MENCINTAI DZURRIYYAH NABI SAW

Mungkin bagi sebagian orang ada rasa aneh kalau harus mencintai dan menghormati ketuirunan Nabi Muhammad saw meskipu berkelakuan dan berakhlak buruk, bahkan sering merugikan banyak orang. Namun bagi sebagian ulama tidak menjadi masalah karena  di dalam badan ketrurunan Nabi tersebut ada sebagian daging  dan mengalir darah Nabi, sehingga apapun kondisinya kita memang harus menghormati mereka, terlepas dari akhlak yang ditunjukkannnya, karena  menurut ulama tersbeut bahwa  untuk mencintai itu tidak harus melihat akhlak, melainkan substansinya. Jika kita sudah yakin bahwa seseornag itu termasuk habib atau ketyurunan Nabi Muhammad saw, pastilah kita wajib mengjormati dan memperlalukannya dnegan sangat baik.

Ini memang delimatis, karena satu sisi kita memang harus menghargai dan menghormati kepada siapapun, tidak melihat keturnan siapa, asalkan dia itu berkelakuan baik dan  taat kepada ajaran syariat Islam, maka kita wajib menghargai dna bahkan membantunya. Sebaliknya jika kita menjumpai orang dnegan perangai buruk dan selalu  membuat masalah, terlepas itu keturunan siapa, maka kita tidak akan respek kepadanya. Allah swt saja tidak akan memandang kepada seseornag karena parasnya dan juga kepada  badannya, melainkan yang dilihat dan diperhayikan ialah hatinya. Artinya jika ada orang hatinya baik  dengan mau memberikan kebaikannya untuk semua orang, alias aberakhlak baik, maka kita wajib menghormatinya.

Namun sebagaimana disebutkan di atas ada banyak ulama dalam bidang sufi atau ahli ma’rifat yang justru sebaliknya, yakni jika ada or6ang seburuk apapun perangainya atau akhlaknya, namun kita tahu itu masih keturunan Nabi, maka  kita harus  menghormati dan memperlakukannya dengan sangat baik. Nabi Muhammad saw tentu tidak akan rela jika keturunannya diperlakukan dnegan tidak baik oleh siapapun. Namun sekali lagi kita juga yakin bahwa Nabi Muhammad saw itu pasti akan memaklumi ketika ada keturunannya yang berbuat buruk dan selalu membuat masalah di masyarakat,. Lalu kita tidak menghargainya sedemikian rupa karena memang akhlaknya buruk.

Idealnya keturunan Nabi itu meskipun tidak terlalu pandai, namun tetaplah berakhlak baik sehingga seluruh manusia akan menghargainya dan memperlakukannya dengan baik pula. Namun jika keturunan Nabi berakhlak buruk dan berbuat kesalahan serta fatal, maka akan terasa adil jika kita memperlakukannya  sebagaimana seharusnya, yakni jika dia melanggar aturan yang terkait dnegan  pidana, maka ya harus dihuum sesuai hukum yang berlaku, bukan malah membebaskannya sedemikian rupa, jika melanggar aturan yerkait dnegan hukum perdata maka juga harus diberlakukan hukum yang berlaku sebagaimana kebanyakan orang.

Memang kita dapata mengerti jika keturunan Nabi itu seharusnya berbuat kebaikan dan menjaf=ga dirinya dari segala keburukan, untuk mengharai Nabi sendiri. Akan  tetapi jika justru sebaliknya tentu Nabi sendiri tidak akan menyukainya dan dapat memaklumi kepada umatnya yang kemudian tidak memperlakukannya dnegan baik. Namun stau hal yang harus diketahui bahwa kita membenci itu bukan kepada orangnya, karena semua orang itu dapat berbuat keburukan dan salah, oleh karena itu kebencian dan perlakukan buruk kita kepada orang itu didasarkan atas perbuatan buruknya, bukan semata mata orangnya.

Kebanyakan orang memang bisa salah karena  bukannya membenci perbuatan jahat, melaiankan sudah mengarah kepada membenci orangnya.  Duatu ketika orang jahat otu dapat sadar dan bertobat serta kembali kepada jalan kebenaran, untuk itu jika kita hanya membenci perbuatan buruknya, maka  kita masih dapat berharap bahwa orangnya akan mendapatkan hidayah dari Allah swt dan bahkan kemudian dapat menjadi orang yang sangat alim. Demikian juga keturunan Nabi, ketika kita melihat keburukan pada dirinya, maka kita dapat tidak menyukai perbuatan buruknya dan tidak membiarkannya terus melakukannya, melsinkan harus terus mendoakan agar diberikan kesadaran dan kembali kepada  kebenaran  dan kebaikan.

Kepada dzuriyyah nabi kita memang harus menghormatinya sedemikian rupa tetapi jika  mungkin kita menemukan perbuatan buruk padanya, maka kita boleh membenci perbuatan buruknya tetapi bukan membenci orangnya. Justru kita harus mendoakan agar Allah segera memberikan hidayah Nya, bahkan termasuk siapapun juga  yang kitatahu dia sedang berbuat buruk, maka kita tidka boleh membenci orangnya, melainkan hanya membenci perbuatan buruknya, serta mendoakan agar segara mendapatkan pencerahaan dan hidayah dari Allah swt. Barangkali itu jalan tengah untuk memberikan pandangan atas dua pendapat yang berbeda, yakni tetap harus menghormati keturunan Nabi meskipun buruk akhlaknya, dan pendapaat sebaliknya.

Kenyataannya saat banyak orang yang mengaku ngaku sebagai keturunan Nabi hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi, karena itu kita memang harus memastikan mengenai dzurriyyah Nabi tersebut, jika kita sudha yakin bahwa seseorang itu sebagai keturunan Nabi sebagai habib atau syarifah, maka tengu kita harus memperlakukannya dnegan sangat baik, karena tengtu keturunan Nabi itu akan menjaga dirinya sebagai keturunan Nabi dan tidak akan merendahkan dirinya sebagai orang yang melakukan perbuatan buruk dan akhlak yang tidak terpuji. Bahkan kita dahulu pernah mendapatkan informasi ada orang yang mengaku sebagai keturunan Nabi, namun kemudian ternyata malah melarikan anak gadis orang dan kemudian dihamili diluar nikah.

Kita memamg yakin bahwa  siapapun dapat tergelincir melakukan perbuatan jahat namun kalau benar benar seseornag itu keturunan Nabi, maka pasti dia akan segera bertobat dan melakukan  kebaikan kebaiakn serta bertanggung jawab ata perbuatannya tersbeut. Namun kalau kemudian dia malah melarikan diri  serta tidak mau bertanggung jawab, maka kita yakin itu bukan keturunan nabi. Bahkan secara umum dalam alquran sendiri banyak diinformasikan bahwa  boleh saja keturunan  orang baik, lalu menjadi kafir, sebagaimana anak nabi Nuh, Kan’an yang justru menentang ayahnya sendiri. Isteri Nabi yang kafir juga ada ialah isterinya nabi Luth, ayahnya nabi yang kafir juga ada, yakni ayahnya nabi Ibrahim dan suami orang baik yang kafir juga ada ialah suami Asiah, yakni Firaun dan lainnya.

Semoga apa yang kita putuskan tidak akan menylahi ketentuan sebagaimana telah dijelaskan  dalam syaraiat islam dan kita masih tetap mencintai Nabi dan keturunannya yang baik baik, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.