MEMAKNAI BA’AH

Kita  sangat paham dengan sebuah hadis Nabi yang menganjurkan para pemuda untuk segera menikah, yakni saabda Nabi “wahai sekalian para pemudah barang siapa diantara kalian sudah mampu dengan  ba’ah, maka hendaklaaha segera menikah karena menikah itu akan dapat menjaga mata dan kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penawar atau obat. Nah,  persoalannya ialah apa makna dana maksud dari perkataan Nabi tersebut yang berbunyai ba’ah. Menurut penafsiran para ulama arti ba’ah tersebut ialah muknatun nikaah atau ongkos nikah. Namun benarkah maksudnya dmeikian?

Menikah itu bukan seperti definisi yang sering dikatakan oleh para ulama terdahulu, yakni sebuah akad yang menghalalkan berkumpul antara laki laki dan perempuan aqdun yuhillu al wath’a. melainkan justru harus dimaknai yang lebih snatun sebagaimana disebutkan dalam surat a;-Rum ayat ke 21, yakni ada tujuan yang mulia, yakni untuk membentuk keluarga yang  sakinah, mawaddah dan rahmah. Undang undang nomor 1  tahun 1974 tentang perkawinan juga telah memberikan definisi yang lebih baik, yakni  sebuah ikatan antara seorang laki laki dan perempuan  untuk membentuk  keluarga yang Bahagia yang kekal berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa.

Mengingat smeua itu maka sesungguhnya perintah menikah itu  ialah agar seseornag dapat tenang hidupnya dalama sebuah rumah tangga yang Bahagia, sehingga tidak mungkin kalau kata ba’ah tersbeut hanya dimaknai sebagai ongkos menikah atau akad nikah saja, karena kalau  hanya mendapatkan ongkos nikah tentu akan snagat ringan, namuan setelah menikah lalu harus berbuat apa?. Untuk itu seharusnya kata ba’ah harus diartikan secara lebih luas yakni ongkos untuk menikah sejak pelaksanaan akad hingga membentuk keluarga yang sejahtera sebagaimana tujuan menikah itu sendiri.

Jika dikaitkan dnegan saat ini barangkali ba’ah itu dapat dikatakan sebagai bekal yang berupa usaha atau pekerjaan yang diperkirakan akan dapat dijadikan sebagai  sarana untuk membentuk keluarga yang Bahagia tersebut dan bukan hanya ongkos akad nikah semata.  Kita juga dapata melihat bahwa banyak diantara orang yang hanya bermodal ongkos nikah  atau akad nikah saja, lelu kehidupan rumah tangganya  amburadul dan akhirnya  retak dan cerai. Padahal itu bukan merupakan keinginan dan tujuan dalam sebuah pernikahan.

Karena  itu kalimat sete;aah itu harus juga diperhatiakn, yakni barang siapa yang tidak atau belum mampu untuk ba’ah tersbeut, hendaklah berpuasa karena puas atersbeut akan dapat menjadi penawar  untuk menunda nikah sehingga tidka tercebur dalam kemaksiatan zina  misalnya. Tentu  berpuasa  merupakan salah satunya, mungkin saat ini sduah banyak cara untuk mengendalikan nafsu untuk menikah tersbeut jika memang belum sanggup untuk membiayai pernikahan hingga membentuk keluarga yang Bahagia tersebut.

Jika dikaitkan lebih lanjut tentang anak keturunan yang nantinya akan dihasilkan juga kita harus emmbekali mereka dengan  bekal yang mampu menjadikana mereka bertahan dalam kehidupannya, semecam pendidikan, dan juga  harta. Pernah nabi  Muhammad saw mewanti wanati kepada umatnya agar tidak meninggalkan keturunannya dalam kondisi papa dan meminta minta, sebaliknya  hendaklah meninggalkan anak anak dnegan kondisi yang sangat mungkin untuk mampu hidup dalam alam yang serba kompetitif tersebut.

Untuk itu sekali lagi kita harus merumuskan makna ba’ah tersebut dnegan kemampuan untuk mengongkosi pernikahan sejak pelaksaana akad nikah hingga membentuk kelurag yang diidamkan sebagaimana tujuan pernikahan itu sendiri. Kalau diartikan seperti itu maka  apa yang disabdakan oleh Nabi tersbeut memang sangat masuk akal dan bukan asal dapat menikah saja, sementara kehidupan selanjutnya tidaka pernah disinggung dan bahas. Jangan jangan malahan akan semakin menderita karena ketidak mampuan dalam hal nafkah lahir kepada keluarganya.

Nabi dalam kesempatan lain memang menyatakan bahwa anjuran menikah tersbeut juga dikandung maksud agar umat beliau semakin banyak, namun tentu yang bekualitas, bukan hanya secara kuantitas semata. Memang beliua mengtatakan bahwa di akhirat nanti beliau akan snagat bangga dengan banyaknya umat eliau dihadapan para Nabi lainnya. Akan tetapi jika banyak tetapi tidka berkualitas, justru akan memalukan. Bayangkan saja jumlah banyak yang tidak berkualitas dalam bidang apapun tentu akan menjadi masalah tersendiri, bukan malah menyelesaikan masalah.

Beliau menginginkan umatnya tentu menjadi umat yang berkualitas dalam  imunya dalam ibadahnya, dalam amaloyahnya dan dalam hal hal baik lainnya, sehingga umat yang dmeikinalha yang dapat dibanggakan. Karena itu sekali lagi untuk menciptakan umat yang berkualitas tersbeut tentu dibtuhakna mu’nah atau ba’ah  yang ongkos untuk menuju ke sana. Hidup dalama sebuah keluarga tentu butuh banyak biaya untuk makan sehari hari, untuk sandang, untuk papan, untuk pendidikan, untuk kesehatan dana lainnya. Nah semua itu harus disiapkan sebelum menjalaninya, meskipun pada saat sudah ebrjalan juga harus terus mengupayakan penambahannya.

Hanya saja kita terus diingatkan bahwa mencari rizki itu penting, tetapi tetap mengabdikan diri kepada Allah itu jauh lebi penting, untuk itu dalam mencari rizki, kita tidaka boleh meluipakan kewajiban lainnya, khususnya yang terkait dnegan hubungan kita kepada Allah swt, kepada orang gtua, kepada  tetangga dan pihak lainnya.  Dalam kata yang  lebih singkat kita juga harus tetap besedkah meskipun kita memerlukan harta yang kita usahakan, karena sesungguhnya di dalam rizki kita tersbeut ada hak mereka yang kurang mampu, sehingga harus diberikan.

Kembali kepada makna ba’ah tersebut kita sudah snagat yakin bahwa maksudnya ialah ongkos untuk menikah dan pasca nikah sehingga kehidupan rumah tangganya akan dapat ebrjalan sebagaimana  yang diharapkan. Kalaupun dalam perjalanannya ada permasalahan  itu bukan disengaja dan kalau terus berusaha dan selalu bersabar, maka Allah pasti akan memberikan pertolongan dan kemudahan. Semoga kita akan  memahamkan kepada sleuruh umat tentang makna ba’ah tersbeut sehingga mereka akan benar benar siap dalam emmasuki jenjang pernikahannya, smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.