STUDI ISLAM

Islam itu sangat luas dan tidak cukup hanya mengandalkan satu bidang studi saja, karena kalau itu yang menjadi andalan, maka akan terjadi banyak benturan  yang bahkan mungkin akan salah paham terhadap sesama umat muslim. Sudah banyak terjadi bahwa   pemahaman Islam yang hanya mengandalkan satu bidang keilmuan saja terkadang justru malah akan tampak bertentangan dnegan pemahaman dari sudut pandang lainnya. Itu disebabkan karena sudut islam itu begitu banyak dan luas sehingga memerlukan pemahaman dari berbagai sudut pandang. Obarat berlian yang akan memancarkan cahayanya dari sudut pandang tertentu, maka Islam itu justru malah lebih dari itu. Artinya  orang yang ahli dalam bidanag tertentu akan memandang islam itu menjadi lain jika  orang lain memandangnya dnegan sudut pandangnya sendiri yang  dalam bidnag tertentu dana begitu seterusnya.

Oleh karena itu ada seorang ulama besar doi Indonesia yang pada asa yang lalu mengharamkan ziarah kubur atau mengharamkan tahlil, namun belakangan malah dia sendiri menjalani ziarah kubur dan juga tahlilan. Lalu ketika ditanya tentang  hal tersebut oleh para muridnya, maka jawabannya sangat sederhana dan  sebagai pengakuan atas luasnya islam itu sendiri, yakni dahulu aku mengharamkan yang dmeikian karena yang aku baca baru satu buku, tetapi saat ini setelah aku membaca seribu buku, maka pendapatku menjadi lain, karena  Islam itu ternayat begitu luasnya sehingga tidak tidak bisa mengklaaim kitalah yaang paling benar memahami Islam itu. Kesimpulannya semakin orang banyak membaca  entaang keislaman, maka semakin banyak ilmu yang didapatkannya dan dia akan menjadi semakin bersikap toleran atas banyaknya pandangan tersebut.

Pandangan dana pendapat para ulama dalam islam itu banyak tetapi masing  masing emmpunyai sandaran dan argumentasi masing masing, sehingga  siapapun yang mau membaca dan mengumpulkan berbagai pandangan tersbeut, maka dia akan kaya dan tidak akan mudah untuk menyalahkan pihak lain. Justru yang ada ialah dia akan semakin arif dalam menanggapi perbedaan pendapat dan pandangan tersebut. Aada ulama yang menggambarkan betapa luasnya islam tersbeut dnegan  sederhana ialah dnegan menyuruh kepada beberapa orang buta di malam gelap gulita untuk memberikan definisi tentang gajah, dan mereka dipersilahkan untuk meneliti dan  meraba gajah yang ada, maka kesimpulannya akan berbeda sekali, karena sebagian orang yang hanya memagang dan menemukan kainya, maka dia akan berpendapat bahwa gajah itu bulat tegak seperti tiang, sementara yang memegang kupingnya pasti akan berkata bahwa gajah itu bagaikan kipas, dan begitu seterusnya.

Bagi mereka yang mempertahankan pendapatnya  dan yakin dnegan pendapatnya tersbeut karena menyaksikannya sendiri, pasti juga akan menyalahkan pendapat yang lain, padahal itu semua  ada benarnya dan juga salahnya, karena hanya menyentuh sebagaian kecil dari bagian gajah yang besar. Sama dnegan orang yang hanya mengkaji islam dari sa=tu sisi saja biasanya juga akan gigih menyalahkan pihak lain, karena dalam keyakinannya dia telah meneliti dan melihat dnegana nyata Islam oitu swperti yang dia pahami dan tidak sebagaimana orang katakan.  Padahal kalau  dia kemudian mau membaca semua kesimpulan tentang islam, maka dia akana mampu menyimpulkan bahwa Islam itu sungguh luas dan apa yang dipahaminya itu hanya sebagian kecil saja.

Karena itu saat ini kita tidak heran saat menyaksikan ada  beberapa pihak yang bafru belajar Islam dengan  buku terjemahan dan belum melakukan belajar dnegan menyeluruh pandangan ulama dahulu, biasanya kemudian sangat gigih dalam memeprtahankan pendapatnya yang menyalahkan atau menganggap sesat pihak lain yang pandnagannya tidak sebagaimana yang dipahaminya.  Seharusnya sebagai  umat muslim yang sangat kaya dengan hazanah keilmuan, kita akan mencoba  memehami pandangan para ulama dengan mengetahui pula atrgumentasi yang pergunakand dan tidak alergi dnegan smeua pandangan yang bebeda. Karena dnegan sikap seperti itu, kita justru akan semakin kaya dnegan  pemahaman ulama dalam berbagai bidang keilmuan islam.

Terkadang pengertian dalam satu bidang keilmjuan islam itu juga berbeda maknanya secara substansial dngan keilmuan lainnya dalam islam juga, semisal yang mudah saja ialah kata “sunnah” yang dalam keilmuan  hadis diartikan sebagai segala sesuatu yang datangnya dari Nabi atau segala hal yang dinisbatkan kepada nabi Muhammad saw, sedangkan dalam bidang keilmuan fiqh pengertian menjadi berbeda sekali, yakni segala hal yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa, namun snagat dianjurkan ungtuk dikerjakan. Jadi dengan hanya membandungakan pengertian dan substansi dua keilmuan saja kita  sudah akan mengenal perbedaannya yang sangat  besar, apalagi kalau  sleuruh keilmuan Islam itu kita kumpulkan dan perbandingkan sehingga kita akan semakin mendapatkan keluasan pemahaman dan ilmu.

Memang kita mneyadari bahwa ada beberapa dalil alquran maupun hadis yang jika kita pahami secara sepintas daan secara harfiyah nampaknya akan bertentangan dnegan praktek amalan umat muslim dalam kesehariannya, sehingga kemudian banyak pihak yang menganggpnya prkatek tersebut harus ditinggalkan karena tidak sesuai dnegan sunnah dan bahkan dianggap bid’ah atau sesat. Namun jika kita kemudian mau sedikit mempelajari bagaimana mereka memahaminya dngan menggunakan keilmuan lain yang melengkapi keilmuan  yang ada, maka kita akan menjadi berbeda pendapat denganpendapat kitaterdahulu, karena ada beberapa pertimbangan yang mestinya harus kita sertakan, bukan semata harfiyah yanag tampak secara lahir semata.

Kalau orang mau  sedikit saja memahami  apa yang dilakukan oleh umat dnegan cermat dan tidak tergesa gesa  membuat kesimpulan, tentu tidak akan pernah dnegan  kerasnya mengatakan bahwa mempwerigati maulid nabi Muhammad saw itu bid’ah dan haram hukumnya, tahlilan dan membaca barzanji dan diba’ itu juga bid’ah serta haram hukumnya, membacakan  tahlil untuk orang yang meninggal dunia juga bid’ah dan lainnya. Mungkin  kesimpilan yang tergesa gesa tersbeut hanya melihat bahwa praktek tersbeut tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan karena itu dianggap sebagai bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, sehingga smeua itu dianggapnya juga bid’ah yang sesat dan haram hukumnya. Semoga semakin banyaknya membaca dan mempeelajari pendapat para ulama, kita tidak akan lagi menyaksikan ada orang yang dengan mudahnya menganggap sesat saudaranya sendiri, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.