharap bahwa ilmu falak ini akan dapat deikembangkan  dan dapat menyelidiki dan menentukan persoalan angin, mengenai arahnya, kecepatan lajunya dan lainnya. Demikian juga dikembangkan menjadi ilmu yang mempelajari juga  tentang cuaca, perkiraan  hujan dan lainnya. Juga mengenai  keilmuan yang terkait dnegan  planet planet di dunia ini. Dengan pengembangan tersbeut, ilmu ini akan semakin memberikan manfaat yang besar bagi umat manusia bukan saja dalam bidang yang terkaiat dnegan persoalan pelaksanaan ibadah, namaun juga persoalan lainnya. Sebagai contohnya jika ilmu ini mempelajari maslaah  angin megenai kecepatannya, kekencangan lajunya dan didaerah mana, maka akan dapat digunakan sebagai pertimbangan mendesain kapal pesiar misalnya dana lainnya.

Itu memang hanya sebiuah harapan, namuan bukan sekedar harapan kosong, karena dengan fasilitas yang sudha diupayakan untuk melengkapi kejian ilmu falak ini, yakni astronomi maka  sudah barang tentu harus ada perbedaan antara kajian ilmu ini sebelum ada fasilitas tersebut dnegan setelah ada fasilitas. Selanjutnya keberadaan paraa dosen yang mendalami bidnag ini juga perlu ditingkatkan pengetahuan dna pengalamannya, khususnya dalam bidang penelitian. Artinya para dosen yang belum melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3, harus segera melanjutkannya di bidang pemngembangannya, semacam mengambil bidang astronomi. Ini penting untuk mengkombinasikan anatar ilmu falak yang hanya terbatas tersebut dnegan ilmu astronomi yang snagat luas.

Mereka yang mengambil bidang stronomi pun juga  diharapkan akan mengambil kajian bidang khusus yang berbeda karena ilmu astronomi juga bagiannya sangat banyak, sesuai dnegan spesialisasi yang diambil. Sudah barang tentu kita tidak ingin  bahwa ilmu falak ini hanya mengurusi persoalan  waktu waktu shalat, penentuan arah kiblat dan juga penentuan awal atau akhir bulan qamariyah. Dengan pengembangan ilmu ini, nantinya diharapkan pula bahwa  penentuan awal dan akhir bulan qamaroiyyah tidak selalu terjadi perbedana sampai saat ini, karena perbedaan kriteria yang dipegang oleh masing masing pihak. Dengan melakukan kajian kaijan dan penelitian yang cermat dalam bidang ini, kita sangat yakin bahwa  akan dapat disatukan  dalam hal menentukan awal dan akhir bulan qamariyyah.

Kita tahu bahwa menurut alquran yang memang  snagat umum, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya perpindahan bulan itu dapat diketahui melalui cara yang tepat, karena bahasa yang digunakan oleh alquran ialah siapapun yang hadir dalam bulan itu, itu bermakna bahwa ada cara untuk menentukkn=an  bagaimana mengetahui masuknya bulan tersebut. Nah, saat ini masing masing orang menentkan caranya sendiri dalam menentukan kriteria berpindahnya bulan tersebut. Sebagiannya ada yang mengambil batasan bahwa bulan sabit sudha berada di atas  ufuk taanpa ukuran, yang terpenting bulan tersbeut sudah berada di atas ufuk, sedangkan lainnya tidak mencukupkan diri dnegan itu, melainkan harus  dinyatakan bahwa bulan sabut tersbeut harus dapat dilihat dengan mata telanjang, sehingga kriterianya adalah  dirukyah.

Sedangkan  madzhab kementerian agama yang diberikan kewenangan untuk mengumumkana  hal tersebut  mengambil cara yang dianggaap beradd i tengah tengah, yakni  dnegan cara  imkanur rukyah atau kemungkinan bulan dapat dirukyah meskipun dalam kondisi mendung, sehingga secara nyata tidak dapat dilihat, yakni dnegan  krtiteria bulan sabit sudha berada di atas ufuk  sekitar minimal 3 derajat. Padaha menurut ilmu astronomi dngan ketinggian bulan yang hanya 3 derajat etrsebut sesungguhnya belum dapat dilihat dnegan mata kepala,sehingga ini juga hanya ijtihad saja. Namun anehnya dalam kenyataannya kementerian agama ini masih juga menggunakan rukyah sehingga kalau belum ada laporan rukyah maka tidak akan diumumkan perpu=indahan bulan.

Rasionalnya kalau sudah ditetapkan imkanurrukyah, perpindahannya sudah dapat diketahui sebelumnya, bahkan jauh sebelum hari H nya karena sudah dapat diketahui dnegan hitungan yang akurat. Anehnya lagi setiap bulan sabut sudah berada di atas ufuk sekitar 3 derajat, maka rukyah yang dilakukan oleh perwakilan kementerian agara dari seluruh indonesia pasti ada yang berhasil menyaksikannya. Ini juga sekaligus memberikan kesan atau  “tuduhan” bahwa ada rekayasa  dalam hal pelaksanaan rukyah tersebut. Itulah sesungguhnya yang ingin kita tegaskan bahwa dalam hal urusan yang menyangkut umat secara umum harus ditetapkan dnegan cara yang  tidak meragukan lagi. Itu dapat dilakukan jika nantinya sudah banyak dilakukan penelitian yang  akurat  dnegan menggunakan fasilitas yang lebih lengkap dan canggih.

Semoga ke depan kita akan mampu menyaksikan kondisi umat di negera kita semakin  bersatu dnegan ilmu yang meyakinkana, bukan dengan menentukan kriteria masing masing pihak yang smeuanya juga dari hasil ijtihad dan perkiraan yang  mungkin ada kebenarannya dan juga mungkin ada kesalahannya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.