PEDULI TERHADAP KETERTIBAN

Mungkin kalau ditanyakan kepada smeua orang tentan peelu atau tidaknya hidup secara tertib, semuanya akan menjawab dengan tegas, sangat perlu. Namun apakah jawaban tersebut sesuai dnegan sikap dan perilaku mereka? Jawabananya juga tegas tidak. Hal tersebut disebabkan banyak orang yang secara formal menyatakan ingin hidup tertib, akan tetapi perbuatannya sangat jauh darai kata tertib. Bahkan dalam kehidupan kesehariannya juga snagat mencerminkan ketidak tertiban, seperti membuang sampah di sembarang tempat, bahkan di tengah jalan. Saat mengendaarai mobil mislanya, pada saat sudah sampai di perempatan jalan dan ada lampu merah, lalu  tengok kanan kiri dan jika sepi dan tidak ada polisi, lalu dnegan santainya melenggang dan tidak mempedulikan lampu merah yang sedang menyala.

Demikian juga pada saat berjalan kai dan akan menyebarang juga tidak mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan, sehingga akan mengganggu  pengendara  dan pengguna jalan lainnya. Demikian juga pada saat memarkir kendaraannya juga sama sekalai tidak mengingat kepada pemarkir lainnya sehingga saat orang lain akan keluar dari parkir harus terhalang oleh parkir yang sembarangan. Tentu masih snagat banyak lagi perilku tidak tertib yang ditunjukkan oleh orang orang yang secara formal ingin hidup tertib. Kalau dmeikian halnya,  lalu bagaimana mungkin akan tercipta sebuah ketertiban di lingkungan kita? Boleh jadi apa yang menjadi pengetahuan mereka  sesungguhnya belum dihayati dan dicerna dnegan baik oleh nurani mereka sehingga apa yang sudah menjadi pengetahuan pun masih harus lepas dari perilaku kesehariannya.

Pada saat antri ingin membeli sesuatu pun terkadang masih kita temui orang orang yang suka menerobos  untuk mendapatkan giliran lebih dahulu atau lainnya. Namun secara berangsur sesungguhnya sistem  yang sudah ada di sekitar kita sudaha lebih baik dan mengarah kepada kehidupan yang tertib. Semisal terkait dnegan tiket kereta api yang sudah on line dan semua penumpang akan mendapatkan tempata duduk  sehingga mereka yang tidak emmbeli tiket, maka tidak akan dapat naik kereta dan tidak dapat duduk. Lain dnegan zaman dahulu yang membeli tiketnya juga harus antri berjubel dan untuk masuk ke dalam gerbong  kereta mereka juga harus berebut agar mendapatkan tempat duduk atau kursi. Bantangkali yang masih berebut saat ini ialah bus  umum yang  masih memberikan pilihan kepada para penumpnagnya untuk memeilih sendiri tempat duduknya setelah masuk di dalam.

Barangkali ke depannya akan diupayakan  setiap enumpang harus membeli yiket terlebih dahulu dan sudah ada tempat duduknya sehingga smeuanya akan nyaman dan yidak perlu berdesakan dan rebutan kursi. Memang sesuatu yang sifatnya umum akan jauh sulit untuk diatur menjadi tertib, namun jika kita sepakat dan berkomitmen untuk hidup tertib, apapun  rintangannya pasyi akan dapat kita wujudkan. Kalau di negara tetangga kita mampu melakukan hal itu menagapa kita tidaka? Tentu itu menjadi PR bagi kita semua dan para pemangku kebijakan untuk mencatikan solusi, meskipun secara  sedikit demi sedikit. Alangkah indahnya hidup ini jika smeuanya mau tertib dan  jika  salah dan tidak tertib akan dnegan rela hati untuk didenda sebagaimana yang sudah berlakau di beberapa negara tetnagga kita.

Jalan raya juga sudah diberi tambu dan marka jalan, tujuannya ialah agar semua pengendara akan mengiktui aturan main tersebut sehingga akan gterlihat rapi dan tertib, namun sekali lagi  di lingkungan kita ternyata masih banyak pihak yang suka melanggar aturan main, khususnya terkait dnegannaturan berlalu lintas. Mungkin juga salah satunya ialah disebabkan oleh yidak konsistennya para petugas dalam menindak dan memberikan sanksi. Sebab dalam kenyataannya ada  pelangar yang cukup diibiarkan saja, ada sebai=giannya yang diyindak ringan dnegan memberikan teguran d=saja tetapi kenyataannya juga ada yang diilang hingga sidang di pengadilan.

Kalau memang aturannya setiap pelanggaran harus diberikan sanksi, maka berlakukanlah secara adil dan konsisten, sehingga smeua orang akan patuh dan memberikan respek terhadap aturan yang berlaku. Namun kalau dalam kenyataannya masih ada pelanggar yang dibiarkan melenggang saja, maka pihak lain tentu akan tidak memberikan apresisasinya dan pada saatnya juga akan melakukan pelanggaran serupa. Untuk menciptakana sebuah ketertiban di masyarakat, tentu tidak mudaha terkecualai kalau seluruh komponen masyarakat sepakat untuk mewujudkannya dan meka semua akan mendukung aturan dan  akan menjadikan diri mereka sebagai contoh kongkrit pelaksanaan ketertiban tersebut.

Barangkali kita saat juga dapata memulainya dari dalam rumah tangga kita masing masing, misalnya kita akan tertib dalam menjalankan aturan main yang kita buat sendiri di rumah, gtermasuk anak anak, sehingga mereka nantinya diharapkan akan terbiasa dengan kehidupan yang tertib, semacam dijadual, kapan belajar, kapan boleh menonton tv, kapana mereka harus mandi santai serta kapan mereka harus makan bersama. Tentu setiap aturan ada perkecualiannya, namun itu hanya sedikit saja dan hanya temporal. Jika kita sudah terbiasa dengan aturan yang kita buat  senidiri, maka kita akan mudah juga untuk menjalankan aturan main yang ditetapkan oleh pihak lain.

Nah, jika  hal tersebut sudah biasa kita jalankan, maka  kemungkinan besarnya ialah kita akan lebih mudah untuk menciptakan  ketertiban di lingkungan kita, apakah lingkungan kerja ataukah lingkungan sosial  dan lainnya. Segala sesuatu memang harus ditempatkan pada tempat yang semestinya karena itu akan mendukung ketertiban yang sedanag kita  usahakan.  Kalau kita berharap terlalu banyakkepada pemerintah  untuk memberikan penekanan kepada masyarakat tentang sanksi yang diberlaukan, maka itu masih akana terlalu sulit dan mungkin  dalam waktu dekat tiodak akan mungkin terlaksana. Memang idealnya  pemerintah akan memberlakukan sanksi bagi siapapun yang tidak tertib dalam perilakunya khususnya yang terkait dengan wilayah publik, namun sekali lagi untuk kita riupanya  akan snagat suliot direalisasikan. Wallahu a’lam.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.