YANG TERSISA DARI HARI SANTRI

Hari santri memang merupakan hari yang sangat disyukuri oleh kalangan santri, karena adanya pengakuan negara terhadap pesantren yang dahul;u hanya dipandang sebelah oleh sebagian orang, padahal perannya dalam memerdekakan negara dan mempertahankannya dari penjajah begitu hebatnya. Bahkan saat presiden akan meresmikan hari santri nasional pun masih banyak kalangan yang meragukan dan bahkan menentangnya. Namun  seiring dnegan berlalunya waktu, alhamdulillah saat ini hari snatri nasional tersbeut sudah diakui oleh seluruh anak bangsa.

Hanya saja kemudian pertanyaannya ialah bagaimana memperlakukan hari snatri tersbeut? Apakah hanya sekedra hura hura bersenang senang karena sudah ada hari santri, sehingga diperlukan peringatan yang sedemikian horoik dan menghabiskan banyak anhgaran?. Dalam mmeperingatai hari snatri kematin saja itu kita sudah sedikit was was, jangan jangan ke depannya nanti malah lebih mementingkan kulitnya ketimbang esensinya. Kita menyaksikan betapa banyak peringatan hari santri tersebut yang dilakukan oleh kalangan  santri, namun rupanya merka belum menangkap makna di dalamnya.

Mungkin unyuk sementara ini kita masih dapat memahaminya karena baru beberapa tahu diberikan  HSN etrsebut oleh pemerintah, namun kita tidak boleh hanya   terlena dnegan  hal tersbeut, melainkan kita harus mampu membuktyikan bahwa santri itu memang  dirindukan kehdirannya di bumi pertiwi ini. Esesnsi santri harus dikemukakan dan dimunculkan dalam  sikap setiap santri dan bahkan seluruh anak bangsa ini.  Harapan selanjutnya ialah bahwa  negari ini akan  mampu bangkit dari segala hal yang negatif  untuk segera meweujudkan kesejahteraan seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

Kita menyaksikan  banyak diantara santri dan orang awam yang memeprringati HSN tersebut hanya sekedar hura hura dan bersenang senang, dan bukan memikirkna bagaimana sifat sifat snatri yang sesungguhnya diupayakan untuk diwujudkan dalam perilaku setiap anak bangsa. Bahkan juga terkesan kemudian yang mengemuka ialah label lahitiyyah santri yakni satung. Kita memang tidak senag mengkritik tentang pakaian saung, karena identitas santri salah satunya ialah sarungan, dna saat ini sarungan bukan lagi tabu melainkan sudah menjadi bus=daya yang banyak digemaro oleh banyak kalangan, namun  untuk HSN bukanlah hanya sarungan, apalagi kemudian memaksakan untuk memakai sarung saat bekerja dan lainnya.

Pada saat memperingati hari snatri memang boleh memakai saung dan itu baik baik saja, hanya saja kalau kemudian menghatruskan memakai sarung saat bekrrja tentu merupakan hal yang dapat  berakibat timbulnya masalah. Persoalanpakaian tentu merupakan sebuah  kewenangan masing masing orang, karena yang dituntut ialah menutup aurat dan tidak menimbulkan rangsangan yang bersifat birahi kepada pihak lain.  Selanjutnya mungkin juga ada upaya untuk menseragamkan pada hari hari tertentu demi ketrtibandan dan  kenyamanan.

Seharusnya  yang kita tam[ilkan ialah bagimana kita berusaha untuk menanamkan sifat sifat santri dalam lingkungan kita, semacam ketulusan dalam setiap perbuatan dan pekerjaan,  selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita,  selalu berdisiplin, taat kepada kiyai, komitmen menjalankan  amanah dan tanggung jawab dnegan sebaik baiknya, dan menjauhi semua bentuk kemaksiatan. Barangkali tidak harus sekaligus, melainkan ada tekanan  terhadap satu sifat yang dianggap dapat mempengaruhi  sifat lainnya.

Santri dengan segala dinamikanya  memang terkadang sangat nyeleneh namun tetap masih dapat dipertanggung jawabkan perbuatannya, terkecuali santri yang sudah keluar dari koridor kesantrian tentunya. Senakal nakalnya snatri biasanya masih tetap memagang komitmen untuk tetap menjalankan kewajiban  yang ditetapkan oleh Allah swt dan tidak berani melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh kiyainya.  Kita memang  terkadang menyaksian betapa ada santri yang  tidak mengaji, yang tidak mengikuti jamaah shalat wajib, yang suka menonton dan suka keluyuran. Namun semua itu hanyalah proses yang memang sedang dijalani oleh santri, dan pada saatnya mereka akan  kembali kepada habitatnya, yakni mengikuti apapun aturan pesantren.

Karaklter santti itu begitu kuat  dan selalu akan mengutamakan kepentingan banyak orang dari pada kepentingannya sendiri. Itulah yang seharusnya dimunculkan pada saat memperingati hari santri, bukan hanya sekedar mengedepankan soal pakaian sarung saja.  Sarung sebagaimana pakaian khas lainnya boleh dipakai lebih lebih pada saat memperingati hari snatri, namun sekali lagi sebaiknyatidak dipaksakan kepada semua orang khususnya pada saat bekerja, bukan pada saat upacara peringatan hari santri tersebut.

Jiia mengingat kebanyakan santri zaman dahulu yang memperjuangkan kemerdekaan dan membelanya dari penjajah, adalah kebanyakan orang orang desa dan miskin, maka sebagai hal yang snagat  terpuji jika dalam memepringati hari santri saat ini dan seterusnya kita lebih mementingkan untuk mengump[ulkan sumbangan uang untuk membantu dan memebrikan bea siswa kepada para snatri  di pondok pesntrean yang memang kekurangan biaya untuk meneruskan   mondoknya mencari ilmu. Kita juga yakin bahwa saat ini masih banyak santri miskin yang membutuhkan uluranntangan para aghniya’ agar mereka mampu melanjtkan studinya.

Kita juga harus  gencar untuk mengkampanyekan  kepada dunia tentang keberadaan santri yang sudah berbeda dnegan kebaradaan mereka zaman dahulu yang selalu digambarkan sebagai kumuh, jorok, dan juga gudiken. Pesantrean saat ini sudah bersih kondisinya dan kebrsihan juga selalu dijaga dan  penyakit kulit yang biasa menghinggapi para santri saat ini juga sudah tidak ada. Ini menjadi sangat pemting, karena  kalau snatri diangga[ sebagi kolot dan  sangat tradisional, maka  pikiran cemerlang apapun, akan diabaikan dan bahkan sebelum dipahami sudah akan dicampakkan.

Untuk itu sekali lagi kita memang harus melakukan pembelaan santri  di dunia luar agar kita nyaman dalam memperluas pemikiran dan cakrawala akademik di kalangan para cendikiawan dunia. Semoga ke depan  santti akan semakin menampakkan keberdayaannya dan  secara  pelan tetapi pastyi akan semakin diakui keberadaannya oleh kalangan yang saat ini masih meragukan keberadaannya, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.