SIKAP MODERAT DALAM BERAGAMA

Mungkin sudah terlalu banyak orang yanag sudah menulis tentang moderasi beragama karena memang jika beraga  tanpa sikap moderat tentu akan menimbulkan masalah, baik karena  ekstrim ke kanan ataupun ekstrim ke kiri. Mengamalkan ajaran agama memang dibutuhkan sebuaa keyakinan yang kuat sehingga tidak mudah untuk diombang ambingkan oleh pihak lain, yang mungkin dnegan sengaja ingin mengguyangnya atau mungkin inginme ngajaknya ke alirantertentu yang belum pasti kebenarannya. Hanya saja  dalam mengamalkan ajaran agama, kita juga harus mengetahui secara pasti kebenaran sebuah ajaran, karena jika tidak, maka akan mudah pula kita diseret ke jalan yang mungkin tiodak benar.

Banyak bukti saat ini dimana  sebuah ajaran agama lalu diseret ke wilayah lainnya sepeti politik, sehingga dengan berlandaskan agama tersebut seseroang  akan mendapatkan dukungan secara kuat dari pada pengamal agama yang  menganggap bahwa apa yang dijalankannya adalah ajaran agama yang paling benar. Orang dapat saja menjadi radikal hanya karena tidak tahu bagaimana  maksud sesungguhnya dari ajaran agama tertentu dan kemudian  dia dibelokkan   tentang maknanya sehingga  komitmennya yang kuat terhadap agama , lalu mampu mendorongnya berbuat sesuatu yang tidak masuk akal, demi menjalankan perintah agama, katanya.

Akibat dari hal tersebut kemudian muncul anak anak muda yang  sanggup untuk bunuh diri atau membunuh pihak lain yang dianggap kafir dan itu atas nama agama  dan jika kemudian dia meninggal, maka surgalah yang sudah menunggunya. Padahal kalau dipikir dengan nalar yang sehat, mereka tentu tidak akan snaggup untuk menjalankannya, karena para pemimpin atau gur yang mengajari demikian saja tidak berani ungtuk menjalankannya sndiri, dan hanya memanfaatkan mereka yang bodoh mengenai agama lalu ditarik untuk menjadi penjuang agama yang militan tanpa syarat.

Secara umum Allah swt itu Maha  adil  dan maha segalanya, karena itu menurut akal sehat tidak mungkin Allah kemudian memerintahkan umat manusia untuk slaing membunuh hanya karena berbeda keyakinan, padahal mereka seharusnya saling membantu untuk mendapatkan kesejahteraan dan merengkuh karunia Allah swt.  Lalu bagimana dengan perilaku para anak mudah yang snaggup membunuh sesame manusia hanya  diiming imingi akan masuk ke surge yang didalammnya Sudha menunggu para bidadari yang sngat molek?

Kita perlu perihatin kepada mereka dan sehartusnya kita mampu berbuat sesuatu untuk meluruskan mereka atau paling tidak  mengendalikan penyebaran faham yang salah  tersebut. Kiranya perlu diingatkan kepada para  anak muda tersebut bahwa mereka hanyalah dijadikan sebagai tumbal, karena yang mengajari mereka saja tidak berani untuk berbuat membunuh pihak lain dnegan  mengatas namakan agama, lalu  dengan mudahnya mereka melakukan hal yang sama sekali tidak masuk akal seht.

Itu baru dari sisi ekstrim yang  memahami agama ungtuk tujuan politik dan tujuan lainnya. Kita juga menamukan faham yang terlalu longgar dalam menjalankan agama, yakni snagat liberal dan bahkan tidka membedakan anatara agama satu dnegan lainnya karena  smeua itu berasal dari Tuhan yang Maha Kuasa, sehingga dnegan demikian kita tidka perlu membdakan diantara smeua agama. Tnetu ini juga keterlaluan, karena ajaran agama yang dibawa dan diyakini sebagai kebenaran  itu harus menafikan yang lain, meskipun tidak boleh diungkapkan secara terbuka, cukuplah di dalam hati saja, karena kalau kita tidak meyakini kebenaran satu agama saja maka kita akan dibuat tidak mempunyai prinsip tentang sikap kita dan seterusnya.

Mereka yang sanga liberal dalam memahami agama  tentu mempunyai sikap toleransi yang sngat bagus, namun  tengtu itu merupakan sikap yang ketrlaluan dan tidak mempunyai  satu sijkap tertentuyang mencerminkan keyakinannya.  Boleh kita  memahami  dan mengerti tentang ajaran agama lain, nemun kita tidak boleh mencampurkan  antara keyakinan kita dnegan keyakinan mereka, kita j=]harus mengambil sikap tegas, lakum dinukum waliadin. Artinya  kita harus memahami  ajaran agama sebagaimana yang telah diajarkan oleh para ulama zaman dahulu yang mewarisi  daru para guru mereka hingga kepada Nabi Muhammad saw.

Mungkin memang memang mereka beralasan  kebebasan dalam memehami agama, namun tentu kebebasan tersbut harus ada  ukurannya dan prinsip prinsipnya sehingga masih ada batas  yang diperbolehkan dan batas yang tidak boleh dilakukan.  Demikian juga dalam memahami alquran, kita tentu harus mengikuti car acara yang sudah ditempuh oleh para ulama tempo dulu sehingga  meskipun hasilnya tidak sama kalau jalan yang ditempuh  sama  maka itu hal yang  wajar dan dapat diterima oleh akal sehat.

Memang juga tidak dibatasi untuk menutup jalan yang akan ditempuh  dalam memahami isi kandungan alquran, namun tentu harus masuk akal dan berdasarkan kepada tujuan sebagaimana  ditunjukkan oleh nbai Muhammad saw, bukan mencari alternative sendiri yang sama sekali tidakterkait dnegan  warisan para ulama terdahulu, sehingga pemahamannnya menjadi snagat bertentangan dengan  hasil para ulama. Kita tentu masih dapat menerima jalan atau cara yang baik yang dihasilkan secara baik pula karena ilmu it uterus berkembang dan tidak mandek, hanya saja harus  dapat diterima secara nalar sehat, bukan asal baru.

Jadi  beragama itu  harus mampu menempatkan diri dengan baik, yakni tidak terlalu memekasakan diri  untk mendapatkan pemahaman yang disesuaikan dengan tujuan yang sifatnya duniawi atau sementara, atau bahkan sebaliknya tidak terlalu membebaskan akal untuk mengambil kesimpulan yang jauh dari tradisi para ulama dengan dalih pembaharuan dan lainnya. Namun ternyata kita masih menyaksikan betapa banyaknya orang mengalamlkan agama dengan cara ekstrim tersebut, sehingga  membuat kita harus ekstra hati hati dan berusaha untuk meluruskan  bebra[a pihak yang secara nyata tampak menyeleweng dari garis  dan tradisi para ulama zaman dahulu.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.