SHALAT DLUHA

Kita mengetahui bahwa shalat dluha itu dilaksanakan pada pagi hari dan biasnaya dikenal sebagai shalat untuk memohon rizki kepada Allah swt. Apa yang diketahui oleh umat sebagaimana tersbeut sesungguhnya tidak terlalu salah, hanya saja  seharusnya bukan dimaknai sebagai shalat meminta rizki, sebab shalat itu merupakan doa dan pengabdian kita kepada Allah swt. Memang doa setelah menjalankan shaat dluha biasnaya terkait dnegan pemohonan diberikan rizki, baik yang ada di bumi, di langit di udara, dan lainnya, namun itu hanyalah doa sehingga dalam shalat kapanpun dan  shalat apapun, kita diperbolehkan untuk berdoa memohon kepada Allah diberikan keluasan rizki dan lainnya.

Shalat Dluha memang dimaksudkan  sebagai bentu pengabdian kita pada pagi hari, sebab di pagi hai biasnay orang hanya bekerja mencari rizki, makanya kemudian kita dianjurkan ungtuk shalat dan berdoa kepada Allah swt dan setelah itu barulah mencari rizki secara riil dalam bidang apapun. Dengan menjalankan shalat diharapkan hati dan pikiran kita menjadi tenang sehingga saat bekerja pun kita tetap akan menjadi tenang dan bahagia, serta dengan kondisi demikian  kinerja kita akan menjadi maksimal dan menghasilkan banyak manfaat. Jadi jangan disempitkan bahwa shalat dluha itu hanya shalat untuk kepentingan meminta rizki dari Tuhan.

Bahkan  kemudian muncul anggapan bahwa tanpa harus berusaha bekerja pun kalau orang rajn shalat dluha maka akan diberikan harta yang banyak oleh Allah swt. Ini snagta berbahaya, karena orang akan menjadi malas dan hanya berharap dnegan shalat dluha saja. Ini namanya sudah menjadikan shalat yang sesunggunnya pengabdian kita kepada Allah swwt dijadikan sebagai wahana untuk  berbargaining dengan Allah tentang rizki. Tengtu itu salah besar karena hanya beranggapa bahwa shalat dluha tersebut hanya shalat untuk peentingan meminta rizki saja sudah salah apalagi kalau kemudian dibarengi dnegan upaya untuk menghentikan upaya nyata mencari rizki dan hanya  mengandalkan shalat saja.

Mencari rizki itu wajib bagi kita, karena dnegan begitu kita akan mampu hidup  yakni dengan hasil kerja tersebut kita akan mampu membeli makanan, baik untik diri kita, dan juga keluarga,. Dengan hasil kerja iytu pulalah kita juga akan mampu membeli pakaian, untuk kepentingan papan, unti kesehatan untuk pendidikan dan lainnya. Lalu bagaimana kalau kita tidak bekerja dan hanya shalat saja. Namun sebalinya hanya bekerja saja tanpa mau mengabdikan diri kepada Allah melalui menjalanikan shalat lima waktu dan shalat sunnah lainnya, maka itu justru akan membuat diri kita akan  selalu bergantung kepada dunia dan bukan lagi percaya kepada kekuatan Allah swt.

Kita harus ingat bahwa  tujuan kita diciptakan oleh Allah di atas dunia ini ialah hanya semat mata untuk mengabdikan diri kita kepada Allah swt, namun bukan berarti pengabdian tersbeut hanya berupa  ibadah mahdlah agtau shalat saja, melainkan sleuruh aktifitas kehidupan kita  di dunia  sesungguhnya dapat bermakna ibadah atau pengabdian. Karena itu semua apa yang kita lakukan seharusnya diniati mengabdi kepada Allah swt, sehingga akan teris tertuntun pada jalan yang benar dna bukan jalan sesat dan cendeung merugikan banyak orang.  Aplikasi pengabdian kita kepada Allah swt sesungguhnya dapat terefleksikan  dalam banyak hal, bahkan dalam smeua aktifitas, terkecuali aktifitas maksiat, karena ibadah itu tidak akan dapat disatukan dnegan maksiat.

Namun perlu juga kita sesalkan karena meskipun banyak orang menyamakan antara shalat dluha dengan meminta rizki, namun nyatanya juga belum banyak orang yang menjalaninya. Apa mungkin sudah banyak orang yang tidak lagi mempercayai syariat islam?  Kalau kita pertanyakan demikian biasnya orang kemudian tidak menerimanya karena mereka secara lahir pasti masih akan membenarkan ajaran syariat tersebut, namun kalau kenyataanhya mereka tidka menyukai menjalankannya, maka  kita harus menyimpulkan apa terhafap kenyataan tersebut. Boleh jadi mereka meyakini namun merka enggan untuk menajlankannya karena  mereka  dalam kenyatananya belum menyakini benar tentang ajaran tersebut.

Sikap umat yang dmeikian sesungguhnya tidak aneh, karena dalam bidang lainnya semacam  dalam hal sedekah Allah swt dan juga Rasulullah saw  terlalu banyak menyontohkan dan mempraktekkannya, namun  masih terlalu banyak orang yang tidak mau menjalaninya. Pati kalau kita tanyakan bukan karena mereka tidak mempercayainya, melainkan hanya secara  nyata mereka tidak terlalu memperhatikannya.  Dalam bersedkah  sudha dikatakan siapapun yang mau bersedekah satu saja, maka akan dinalas dengan sepuluh kali lipat dan ada jaminan bahwa sedekah tidak akan membuat seseornag menjadi miskin. Namun kenyataannya tidka banyak orang tertarik.

Sebaliknya jika ada sebuah investasi menawarkan  bunga hanya 5 % sana maka akan banyak orang berbondong bondong mendatanginya. Lantas apa artinya ini smeua? Dalam kenyataannya masyarakat atau umat secara umum masih akan mempercayai apa yang dapat dilihat secara kasat mata dan instan ketimbang sesuatu yang dijanjikan, meskipun  janji tersbeut benar adanya. Ini sungguh memprihatikan  khususnya jika dinisbatkan kepada umat muslim yang seharusnya lebih memilih apa yang ditawarkan oleh syariatnya ketimbang yang ditawarkan oleh pihak lain, bahkan pihak lain tersbeut terbukti banyak menipu dan tidka konsisten.

Kembali kepada  shalat dluha tersebut, sudah waktunya kita harus mensosialisasikan kepada umat khususnya kepada keluarga kita agar mereka membiasakan diri menjalan shalat dluha, karena bagaimana pun shalat itu penting bagi kta untuk terus mendekatkan diri kita kepada Allah swt.  Kalau kemudian doa setelah shalat dluha adalah dalam upaya kita meminta kelapangan rizki, maka itu akan membantu meyakinkan dan semangat kita dalam mendapatkan rizki dan usaha kita  untuk itu. Karena itu tidak ada alasan lain bagi kita semua terkecuali harus terus menjalaninya dnegan tulus dan hanya karena Allah semata, bukan karena rizki. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.