MEMBUAT SKALA PRIORITAS

Terkadang orang akan dengan mudahnya menyatakan sesuatu, namun setelah mengalaminya sendiri, lalu dengan mudah pula akan mengingkari pernyatannya tersebut. Sebagai conotoh mudahnya ialah pernyataan membuat skala prioritas terhadap tugas dan kewajiban. Tentu semua orang sepakat bahwa kewajiban utama dalm menjalankan tugasnya adalah skala priorotas utama,  dan kewajiban lainnya, apalagi yang hanya sunnah, tentunya akan diberikan skala berikutnya. Namun dalam kenyataannya banyak sekali diantara kita yang melupakan hal tersebut, dan bahkan malahan lebih mementinghkan sesuatu yang sifatnya hanya sunnah saja dan  meninggalkan sesuatu yang wajib utama. Dapat diberikan contoh misalnya  sebagai seorang dosen, maka kewajiban utamanya ialah memberikan kuliah dan membimbing mahasiswa, sedangkan  selainnya seperti mngikuti seminar dan juga mengisi pengajian mislanya, adalah sebuah kesunnahan saja.

Jadi jika terjadi benturan atau  konflik kepentingan diantara  semua itu, kita harus mampu menempatkan skala prioritas kewajiban utama untuk didahulukan, sedangkan sesuatu yang sifatnya hanya sunnah dapat dikalahkan. Dalam kasus tersebut jika kita mendapatkan undangan mengisi pengajian di sebuah tempat yang waktunya berbarengan dnegan waktu mengajar, tentu kita harus memenangkan mengajar dan meninggalkan pengajian, atau mungkin kita diminta untuk menjadi pembicara yang waktunya juga berbarengan dnegan jam mengajar kita, maka seharusnya yang didahulukan ialah mengajar, karena itu kewajiban kita sedangkan menerima undangan untuk sebuah seminar adalah sebuah kesunnahan. Tentu itu semua  terkecuali kalau  memang diminta dan ditugaskan oleh universitas, sehingga itu menjadi kewajiban utama.

Demikian juga dengan konflik diantara mengajar dengan mengerjakan tugas lainnya, seperti memgajukan diri sebagai petugas haji, padahal sudah pernah mengabdi untuk itu, maka  meninggalkan kuliah hanya untuk membimbing haji yangke sekian kalinya, tentu harus dimenanagkan mengisi kuliah kepada mahasiswa. Namun itu trupanya belum menjadi kesepakatan kita semua sehingga masih ada perbedaan pendangan diantara kita, yang memungkinkan  tidak ada kesepakatan. Artinya untuk hal hal seperti itu terkadang kita masih mendahulukan sesuatu yang bukan tugas pokok dan fungsi kita sebagai dosen. Bukan berarti kita tidak noleh mengabdikan diri untuk membimbinga ibadah haji, namun kalau itu hanya sebagai sampaingan saja dan bukan tugas negara, maka itulah yang harus diperhatikan.

Bahkan ketika kita mendapatkan undangan reuni mislanya yang ternyata di kampus kita sedang ada kegiatan yang memanaggil kita untuk berpartisipasi, maka  seharusnya kita lebih mementingkan kegiatan kampus, terkecuali kalau kegiatan kampus tersebut bukan sesuatu yang menjadi  kewajiban kita, maka kita dapat memilih jika tidaka berbarengan dnegan kewajiban kita.  Namun terkadang kita dibuat sulit menentukan dan memilih skala prioritas ,amanakala terjadi benturan kepentinan, semisal, pada saat jam mengajar namun ada kegaiatn kemahasiswaan dan memerlukan partisipasi mahasiswa, sehingga ada semacam instruksi kepada para mahassiwa untuk tidak mengikuti kulaih melainkan mengikuti kegiatan yang sedang dilakukan.

Kalau terjadi benturan speetri itu, maka yang harus dilakukan ialah bagaimana kita tetap ,enjalankan kewajiban, semenetara para mahasiwa juga masih tetap dapat berpartisipasi mengikuti kegiatan. Tentu akan menjadi sulit juga terkecuali kalau kita memberikan alternatif kepada mahasiswa mengenai kegiatan kuliah etrsebut misalnya dnegan tugas tertentu atau dengan memberikan kebebasaan kepada mahasiswa untuk memilih sendiri antara mengikuti kuliah atau mengikuti kegiatan, namun  kita  dapat berbuat adil semisal yang lebih memilih kegiatan, tetap akan dianggap masuk kelas denag tugas khusus. Jadi untuk menentukan skala prioritas itu juga tidak mudaha, karne akan ada banyak kepentingan yang mempengaruhi, namun jika kita konsisten dalam memegang aturan main, tentu akan lebih mudah bagi kita untuk menentukan pilihan tersebut.

Memang kalau dipikir bahwa hidup itu memang pilihan, baik untuk memilih jodoh, memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal, memilih teman, memilih pendidikan, dan lainnya. Semua pilihan tentu ada plus dan minusnya tinggal kita melihatnya seperti apa. Artinya kalau kita lenih mementingkan sesuatu yang kita anggap lebih penting, maka kita akan terselamatkan oleh pilihan kita, namun jika kita menganggapnya  mudah dan  sesuka hati memilih, maka mungkin kiya akan menghadapi kesulitan tersendiri pada saatnya. Karena itu dalam menentukan pilihan kita memang harus mempertimbangkannya dnegan matang dan selalu memohon petunjuk dari Allah swt agar apa yang kita tentukan menjadi yang terbaik bagi kita dan bagi banyak orang.

Kembali kepada persoalan menentukan skala prioritas sebagaimana di awal, kita memang dipaksa untuk menentukan skala tersebut kalau kita menginginkan segalanya akan berjalan dengan baik dan teratur. Sudah barang pasti apapun yang kita pilih dan tentukan semuanya akan kitatanggung akibatnya. Artinya kalau kita menentukannya dnegan pertimbangan matang, maka kita juga akan mendapatkan hasil yang maksimal dan baik akibatnya, dan sebaliknya jika kita menentukan dnegan serampangan, maka snagat munhkin kita akan menyesali  pada akhirnya. Trkadang kalau kita tidak mengikuti skala prioritas, malahan kita akan melanggar aturan dan ketentuan yang sudah digariskan, baik oleh agama maupun oleh pemangku kebijakan dan lainnya.

Jika kita memang berkeinginan untuk hidup secara tertib dan baik, tentunya kkta juga akan dengan mudah menengukan pilihan dan skala prioritas etrsebut, apalagi kalau kita selalu memlhon petolongan kepada Tuhan dan selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik. Kita sangat yakin bahwa  Tuhan pasti akan mengabulkan permohonan yang tulus dan selalu diupayakan. Jangankan hanya meminya dibimbing untuk menenukan skala prioritas, untuk hal hal yang lebih besar saja kita pasti akan mampu untuk meraihnya  bersama dengan keridlaan Tuhan. Semoga apa yang kita upayakan akan senantiasa berakibat baikk bagi kita dan  kita akan meraih kesuksesan bersama dengan menjalankan semuanya dnegan baik dan penuh pertimbangan matang, semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.