REALISASI HIDUP MODERAT

Sudah cukup banyak didengungkan mengenai moderasi beragama, khususnya di lingkungan perguruan yinggi agama, namun  dalam realisasinya ternyata masih jauh dari harapan. Artinya masih banyak praktek hidup yang tidak moderat sebagaimana dikam[anyekan besar besaran dan bahkan di beberapa kampus  Ialam sudah dibentuk rumah modrasi beragama. Kota tentu bertanya kenapa dapat dmeikian? Mungkin salah satu jawabannya ialah karena sebagian diantara warga kampsu belum memahami apa itu moderat khususnya dalam beragama. Mungkin sudah snagat hafal di luar kepala, namun prakteknya di lapangan ternyata masih belum seluruhnya mendalaminya. Sebagimana dijelaskan dalam berbagai kesempatan bahwa moderat itu tidak cenderung ke kanan ataupun ke kiri, melainkan di tangah tangah.

Biasanya mereka yang mengamalkan hidup moderat adalah sngat toleran terhadap perbedaan yang ada, termasuk prbedaan dalam kehidupan beragama, dan keyakinan. Kita dapat hidup berdampingan dnegan berbagai [enganut kepercayaan yang ada. Hidup rukun tersebut dalam kaitannya dnegan  kebersamaan dan kehidupan  kemasyarakatan yang sama sekalitidak terkait dnegan keyakinan tertentu. Sebab kalau sudah urusan keyakinan, masing  masing kita yang berbeda agama tentu akan emmunyai keyakinan berbeda pula, sehingga memang kita harus bersikap toleran terhadap perbedaan yang ada. Bahkan kta juga harus toleran terhadap kelompok tertengtu dalam satu agama, sebab pandangan di dalam  menafsirkan kotab suci itu  sangat beragam dan  tentu smeua mempunyai argumentasi, sehingga kita tidka boleh memaksakan kehendak terhadap pendapat dan pandangan kota sendiri.

Simnbol simbol yang biasanya dipegang oleh sebagian kelomp[ok untuk membedakan diri dnegan kelompok lainnya, meskipun masih dalam satu agama, justru lebih kuat dan  militan ketimbang perbedaan  dalam hal keyakinan antar agama. Seahrsunya sikap dmeikian  segera dihilangkan dan diganti dnegan sikap kebersamaan dalam perbedaan. Kita juga tidak tahu sesungguhnya  siapapkha yang nangtinya akan masuk surga terlebih dahlu, apakah kota ataukah mereka. Karena itu dialog antara golongan yang mempunyai pandangan berbeda sangat dianjjurkan dan dipelopori oleh para tokohnya, bukan malah mereka membuat jarak untuk terus memelihara perbedaan yang hanya akan menimbulkan perpecahan saja.

Sesungguhnya kita sebagai umat muslim  akan snagat bangga dnegan banyaknya pandangan dan perbedaan pendapat umat, karena itu sesungguuhnya merupakan keberkahan tersendiri jika kita mampu menyikapinya dnegan baik, atau dalam bahasa lainnya sering dikatakan bahwa perbedaan umat itu menjadi rahamat. Artinya umat akan mengatahui lebih anyak tentang hal yang menjadi perbedaan para ulama aehingga mereka akan lebih  mantap dalama memilih dan bertanya kepada banyak orang. Memang kalau kita hanya setengah setengah saja, justru akan membingungkan umat dan bahkan mungkin akan memberikan rasa jemu kepada mereka karena kita tidak mamu bersatu. Nah, karena itu kita memang harus mampu menjelaskan dnegan gamblang kepada umat mengenai hal tersebut sehingga mereka justru akan semakin pintar bukan malah semakin bingung.

Namun dmeikian tentu harus ada yang disepkati bersama  sehingga umat menjadi lebih nyaman dalam menjalankan syariat islam, walaupun  mungkin sampai detik ini belum terjadi kesepakatan, semacam menengtukan awal dan akhir ramadlan mislanya, snagat diperlukan kebersamaan. Karena masing masing kelompok dalam Ilam tidaka boleh mementingkan dirinya dan kelompoknya saja, melainkan harus memikirkan kepentingan umat secara keseluruhan.  Saya yakin kalau mereka mau untuk menemukan titik tertentu, pasyi akan didapatkan, karena persoalan etrsebut merupakan persoalan ijtihadiyah yang sangat mungkin untuk disatukan.  Kalau sam[ai saat ini hal tersebut belum dapat disatukan, maka itu hanyalah persoalan ego yang dipegang oleh masing masing pihak, tanpa mau mencari solusi yang maslahat.

Dalam  kehidupan nyata kita di manapun kita berada, apakah di lingkungan kampung, apakah di lingkungan kantor dan pekerjaan, semuanya dapat dijalankan dnegan penih  kebersamaan dan mengacu kepada moderasi beragama.  Mari kita lihat tentang bagaimana sikap kta dalam memperlakukan   staff apakah kita sudah bersikap tengah tengah, tanpa memandang status sosial, hubungan kekeluargaan dan golongan danlannya? S,euanya dapat ditanyakan kepada masing masing kita sendiri. Artinya jika hal tersebut belum kta jalankan, itu berarti kita memang belum mengamalkan hidup moderat yang harus berbuat adil dan tidak cenderung kepada kelompok tertentu atau kepada sosok tertentu. Memang ada warisan masa lalu yang sulit untuk dihilangkan karena memang rupanya sudah membudaya dan hal tersebut dowatiskan secara turun menurun sehingga memang sulit menghilangkannya.

Akan tetapi jika kita memang berkeinginan untuk menjdaikan islam iu sebagai agama yang akan  membawakan umatnya sebagai umat yang terbaik dan kesejahteraannya juga membaik, maka kta harus berusaha untuk mewujudkannya, tidak ada cara lainnya.  Kta jadikan diri kkta sebagai teladan bagi orang orang di sekitar kita meskipu saat ini meungkin dipandang aneh oleh orang lain, namun kalau kita dapat bertahan, tengtu lama kelamaan mereka akan mengerti juga dan  harapan kta smeua orang akan mengikuti cara yang kita tempuh sehingga modersi beragama yang memang  kita kampenyekan akan benar benar terwujud dengan baik dan bukan hanya berupa selogan semata. Rasanya memang sangat aneh kalau kita terus menerus mendengungkan hidup secara moderat, namun kenyataannya lingkungan kita sendiri dipenuhi dnegan praktek yang tidak mencerminkan hidup moderat.

Dengan niat yang tulus untuk mempraktekkan kehidupan yang moderat dalam beragama serta menjadikan diri kita sebagai teladan dalam mempelopori pelaksanaan tersebut, maka   kita yakin pada saatnya nangti, akan  terjadi sebuah perubahan yang sangat hebat terkait dnegan sikap dan perilaku orang orang di sekitar kita. Semoga kita masih akan mampu menyaksikan kehidupan  masyarakat yang moderat dalam hal beragama dan itu berati hidup dalam hal  dan aspek apapun, karena agama itu  merupakan landsaan dalam menjalankan seluruh aktifitas kita sebagai umat. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.