MENJADI ABDI NEGARA YANG BAIK

Banyak orang kepingin menjadi  pegawai negeri, karena dianggap sebagai sebuah status sosial yanag membanggakan, meskipun ada sebagian orang yang sama sekali tidaka menginginkan sebagai pegawai negeri, karena sangat terikat dan tidak bebas. Mengapa orang menyukai  sebagai pegawai negeri, biasnya disebabkan gajinya yang tetap, meskipun saat ini  seluruh pegawai diukur kinerjanya, namun  bukti memberikan  kesaksian bahwa meskipun kinerjanya kurang baik, namun gajinya masih tetap, sedangan yang dkan dinilai dnegan kinerjanya ialah  tunjangannya saja. Dus dengan dmeikian pegawai negeri itu masih menjdi idaman sebagian masyarakat indonesia. Karena itu tidak heran jika dibuka kesempatan untuk menjadi pegawai negeri,yang ngantri untuk mengikutinya  sangat lar biasa banyak dan tidak eimbanga antara peminat dan  posisi yang tersedia.

Namun setelah menjadi pegawaai negeri  ternyata banyak diantara mereka yang kemudian tidak menjalninya dnegn baik sebagaimmana niat awal untuk menjadi pegawai negeri. Memang kita akui bahwa PNS saat ini sudah berubah dari kemalasan sebagaimana ditunjukkan oleh kebanyakan PNS zaman dahulu, namun tidak dapat dipungkiri, warisan zaman dulu itu sedikit berpengaruh kepada sebafgian PNS kita sehingga  kinerjanya juga tidak dapat dipertanggung jawabkan. Pada saat wawal diberlakukan aturan baru mengenai kedisiplinan biasnya akan tertib untuk beberapa minggu, lalau kembalai kepada kebiasaan lama yang nampaknya sudah mengakar dan sulit untuk diberantas.

Kata orang itu smeua merupakan persoalan mental, sebab kalau mentalnya sudah tidak bagus, maka apapun upaya yang dilakukan akan tetap saja kembali kepada watak semulaa meskipun awalnya mungkin akan sedikit baik. Namun sesungguhnya ada cara yang lebih jitu untuk mengubah watak tersebut agar menjadi sebagaimana yang kitakehendaki, yakni diberlakukannya sebuah sistem yang memaksa mereka untuk mengikuti sistem tersebut. Nah, untuk dapat memaksa  semua orang mengikuti apa yang diinginkan tengtu harus diterapkan pula  sanksi tegas yang dijalankan secara konsisten tanpa memandang siapapun yang melakukan pelanggaran. Dengan kokoh para prinsip untuk memberikan sanksi kepada siapapun pelanggar tersbeut, pada saatnya pasti akan menjadi baik.

Sudah banyak negara yanag meneraapkan sistem tersebut dan hasilnya snagat menggembirakan. Namun  kalau hanya sistem dibuat tetapi pelaksnaan sanksinya tidak diterapkan dnegan konsisten dan  terlihat semangatnya   hanya sebentar saja di awal, maka janganb lagi diharapkan akan ada perubahan yang kita inginkan. Kita sudha banyak emnghasilkan peraturan yang sesungguhnya sangat bagus jika diterapkan, namun disebabkan tidak konsisten dalam memberikan sanksi, maka masyarakat akhirnya menganggap enteng sistem tersebut dan pada akhirnya juga tidak berjalan sebagaimana diinginkan.

Terkadang kita menjadi heran mengapa banyak orang di negra tersebut snagat tertib, termasuk dalam hal kebersihan dan  berkendara serta menghargai mereka yang berjalan kaki dan lainnya. Ternyata kita tidak mengetahui bahwa sebelumnya mereka juga seperti  di tempat kita, namun karena diterpkan sistem yang ketat sehingga mereka akhirnya terpaksa mengikuti aturan main yang ada, namun lama kelamaan mereka menjadi terbiasa untuk tertib, bahkan kita menyaksikan betapa mereka tidka mau mengambil barang yanag bukan menjadi haknya, dan diiarkan saja atau diambil untuk diberikan kepada yang berwajib agar disampaikan kepada yang berhak.

Praktik tersebut sesungguhnya sangat islami dan sesuai dnegan keinginan  agama kita, namun justru kita yang biasanya mengamalkan ajaran agama dalam bidang peribadatan saja, kuranag mempehatikan dalam bidang lainnya, khususnya bermuamalah dan bermasyarakat.  Sesungguhnya kita mampu menjadi umat yang terbaik jika smeua pihak pesduli dan mau mempraktikkan  ajaran agama kita dnegan benar dan kesadaran yang panuh. Agama kita sudah begitu gencarnay mengajarkan kepada pemelukanya ungtuk menjaga kebersihan, bahkan disampaikan pula bahwa kebersihah n itu merupakan bagian dari iman, namun belum juga dapat dipraktekkan di lapangan sehingga kitaterkadang menjadi gemes sendiri dengan kelakuan masyarakat muslim.

Disiplin bagi para pegawai negeri juga sudah diundanghkan  dan sesungguhnya jika ditaati dan dijalankan pasti akana membuat PNS menjadi lebih baik, namun sekali lagi rupanya disiplin tersebut hanya merupakan sebuaah aturan yang mati, karena memang tidak mampu untuk menindak sendiri bagi para pelanggarnya. Seharusnya para pimpinan memikirkan hal tersebut dana  berusaha  dengan kuat untuk menjalankan disiplin tersebut dnegan benar dan tegas. Artinya seluruh apa yang diatur dalam disiplin tersbeut harus dijalankan oleh seluruh PNS dan jika ada pelanggaran maka harus ditindak dnegan tegas tanpa memandang siapapun yang melakukan pelanggaran.

Jaangankan hanya mengatur PNS saja yang jumlahnya hanya sedikit dibanding dnegan rakyat yang ada, untuk mengatur seluruh masyarakat saja  dapat dilakukan asalkan ada ketegasan dan konsistensi dari para penegak hukum dalam memberikan sanksi kepada seluruh pelanggar aturan. Lihatlah misalnya negara tetangga kita yanag menrapkan sistem kebersihan dan ketertiban dengan memberikan ancaman yang berat dan dijalankan dnegan konsisten dan tegas, maka akhirnya semua rakyat, bahan juga  masyarakat di luar negara tersebut yang kebetulan berada di negara tersebut pasti juga akan mengikuti dna mentaati aturanntersebut. Mungkin pertama kali karena takit sanksi dan  denda yang  akan  dan harus dibayar jika melanggar aturaan tersebut, namun lama kelamaan  pasti akan menjadi budaya yang baik.

Lebih jauh lagi ketika  disiplin sudah dijalankan, maka  sistem yang dibuat tidak harus mengandalkan  kepada sumber daya manusia, melainkan sudah para teknologi, semisal untuk mengukur kwcepatan mobil di jalan raya, dan snksinya pun tidak harus seketika, melainkan cukuplah dilakukan tagihan di akhir atau wal bulan karena catatan lengkap dan siapapun tidak dapat mengelak atau memungkirinya. Kita kemudiana hanya dapat merenungkan kapan  di sekeliling kita akan dapat diterapkan sistem yang memungkinkan smeua orang akan mengikuti dna mentaatinya?. Wallahu a’lam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.